The Night Without Dawn Part II
Jauh dari kuburan Rosenkrantz dan toko jam yang telah dipisahkan dari ruang biasa, hutan Averion hampir tidak mengeluarkan suara.
Di bagian terdalamnya berdiri sebuah gereja sederhana.
Lucien Seraphim duduk di bangku paling depan, berdoa kepada sesuatu yang bahkan tidak sepenuhnya dapat ia beri nama.
Gereja itu berdiri jauh dari permukiman. Tidak ada suara umat, tidak ada lalu lintas, hanya bangunan sederhana di antara pepohonan. Lucien memilih duduk di bangku paling depan dan berdoa dengan khidmat meski ia sendiri belum mampu menjawab kepada siapa doa tersebut benar-benar ditujukan.
Sejak keyakinannya mulai retak, hidup beragama berubah fungsi. Ia tidak lagi menganggap iman sebagai jawaban yang selalu mutlak, tetapi sebagai tempat menaruh beban yang terlalu berat dipikul sendirian. Kepercayaan kepada sesama Gale telah berkali-kali mengkhianatinya. Berada satu gereja dengan orang-orang yang dulu menyakitinya hanya membuat napas terasa sempit. Karena itu Lucien pernah menciptakan sosok Messiah baru—sesuatu yang dapat ia percaya tanpa harus mempercayai masyarakat di sekelilingnya.
Belakangan kekuatan penyembuhan yang berasal dari tubuh sosok itu semakin lemah. Tepat ketika Lucien mempertanyakan semuanya, seseorang dengan aura serupa datang kembali kepadanya.
Ia pernah kehilangan kepercayaan kepada sesama Gale. Ia pernah mencoba mengganti kekosongan itu dengan sosok baru yang dapat dipercayai. Dan sekarang, setelah begitu banyak kejadian, keyakinannya sendiri mulai berubah bentuk.
Pintu gereja terbuka.
Seorang lelaki berambut pirang masuk tanpa sayap dan tanpa tanduk. Penampilannya terlalu manusiawi untuk Gale, terlalu bersih dari ciri Terra.
Gabriel—yang di dunia lain lebih sering menggunakan nama Thrift Holmes—telah mengikuti pancaran energi familier sampai ke tempat itu.
Energi saudaranya.
Raphael.
Ia duduk di samping Lucien dengan rokok mati masih terselip di antara bibir.
Lucien selesai berdoa lalu bersandar.
"Kau kembali. Apa urusanmu sudah selesai?"
Thrift menyibak poni dengan kasar.
"Belum. Tapi aku tidak bisa kembali karena terhalang oleh sesuatu."
Thrift menyibak poni dengan gerakan frustrasi. Ia bukan hanya tidak bisa kembali; ia juga memikirkan orang-orang yang tertinggal di kapal. Mereka sudah belajar banyak mengenai teknologi antar-semesta, tetapi belum cukup untuk membuatnya tenang jika harus mengendalikan semuanya tanpa dirinya. Asteroid, gravitasi bintang, kerusakan navigasi—terlalu banyak kemungkinan buruk yang segera ia paksa keluar dari kepala agar tidak menjadi jinx.
Ia kemudian bertanya apakah Lucien sudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengganggunya. Lucien menjawab panjang, karena baginya pertanyaan tentang iman memang tidak pernah punya jawaban satu kalimat.
Penghalang Tedros menutup akses antara Averion dan kapal antar-semesta. Thrift sudah berada di dunia ini sejak sebelumnya; masalahnya bukan bagaimana ia datang ke gereja, melainkan bagaimana ia kembali kepada mereka yang menunggunya.
"Apa kau sudah menemukan jawaban dari pertanyaanmu?" tanyanya.
Lucien menghela napas.
"Hidup beragama bagiku lebih seperti sarana ketenangan batin dan media penghiburan jiwa," lanjut Lucien. "Tidak semua orang cukup kuat menanggung semuanya sendiri. Sebagian butuh tempat berkeluh-kesah, tempat bersandar, tetapi pada sesuatu yang lebih tinggi karena mempercayai sesama ras terlalu berisiko. Itu juga berlaku padaku."
Ia mengakui bagaimana para pemuka agama yang seharusnya mengulurkan tangan justru tidak hadir ketika dirinya membutuhkan. Sosok yang kemudian ia anggap Messiah-lah yang menjadi penyelamat, meskipun penyelamatan tersebut mungkin tidak pernah dimaksudkan sebagai mukjizat.
"Aku tidak menyalahkan Enigma yang pernah kusembah. Tetapi bersanding dengan orang-orang yang mengkhianatiku di gereja yang sama terasa menyesakkan. Itu sebabnya aku membentuk sesuatu yang baru untuk dipercayai. Dan sekarang, kau datang dengan aura yang sama seperti pemilik tubuh itu. Kau bukan Gale, bukan Terra, dan juga menyangkal saat kukira Enigma."
Lucien merogoh saku.
Ia menarik tangan Thrift dan menaruh kunci serta secarik denah di telapaknya.
"Mungkin aku sudah melewati batas dalam mengeksploitasi tubuh orang yang sudah meninggal. Jadi aku tidak punya hak mencegahmu membawa dia 'pulang'. Dia ada di basement. Ini denahnya."
Ia tersenyum.
"Aku hanya bisa berterima kasih karena beliau telah menyelamatkan banyak orang di dunia ini. Dan aku minta maaf karena tidak bisa memberinya pemakaman yang layak. Aku senang salah satu keluarganya datang menjemput. Semoga rencanamu berjalan lancar, Tuan Thrift Holmes."
Thrift terkekeh.
"Aku senang kau paham, Nak. Ini jadi menghemat waktuku daripada harus bertarung tidak perlu."
Ia menepuk kepala Lucien.
Namun sebelum pergi ke bawah tanah, dua pengunjung lain telah tiba secara terpisah.
Anna memasuki gereja untuk menenangkan diri setelah pengalaman buruk disandera Terra sehari sebelumnya. Ia mencelupkan jari ke air suci, menangkupkan tangan, dan berdoa.
"Jauhkan dari yang salah, jauhkan dari arogansi. Tunjukkan yang tepat untukku."
Tak lama kemudian, jalan hutan di luar gereja mendatangkan kelompok lain.
Mereka datang dari pemakaman lain, tempat Nullvian sebelumnya memperlihatkan timeline alternatif dan kemudian menghilang bersama beberapa orang. Altaf masih memikirkan rekonstruksi force field yang gagal memberikan jawaban. Isolde hilang. Elvis juga. Yang tersisa hanyalah gangguan pada medan gaya seperti dua tubuh pernah ditelan ke sesuatu di luar jangkauan pengetahuannya.
Dentuman dari arah kota membuatnya menghentikan penelitian. Ia memerintahkan staf menyiapkan kendaraan dan menawarkan Serafina untuk ikut. Tengah hutan menjadi jalan pintas, dan kali ini Altaf bersikeras menyetir mobil Serafina sendiri.
Haruki, yang kehilangan Elvis, meminta ikut. Ia tidak menginginkan majikan baru, tidak menginginkan kebebasan yang justru akan membuatnya digantung sebagai Terra tanpa pemilik. Ia hanya ingin mencari seseorang yang menurutnya untuk pertama kali memperlakukannya seperti bagian dari kehidupan, bukan barang.
Altaf tidak menyukai cara Haruki menerima perbudakan dengan rasa nyaman. Baginya, itu tetap aturan yang salah. Namun ia juga tahu meninggalkan Terra tanpa tuan di Averion sama saja membiarkannya dibunuh. Ia akhirnya mengizinkan Haruki duduk paling belakang dengan syarat menjaga jarak dua meter dari dirinya dan Serafina.
• • •
Altaf masih memikirkan kejadian sebelumnya ketika ia, Serafina, dan para pengikutnya berada di pemakaman terbengkalai.
Nullvian telah memperlihatkan timeline berbeda. Isolde dan Elvis menghilang dari hadapan mereka, seperti ditelan oleh dimensi lain. Altaf mencoba merekonstruksi jejak pergerakan melalui force field miliknya, tetapi hasilnya tidak cukup untuk menjelaskan ke mana keduanya pergi.
Dentuman dari kota memaksanya mengambil keputusan.
"Takdir, timeline berbeda, entitas mahatahu yang sombong, hilangnya Terra, dan sekarang sesuatu terjadi di kota. Saya harus tahu garis besar yang sedang terjadi. Kita berangkat sekarang."
Ia menoleh pada Serafina.
"Anda ikut? Kalau iya, biarkan saya menyetir. Tengah hutan adalah jalan pintas."
Serafina sempat mengalami serangan panik ringan setelah visualisasi timeline. Ia menenangkan diri dengan menggenggam kerikil, seperti latihan yang biasa disarankan terapisnya, lalu mengangguk.
"Ini bukan lagi intuisi jika menyangkut kejadian besar. Sebaiknya kita bergegas."
Haruki, yang kini kehilangan master karena Elvis ikut diambil Nullvian, meminta ikut.
"Jika Anda tidak ingin melakukan kekerasan pada saya, Tuan Altaf, Nona Serafina, bolehkah saya ikut? Saya ingin menemukan Master."
Altaf menatapnya tajam.
"Terra, berkacalah. Anda ada di ruang yang tidak semuanya bisa disampaikan. Tentang kolega Gale Anda, saya turut menyesal. Tidak ada petunjuk untuk menemukannya."
Haruki tidak mundur.
"Hanya karena sekarang statusku Terra tanpa tuan, aku tidak ingin berpindah kepemilikan. Aku tidak ingin punya Master lain selain Master Elvis."
Pernyataan itu justru mengganggu Altaf.
"Overrealm memang jatuh. Hak Anda untuk bebas telah dicabut. Tetapi menerima perbudakan dengan rasa nyaman tanpa sedikit pun perlawanan? Terra yang berada di aturan yang salah."
Meski begitu ia membolehkan Haruki ikut dengan syarat.
"Duduk di kursi paling belakang. Jarak dua meter. Kalau Anda melanggar, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan naluri alami Gale saat berhadapan dengan Terra."
Serafina menyerahkan kunci mobil.
"Mengesankanku, Tuan Altaf?"
Ia masuk lebih dulu setelah Altaf membukakan pintu.
"Anda tampak bagus dengan ekspresi itu," bisiknya di dekat telinga Altaf. "Dan terima kasih."
Mereka berangkat.
Di sepanjang rute, siluet Gale sesekali terlihat di antara pepohonan. Altaf tidak perlu mendekat untuk menebak apa yang mereka cari. Harga Terra naik sejak pemerintah menginginkan tubuh mereka untuk proyek baru. Sebagian pemburu mengejar uang; sebagian lain sekadar ingin memuaskan kebencian. Haruki tidak akan aman jika berjalan seorang diri.
Altaf membuka percakapan tanpa mengalihkan mata dari jalan. Ia kembali pada visualisasi Nullvian tentang timeline lain. Baginya, potongan dunia yang berbeda itu tidak relevan sebagai penentu tindakan sekarang. Masa depan versi lain bukan hukum bagi mereka.
"Ada satu hal yang perlu digarisbawahi. Entitas itu sendiri mengatakan baru kali ini kita berada dalam tempat yang sama. Artinya takdir bisa berubah. Hal baik bisa saja terjadi kalau kita bisa bersama."
Ia mengingat sebuah kutipan dari buku yang pernah dibaca.
Bagi Altaf, aturan tidak pernah salah dengan sendirinya. Yang berbahaya adalah tafsir orang yang tidak cukup matang. Karena itu ia membaca, berkirim surat, dan berdiskusi sebelum mengunci pandangan. Aturan membutuhkan sejarah dan pemahaman agar tidak berubah menjadi kekerasan yang memakai nama keteraturan.
Serafina mendengarkan sambil memandang bayangan mereka di kaca jendela. Penglihatan timeline lain terasa terlalu rinci untuk sesuatu yang tidak pernah terlintas di pikirannya. Ia mengenali dirinya sendiri, tetapi dalam kondisi yang tidak pernah dialami.
"Apa itu berarti ada akhir yang akan datang jika nasib ternyata berbeda dari sebelumnya?" tanyanya rendah.
Ia mengambil permen dari kompartemen mobil dan membukanya. "Kita makhluk penasaran. Setiap hari, jam, menit, bahkan detik kita penasaran pada apa yang akan datang. Pengalaman bisa didapat di mana saja. Kita menyerap pembelajaran, melakukan yang terbaik, menghindari keburukan. Mungkin kata paling sederhana untuk itu adalah hikmah."
Altaf lalu melihat Haruki melalui kaca spion.
"Mengapa Terra seperti Anda begitu spontan mengucapkan sesuatu? Apa karena kehilangan majikan? Dan bagaimana kalau kolega Gale Anda diambil justru karena ia anomali—Gale yang memperlakukan Terra dengan baik?"
Haruki tidak langsung menjawab. "Master Elvis tidak memandang saya sebagai Terra, melainkan salah satu lembaran lagu yang ingin ia buat. Kalau dia puas mungkin saja dia membuang saya. Tapi saya tidak pernah diajari menyembunyikan pikiran. Kata Master, itu bagian dari lantunan yang ia mau. Kadang memang kelewatan."
Bagi Haruki, kejatuhan Overrealm sendiri sudah terasa seperti bukti keseimbangan rusak sebelum semua orang mulai membicarakan aturan. Ia bahkan tanpa sadar menggumamkan satu pertanyaan yang selama ini mengganggunya: jika Overrealm benar-benar berada "di bawah" Averion, mengapa pecahannya justru jatuh ke Averion, bukan sebaliknya?
Pertanyaan itu belum selesai diproses ketika penglihatan Altaf berubah.
Tanah tandus.
Monster.
Sensasi yang sama seperti ketika Nullvian memperlihatkan dunia lain.
Beberapa detik sebelumnya, monster-monster yang sama seperti visualisasi Nullvian muncul tepat di depan pandangannya. Denyut tajam menyerang kepala. Fokusnya buyar, setir berbelok keluar dari jalur, roda menghantam akar dan tanah. Altaf baru sadar ketika pohon besar hanya beberapa meter di depan.
Ia menginjak rem sekuat tenaga. Ban berdecit pada tanah licin dan mobil berhenti dengan hentakan yang membuat seluruh tubuh Serafina tertarik sabuk pengaman.
Altaf menekan pelipis. Ini bukan kelelahan biasa. Sensasinya sama seperti ketika realitas lain dipaksakan masuk ke kepalanya.
Serafina sendiri sempat melihat siluet serupa sebelum mobil oleng. Permen di mulut tidak membantu rasa berat yang menekan kepala. Setelah memastikan mobil masih utuh, ia menyalakan radio, mencoba mencari berita, tetapi semua frekuensi hanya menghasilkan audio rusak. Dashboard tetap menunjukkan pukul dua belas. Tubuhnya mulai menuntut waktu tidur yang tidak diberikan malam abadi.
Altaf mencoba menghubungi staf yang seharusnya mengikuti. Jalan belakang kosong. Tidak ada balasan dari komunikator. Biasanya mereka akan menjadi orang pertama yang datang jika melihat sesuatu terjadi kepadanya.
"Uhh... apa yang terjadi sekarang?"
"Penglihatan yang sama seperti sebelumnya. Sesuatu yang bukan bagian dunia ini, tetapi sulit dibantah keberadaannya."
Di samping jalan, sebuah gereja tampak di antara pohon.
"Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan sekarang," kata Altaf. "Demi kebaikan semuanya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia ini."
Serafina memandang bangunan tersebut.
"Saya akan ke gereja. Apa Anda ingin ikut?"
Altaf menolak.
"Saya hanya akan berdiam di sini. Mobil ini lebih dari cukup—lebih bisa dipercaya daripada gereja di tengah hutan."
Ia menyalakan rokok.
"Kalau Anda merasa perlu pergi, lakukan. Tetap waspada. Asapnya mungkin akan mengganggu."
Haruki ikut mendekat ke gereja, tetapi tidak langsung masuk.
Altaf memanggilnya.
"Terra. Saya meminta Anda berpikir. Pastikan pemikiran Anda punya dasar jelas. Jangan sampai berbicara tanpa arah. Seorang pertapa seharusnya berpikir."
Haruki mengembuskan napas.
"Jika apa yang saya ucapkan tidak punya dasar, apakah itu berarti Anda memiliki spekulasi lain? Semuanya terjadi tiba-tiba. Kalau menghindarinya tidak menyelamatkanku, setidaknya menghadapinya memberi kesempatan melawan takdir, kan?"
Ia akhirnya duduk di dekat pohon, tidak nyaman dengan gereja.
Serafina masuk.
• • •
Thrift sudah menghilang ke lorong belakang mengikuti denah ketika Lucien menghampiri Anna dan Serafina dengan dua payung.
"Saya minta maaf atas ketidaknyamanannya. Kalian datang untuk berdoa, tapi sayangnya gereja ini sedang maintenance. Saya merekomendasikan pergi ke gereja lain yang tidak jauh."
Anna menatap sekeliling.
"Aku tidak lihat persiapan maintenance kalian. Apa tidak bisa menunggu? Nona ini baru saja datang."
Serafina menerima payung namun tidak bergerak pergi.
"Apa ada alasan khusus? Perlu bantuan? Kita umat yang memerlukan pertolongan-Nya. Keadaanku sedang di ambang ketidakstabilan. Saya khawatir harus memulai ibadah sekarang."
Ia menatap Lucien lurus.
"Gale seperti kita terbiasa aktif di waktu gelap, tapi sadarkah Anda kalau waktu sekarang seharusnya mengharuskan kita tertidur? Anda pasti berbaik hati membiarkan jemaat tersesat beristirahat di rumah-Nya."
Lucien berpikir beberapa detik.
"Baiklah. Saya tidak bisa mengatakan tidak bila umat-Nya membutuhkan di tengah kebingungan. Saya harap kalian dapat berdoa dengan tenang."
Ia berbalik, lalu berhenti lagi.
"Ah, bila terdengar suara dari bawah tanah, tolong abaikan saja."
Lucien berjalan ke pintu bagian dalam.
"Break the seal of harmony, let chaos and order dance as one."
Simbol The Temperance muncul di punggung tangan kirinya.
"Blasphemers must be punished..."
Pintu menutup di belakangnya.
Serafina menatap Anna.
"Apa Anda telah selesai meminta pertolongan-Nya?"
Ia lalu berdoa sendiri.
Ketika merasa cukup, perhatian Serafina jatuh pada piano tua. Ia duduk dan memainkan melodi melankolis, mayor dan minor saling menyambung menjadi bentuk yang tidak ia beri judul.
Haruki akhirnya masuk dan duduk jauh, mendengarkan sebelum mencoba tuts piano setelah Serafina selesai.
"Piano yang besar... sedikit lebih besar dari piano di rumah Master. Sebenarnya kau di mana, Master...?"
Di bawah lantai, sesuatu mulai berguncang.
• • •
Thrift membuka pintu paling bawah.
Tempat yang ditunjukkan denah tidak menyerupai ruang penyimpanan sederhana. Lantai masih berupa tanah, pilar-pilar menopang struktur di atas, dan kegelapan membuatnya lebih cocok disebut terowongan bawah tanah. Thrift menyalakan senter dan rokok baru.
"Ini agak mengecewakan, tapi aku tidak terkejut."
Gema langkah datang dari tangga.
Tekanan udara naik.
Tawa Lucien terdengar sebelum sosoknya benar-benar terlihat.
"Aku yakin kau akan paham kalau berada di posisiku. Di mataku, kau tidak lebih dari pendosa yang ingin memanfaatkan jelmaan-Nya untuk keuntungan pribadi."
Thrift menoleh. Senyum Lucien sama, tetapi maknanya sudah berbeda.
"Your arrogance knows no bounds, blasphemer."
Angin di ruang bawah tanah berputar liar. Awan mendung replika terbentuk di langit-langit, hujan dan butiran es tajam ikut masuk ke pusaran. Tekanan rendah di pusat badai mengikis oksigen yang dapat dihirup Thrift. Ia datang ke dunia ini sebagai outsider, dan perbedaan struktur semesta membatasi kemampuan yang biasanya membuatnya jauh lebih berbahaya.
Tawa Lucien menggema dari belakang.
Thrift menoleh.
"Paham? Ha. Seumur hidupku tidak ada yang pernah menyebutku begitu. Aku juga tidak lihat kenapa mengambil kembali tubuh saudaraku yang sudah tumbang dianggap dosa."
Ia berlutut.
Dunia ini bukan dunianya. Kekuatan seorang outsider tidak bekerja penuh di bawah hukum Reverse Mirror. Bahkan setengah dari kapasitas normalnya terasa terlalu optimistis.
"Jangan memutarbalikkan fakta," desis Thrift. "Kaulah yang memanfaatkannya demi keuntunganmu. You're the one who has no shame."
Lucien bahkan memanipulasi tekanan atmosfer untuk membuat suara Thrift sendiri beresonansi di luar kendali. Setiap kali pria itu berbicara, gelombang suara berbalik ke tubuhnya, mengganggu saraf dan pikiran. Senjata yang seharusnya menjadi bagian dari kemampuan Thrift berubah menjadi alat penyiksaan.
"Alright. Let's say I'm the one who has no shame. So, what can you do now? You can't even stand up straight to face me."
Ia mengunci satu frekuensi di kepala Thrift sampai suaranya sendiri berulang seperti jeritan yang tidak pernah selesai.
"Killing you would be a waste. Should I make use of you? Like how I use the body of your brother. Don't worry. I'll worship you too without exception."
Thrift tersenyum pahit meski darah muncul di sudut bibir.
"A God? How... trivial."
"A God is trivial for you? When you claim you are a direct creation of a God?"
Lucien menyipitkan mata.
"Then I guess the reason for your stubbornness is not simply familial love. There's someone you need to return to."
Tubuh Thrift membeku.
Lucien melihat reaksinya dan tahu ia menemukan titik yang tepat.
"The desperate one here is not me, but you. Is that someone's life in danger until you desperately try to steal the embodiment of God? I wonder what will happen to them if I kill you right here, right now."
Keputusasaan yang lama terkubur kembali ke Thrift.
Ia tidak tahu Lucien menggertak atau benar-benar akan membunuhnya. Ia hanya tahu dirinya tidak bisa bertaruh dengan nyawa orang lain.
Tubuhnya jatuh terduduk.
"...Mohon."
Lucien tidak bergerak.
Thrift mengulang lebih jelas.
"Kumohon. Apa pun akan kulakukan, tapi setidaknya pinjamkan aku kekuatan Raphael barang sedikit."
Air mata jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun.
"Aku akan menetap di sini sebagai penggantinya untuk sementara. Kekuatannya sangat dibutuhkan di duniaku. Sangat kubutuhkan."
Lucien mendekat dan menurunkan intensitas badai.
Ia berjongkok, mengangkat dagu Thrift.
"Kau menangis? Betapa indahnya. Bahkan seorang malaikat pun bisa putus asa."
Tatapannya menjadi lebih hangat, tetapi posisi kuasa di antara mereka tidak berubah.
"Aku bisa mengabulkan permintaanmu, Sir Gabriel. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menolak orang yang datang dengan kerendahan hati, bukan?"
Ia berdiri.
"Tapi sebelum itu, katakan padaku. Untuk siapa kau melakukan semua ini? Aku ingin mendengar namanya."
Thrift menutup mata.
Saat membukanya kembali, tidak ada banyak nyala tersisa.
"Lilith."
Lucien mengulangnya.
"Lilith. Gadis yang luar biasa, karena bisa menaklukkan hati seorang malaikat sampai sejauh ini."
Ia mengelus pipi Thrift.
Thrift tidak menjawab.
Lucien memeluknya.
"Tidakkah kau lelah terus berjuang sendirian?" bisik Lucien. "Pasti lelah dan kesepian. Tidak apa-apa. Kau sudah berjuang sejauh ini. Kerja bagus, Gabriel. Kau bisa beristirahat sekarang. Tidurlah. Biar aku menyelesaikan sisanya."
Di kepala Thrift hanya satu jawaban berulang.
Bohong.
Bohong.
Bohong. Bohong. Bohong. Bohong.
Ia tahu kehangatan itu dapat menjadi perangkap. Ia tahu suara Lucien adalah bisikan yang sama berbahayanya dengan badai tadi. Tetapi tubuhnya sudah tidak punya cukup tenaga untuk mempertahankan kewaspadaan. Parfum, suhu tubuh, dan kelembutan yang datang setelah kekerasan menciptakan kelelahan yang nyaris menyerupai hipnosis.
Akhirnya Thrift menutup mata dan benar-benar tertidur dalam pelukan orang yang baru saja memaksanya berlutut.
• • •
Guncangan dari bawah gereja menghentikan permainan piano Serafina.
Sesaat sebelum itu, penglihatannya kembali berubah: tanah mati, monster yang menatap, tubuh yang tidak bisa digerakkan. Ia menggigit bagian dalam pipi sampai rasa darah mengembalikannya ke kenyataan.
"Sebagai pesan," katanya kepada Haruki, "jika kau ingin menetap di sini, abaikan saja apa pun yang terjadi di bawah gereja ini."
Tetapi getaran semakin kuat.
"Tempat ini semakin tidak aman. Jangan berdiam terlalu lama. Kemalangan tidak pernah memandang ras atau derajat."
Serafina dan Anna keluar.
Di luar, Altaf sudah menggunakan force field untuk menyisir gereja dari jarak jauh. Energi tak kasatmata menembus dinding sampai fondasi, lalu menemukan ruang tersembunyi di bawah tanah.
Gangguan energi dari sana membuat pemetaan tidak sempurna.
Ia memaksakan daya jangkau.
Ada dua sosok di bawah.
Saat Serafina muncul, Altaf mendekat.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
Serafina menyentuh wajahnya, seolah memastikan sosok di hadapannya nyata.
Sentuhannya tidak terburu-buru. Jemari bersarung sutra meraba sisi wajah Altaf, tulang pipi sampai dagu, seakan realitas perlu dibuktikan melalui sesuatu yang bisa disentuh. Setelah delusi datang berkali-kali, kepastian sederhana seperti suhu kulit orang lain terasa lebih berharga dari biasanya.
Altaf tidak menghindar. Ia membiarkan momen tersebut terjadi dengan kesadaran penuh, dan anehnya pada saat yang sama sisa force field-nya mengirimkan percikan informasi dari ruang bawah. Di sana, seseorang berambut pirang juga baru saja disentuh pada wajah—tetapi dengan keadaan yang berlawanan. Tidak ada ketenangan pada pria itu, hanya kepasrahan dan motivasi yang hampir runtuh.
Keterkaitan itu membuat Altaf makin yakin gereja tersebut bukan kebetulan.
"Tidak ada rasa aman," bisiknya. "Anda menawan saat terdengar berbudaya dan membawa referensi sebagai penjelasan... tapi kita selalu bisa belajar. Terima kasih tetap terjaga di sini."
Altaf membiarkan sentuhan itu berlangsung.
Ia memandang gereja.
"Anda pernah membaca The Sacred and the Profane? Eliade berpendapat tempat suci tidak pernah dipilih secara acak. Selalu ada pola, selalu ada alasan. Jika tempat suci disembunyikan, berarti ada sesuatu di dalamnya yang tidak ingin ditemukan. Saya tahu ada sesuatu di bawah gereja. Saya akan memeriksanya."
Serafina membuka bagasi dan mengambil koper hitam panjang.
"Pendeta di gereja memberi peringatan, tapi tidak ada penjelasan atas ganjaran untuk pembangkangan."
Anna mendekat.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan fenomena lumrah. Ada sesuatu di dalam sana. Nona Serafina benar, pendeta itu tadi mengatakan hal janggal. Lalu tiba-tiba guncangan terjadi."
Haruki, yang sempat tetap di dalam, melihat Altaf dan Serafina kembali lalu mengikuti dari jarak aman.
Mereka turun ke basement.
• • •
Saat rombongan tiba, Thrift sudah tidak sadar.
Lucien meletakkan tubuhnya perlahan, lalu menciptakan kerangkeng es yang mengambang dengan pusaran udara sebagai proteksi.
Altaf mengenali Lucien dari rumah sakit.
"Aura dan tatapanmu berbeda. Sangat berbeda dari yang saya lihat saat bertemu Uskup Cain. Saat itu Anda tampak seperti pemuda yang takut bertemu gurunya kembali. Sekarang pria canggung itu hilang. Apa Anda memiliki dualitas kepribadian, atau berpura-pura lemah di dunia luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di sini?"
Lucien tidak terlihat tersinggung.
"Tidak ada satu pun yang palsu dari apa yang saya tunjukkan, Tuan Altaf. Sebuah peristiwa senantiasa mengubah seseorang, bukankah begitu?"
Ia menyentuh jeruji es.
"Saya sempat bertanya apakah yang saya percayai salah. Pada akhirnya saya sendiri yang menentukan bahwa tindakan saya benar. Anak ini ikut menguji keyakinanku. Hasilnya, tidak peduli seragu apa pun, saya tidak ingin melepaskannya."
Kemudian Lucien berbalik kepada Altaf.
"Anda terikat pada tradisi. Apa Anda pernah bertanya dari mana tradisi itu berasal?"
Altaf maju.
"Saya tidak perlu bertanya dari mana aturan dan tradisi berasal. Ia warisan. Tidak lahir dari kehampaan, melainkan dibangun, dijaga, dan diteruskan oleh mereka yang memahami keteraturan."
Lucien tersenyum.
"Apa yang coba Anda cari dengan datang kemari? Tradisi yang tidak diketahui asal-usulnya, ilusi dunia lain yang belakangan marak terjadi, atau... kebenaran dunia ini?"
Serafina langsung menangkap kata itu.
"Kebenaran dunia ini? Apa ini datang dari Averion dan Overrealm? Sepertinya Anda sangat tahu. Apakah Anda akan rendah hati menjelaskannya?"
Anna ikut bicara.
"Pak Pendeta, tolong jangan bertele-tele. Maksudmu ada kebenaran dunia yang selama ini tidak diketahui kami semua?"
Lucien tertawa kecil.
"Apa yang saya ketahui juga hanya secuil dari bongkahan besar kebenaran."
Ia mengetuk kerangkeng Thrift.
"Orang ini salah satu contoh. Dia bukan Gale maupun Terra. Kalian lihat? Sesuatu yang asing nyatanya bisa memasuki dunia ini selain penduduk Overrealm. Bukankah tidak mengherankan bila ada yang lebih mengejutkan daripada ini?"
Haruki mengamati dalam diam.
"Apakah itu berarti Tuan yang di sana memuja mereka yang bukan berasal dari dunia ini, yang bukan Enigma?"
Altaf mengaktifkan force field.
Udara bergetar.
Ia tidak puas dengan jawaban abstrak. Medannya menelusuri rongga tersembunyi di belakang Lucien, kemudian memaksa ruang itu terbuka.
Sebuah peti mati besar meluncur keluar dan berhenti di sisinya.
Wajah Lucien berubah seketika.
Senyum yang sejak tadi tidak pernah benar-benar hilang akhirnya lenyap. Napas Lucien menjadi berat. Tangannya mencengkeram pakaian di dada sementara pikiran membanjir dalam pola yang tidak lagi tertata.
Criminal.
Thief.
Blasphemer.
Unforgivable.
He must be punished.
He must be punished.
He must be punished.
He must be punished.
He must be punished.
Satu pengulangan memakan pengulangan lain sampai kalimat itu hampir menjadi satu-satunya hal di dalam kepalanya. Butuh beberapa saat sebelum Lucien mampu mengangkat wajah kembali dan memasang senyum, tetapi keramahan di dalamnya sudah hilang.
Altaf menatap peti.
"Gereja menyimpan mayat di dalamnya. Kalau ini bagian tradisi yang sah, seharusnya ada ritual suci yang mengiringinya dan berita tentangnya tersebar. Saya belum pernah mendengar apa pun."
Ia menatap Lucien.
"Uskup Cain tahu keberadaan peti mati ini? Kalau tahu, ini skandal yang bisa menghancurkan nama gereja. Kalau tidak, apa kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih buruk?"
Lucien mencengkeram area dadanya.
Pikiran yang berulang memenuhi kepala.
Ia terhuyung sebelum memaksa diri tenang.
"Tuan Altaf, tidakkah Anda berpikir tindakan yang telah Anda lakukan sudah di luar batas? Apa yang Anda lakukan penghinaan terhadap Tuhan. Tidak ada satu pun tindakan saya yang salah. Tuhan kerap membantu, bukankah tidak sopan menolaknya?"
Altaf tidak bergerak.
Lucien melanjutkan.
"Cain... Uskup Cain... kalau saya bertemu dengannya beberapa tahun lebih awal, privilege melihat wujud-Nya mungkin tidak mustahil. Dia pasti antusias dengan penemuan saya. Hanya saja rasa ingin tahu itu kini digantikan pengabdian yang buta."
Serafina semakin tidak nyaman.
"Anda berani menghakimi seseorang saat Anda sendiri bahkan berpaling dari-Nya. Berhentilah berlarut sebelum Anda menyesal karena Anda benar-benar buta, Tuan."
Koper hitam dibuka.
Serafina menarik flute panjang dari dalamnya.
Udara di basement turun suhunya.
Salju mulai jatuh.
Lucien merentangkan tangan kepada Altaf.
"Meski begitu, ayo. Kembalikan."
Peti Raphael tetap berada di dekat Altaf.
Thrift tetap tertidur di kerangkeng.
Tak seorang pun bergerak lebih dulu. Salju terus turun di ruang bawah tanah, sementara perintah Lucien menggantung tanpa jawaban.
Haruki, yang tak mampu menampung lebih banyak informasi dan takut akan pertarungan, memilih keluar dari bawah tanah.
Konfrontasi antara keyakinan Lucien, aturan Altaf, dan kekhawatiran Serafina berhenti di ambang benturan berikutnya.
• • •
Di fasilitas medis pemerintah, lampu operasi menyinari meja-meja tempat Terra diikat tanpa anestesi.
Cordelia terbaring dengan mata tetap terbuka.
Bau disinfektan bercampur keringat dan ketakutan. Sabuk menahan tubuh Terra begitu kuat sampai beberapa bagian kulit membiru. Mata mereka sengaja dibiarkan terbuka. Para petugas ingin mereka menyaksikan setiap langkah yang dilakukan kepada tubuh mereka sendiri.
Kebebasan terasa semakin semu bagi Cordelia. Tiga kali takdir telah mempermainkannya, dan sekarang pilihan yang tersisa terasa sama buruknya: mati sebagai Terra, atau melawan sampai akhirnya mati juga. Ia mulai mengutuk harapan yang pernah dibangun karena ingin percaya makhluk dengan rupa seperti malaikat dapat memiliki hati malaikat.
Namun bahkan itu terasa terlalu sederhana. Barangkali bukan Gale yang harus disalahkan, pikirnya, melainkan takdir yang terus mempertemukan dirinya dengan orang-orang yang akhirnya merenggut sesuatu.
Cordelia memandang langit-langit dan mencoba mengingat bau, cahaya, bunyi—detail terakhir seandainya ini memang akhir. Takut tidak lagi cukup tepat untuk menggambarkan kondisinya. Di satu sisi, kematian justru terasa seperti tujuan yang terlalu lama tertunda.
Ia sudah terlalu sering dimainkan takdir sampai kebebasan terasa seperti konsep semu.
"Sejak awal kebodohanku adalah mempercayai jika ras yang menganggap diri mereka seperti malaikat benar-benar berhati malaikat."
Pisau bedah menembus kulit.
Cordelia tidak berteriak. Air mata tetap mengalir sebagai respons tubuh terhadap rasa sakit.
Kesadarannya semakin tipis.
"Ah... jadi ini yang namanya sekarat."
Di bawah cahaya lampu, satu nama muncul di ingatannya.
Pemuda pirang dari pelelangan.
"Kaizer... terima kasih..."
Matanya tertutup.
Di meja lain, Harvey Tigaratustrilliun justru masih bisa mengoceh.
Bagi Harvey, masalah terbesarnya bukan pisau yang bersiap membelah tubuh atau kemungkinan eksperimen gagal. Masalahnya adalah lampu terlalu terang dan ruangan terlalu panas.
Cahaya putih menyilaukan kornea. Di kepalanya entah bagaimana hal itu berubah menjadi pembahasan tentang perusahaan listrik, drama kartun, kamar, dan apakah pembedahan ini sebenarnya bentuk dukungan UMKM negara maju.
"Woi, kenapa ada lampu-lampu begini? Apa kalian mau bikin drama kartunis?"
Tidak ada jawaban yang memuaskan.
Keringat turun dan itu jauh lebih mengganggu daripada tali pengikat.
"Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genteng, airnya turun tidak terkira—woi kurang ajar! Hidupkan AC-nya, brengsek!"
Harvey memberontak bukan karena menolak diikat. Ia benar-benar hanya menuntut udara dingin.
"Kalau operasi gagal, setidaknya gagal dengan dingin! Biar akhir hidup itu dingin! Saya takut kalau mati masuk neraka, masa dekat-dekat mati juga mesti panas-panasan?! Hidupkan AC-nya!"
Di kepala Harvey, mati dalam ruangan panas lalu masuk neraka berarti double hot, suatu ketidakadilan yang entah bagaimana lebih layak diprotes daripada eksperimen itu sendiri.
Tidak ada seorang pun yang menanggapi serius.
Dorian berada di ambang batas kesabarannya.
Sejak proyek ditetapkan, prosedur berjalan terus-menerus. Hyde menghilang. Dokter lain terus meminta ia bekerja sama. Halusinasi mayat-mayat yang bangkit dari meja semakin sering datang.
"Raaghib brengsek..."
Tiba-tiba Dorian menjerit.
"SUDAH CUKUP!"
Gergaji mesin yang seharusnya disita sudah berada di tangannya.
Ia membelah pintu ruang operasi dan menerjang masuk.
Fern Nightshade terikat di meja dengan tubuh berlumur darah, sudah terlalu jauh terdisosiasi dari rasa sakit untuk bereaksi normal.
Fern hanya berpikir satu hal ketika melihat Dorian mendekat.
Ah. Orang gila.
Gergaji turun.
Tubuh Fern terbelah bersama meja operasi.
Dorian tertawa keras.
"HAHAHAHAHAHAHA!"
Lalu cahaya ruangan meredup.
Darah yang menetes ke lantai seperti berhenti memiliki urutan.
Saat lampu kembali terang, Fern tidak lagi terbelah.
Tubuhnya utuh di posisi semula.
Sebaliknya, salah satu dokter bedah terkapar dalam kondisi yang mencerminkan kehancuran yang sebelumnya menimpa Fern.
Suara tidak datang dari satu titik tertentu.
"Kalian telah melanggar aturan. Menodai tangan kalian dengan sesuatu yang seharusnya tidak kalian sentuh. Terra."
The Univers.
Bukan Tedros, bukan Deimos, bukan Pioneer.
Entitas yang merupakan serpihan dan representasi semesta itu sendiri telah masuk ke dalam peristiwa dengan caranya sendiri.
"Mengubah suatu kemutlakan menjadi malapetaka. Sekarang kalian pantas mendapatkan hukuman."
Fern duduk perlahan.
Ia mengambil handuk untuk membersihkan darahnya sendiri, lalu mengambil pakaian dari keranjang.
"Tampaknya takdir belum memperbolehkanku mati. Apa yang akan kalian lakukan sekarang, Gale?"
Harvey malah menatap Dorian dan mengeluh soal bau mulutnya, lalu mengajak Fern menyuruh lelaki merah itu sikat gigi. Ketika ocehannya semakin absurd dan menghina, kegelapan menelan Harvey sendirian.
Kebangkitan Fern bahkan tidak membuat Harvey menghentikan pola pikirnya. Ia masih memaki "si Merah" yang dianggap berisik dan bau mulut, masih mengajak Fern menyuruh Dorian menyikat gigi, lalu tanpa transisi logis berpindah ke komentar mesum tentang perempuan berambut merah di ruangan.
"Mata ini masih ingin melihat keindahan! Kalau bisa ada cewek telanjang! Ini bisa jadi kematian kita, rasanya kurang kalau gak saling jujur!"
Kalau The Univers menganggap lisan tersebut telah dipakai secara salah, hukuman yang diberikannya sangat sederhana: Harvey dipisahkan dari semuanya dan ditelan kegelapan.
Namun ketiadaan audiens tidak menyelesaikan masalah.
Harvey justru menganggap kehampaan itu sebagai panggung baru.
"Mystical rendang, transcending time. Menelan bayangan, consuming the absurd. Bebop of flavors, sambal anarchy. Gorengan rebellion, a culinary twist."
Kata-katanya terus berubah menjadi campuran bahasa, sajak, makanan, upil, bintang, dan kemarahan pada entitas kosmik.
"Dalam pesta sonik ini let's devour the strange, for we are the brigade of gastronomic bastard."
Lalu Harvey sampai pada bentuk perlawanan yang bahkan mungkin tidak diprediksi The Univers.
Ia memutuskan akan mengencingi kegelapan.
"Rasakan desiran kencingku, wahai kegelapan yang meremehkan fana asmara!"
Bahkan jika akhir dunia datang, menurut Harvey, air kencing masih bisa dijadikan seni.
"Supernova, bintang jatuh, kesatria kegelapan, orang-orang tolol... dan aku akan mengencingi kegelapan."
Ia benar-benar melakukannya.
Kalau The Univers bermaksud memberinya keheningan sebagai hukuman, Harvey justru menjadikannya panggung pribadi.
Kegelapan tetap menelannya; ocehannya menjadi satu-satunya suara yang menolak padam di sana.
• • •
Hampir dua jam kemudian, Cordelia membuka mata.
Lampu operasi tidak lagi diarahkan kepadanya.
Tanduk di kepalanya sudah tidak ada. Ciri Terra yang lain masih tersisa. Tubuhnya pucat karena kehilangan darah.
Ia duduk perlahan.
"Ah, aku masih hidup."
Ruangan jauh lebih sepi. Para ahli bedah yang sebelumnya bekerja sudah tidak ada dalam kondisi normal. Fern sedang menggeledah saku mayat dokter menggunakan sarung tangan latex, mencari kunci atau sesuatu untuk membuka jalan keluar.
Cordelia menatapnya.
"Aku tidak sedang bermimpi, kan?"
Fern tertawa kecil.
"Sejujurnya, aku juga tidak percaya ini nyata. Meski begitu, tampaknya takdir tidak bisa membiarkan kita mati."
Fern terus mencari kunci di antara tubuh para dokter, sementara Cordelia bertahan duduk di tepi meja operasi. Jalan keluar masih harus mereka temukan sendiri.
• • •
Ada tempat lain yang tidak bisa dijelaskan dengan kata lokasi biasa.
Ruang tanpa dinding dan tanpa langit, mengambang di atas tatanan Averion dan berada di antara dimensi.
Di sana, Nullvian telah mengumpulkan target melalui Fate Marking.
Tanda itu tidak perlu diberikan langsung kepada setiap orang. Cukup satu kontak, lalu karma menyebar melalui pertemuan berikutnya.
Haruki dan Harvey pernah menjadi titik awal. Dari mereka tanda mencapai rumah sakit dan Don Antonio. Dari Antonio merambat ke Gio, Andrea, lalu Yoshitsune. Violetta disentuh jalur lain melalui panti. Hyde dan Tae berada di rumah sakit. Lillian dan Helvetica juga terhubung. Isolde dan Elvis—yang hilang di hadapan Altaf—sudah berada dalam jaringan yang sama.
Tidak ada kebetulan dalam mekanisme Nullvian.
Ketika waktunya tiba, keberadaan target dapat dibuat null dari Averion dan dipindahkan ke ruang itu tanpa perjalanan fisik.
Tae Kiyose berjalan sendirian lebih dulu.
Untuk beberapa saat Tae mengira dirinya masih bermimpi. Ruang tanpa batas tersebut terlalu asing, tetapi setiap gerak terasa nyata. Tubuhnya jauh lebih ringan. Tidak ada lagi luka yang menggerogoti seperti ketika ia masih Terra. Proses di rumah sakit telah membuat tubuhnya beradaptasi dengan sempurna sebagai Gale.
Yang lebih mengganggu justru perubahan pada batin. Hangat matahari yang dulu menjadi bagian alamiahnya tidak lagi dirindukan. Gelap terasa hidup. Trauma dan kepedulian yang dulu membuatnya merangkul sesama Terra sudah banyak terkikis. Ia tidak tahu apakah semua jalan penderitaan ini mengubah takdirnya, atau justru membawa dirinya ke takdir yang sejak awal dirancang.
Ia berjalan tanpa tahu jauh atau dekat, bahkan tidak yakin apakah sebenarnya bergerak. Sampai seseorang lain muncul dan naluri baru di dalam tubuhnya langsung memberikan reaksi.
Tubuhnya kini sudah beradaptasi sebagai Gale. Trauma dan emosi lama telah banyak terkikis oleh proses yang ia alami. Malam, yang dahulu seharusnya bertentangan dengan sifat Terra, kini terasa lebih sesuai.
Lillian Nocturne muncul di ruang yang sama.
Sehari sebelumnya Lillian masih sibuk melarikan diri dari Andrea—Gale gondrong yang terus mengejar hanya dengan insting. Tanda budak sudah lenyap dari tubuhnya sejak pertemuan dengan Gabriel, tetapi itu tidak membuat dunia berhenti memburunya. Ia terpaksa berpindah tempat, mencari titik ramai untuk menghapus jejak, lalu kembali bersembunyi.
Sekarang ia dipindahkan ke ruang yang bahkan tidak bisa diberi alamat.
Begitu merasakan kehadiran Gale, pengalaman dengan Andrea membuatnya memilih prinsip sederhana: lebih baik terlalu waspada daripada menyesal. Ia tidak tahu bahwa gadis di depan pernah menjadi Terra.
Naluri kebencian bekerja seketika ketika ia merasakan Gale.
Pedang titanium terbentuk.
Ujungnya berhenti di leher Tae.
"Tempat ini, ciptaanmu?"
Tae memandangi pedang tanpa mengubah ekspresi.
Dulu, sebagai Terra, mungkin ia akan merangkul orang sebangsa. Sekarang nalurinya telah berbalik.
"Menyebalkan."
Ia bahkan tidak benar-benar melihat Lillian.
"Percuma bertanya padaku, Terra. Menyingkir. Jangan ajak aku bicara."
Seseorang memeluk Tae dari belakang.
"Ketemuu!"
Hyde Amador.
Ia masih sempoyongan karena efek obat yang pernah disuntikkan ke tubuh sendiri, tetapi wajahnya menunjukkan kegembiraan seorang anak yang menemukan benda favorit.
Tae tidak melawan pelukan itu seperti sebelumnya. Doktrin yang ditanamkan selama perawatan membuat kewaspadaannya kepada Hyde turun jauh.
"Kukira kamu sudah mati," katanya datar.
Lillian mengalihkan pedang kepada Hyde.
"Anda terlihat mencurigakan. Sudi membagikan informasi mengenai tempat ini?"
Suara lain muncul dari belakang Lillian.
"Lihat siapa yang tiba-tiba punya nyali. Jadi 'Iris' yang pengecut itu akhirnya mati juga, ya?"
Helvetica berjalan santai mendekat.
Sehari sebelumnya Helvetica masih berada di terowongan bersama Yoshitsune dan Lyod. Pertemuan itu dimulai sebagai cara membuang waktu, lalu berubah menjadi diskusi panjang tentang sistem, outsider, dan kemungkinan bermain di luar aturan. Pada akhirnya, yang paling berguna adalah satu tindakan konkret: berlian penanda milik Yinxia berhasil dihancurkan dari dalam tubuhnya dengan bantuan manipulasi suhu Lyod dan Arcana hormon miliknya sendiri.
Prosedurnya sama sekali tidak layak disebut medis. Tidak ada meja operasi, jarum, gunting, atau ruangan steril. Hanya lorong lembap, tikus, risiko pecahan berlian menembus organ, dan keinginan Helvetica untuk menguji seberapa jauh tubuhnya bisa dipaksa bertahan.
Itu juga bukan pertama kali ia merusak diri untuk menghilangkan tanda. Tanduk yang sejak lahir menempel di kepalanya sudah lebih dulu dipatahkan ketika identitas rasial mulai terasa seperti barang usang yang tidak lagi ingin ia bawa.
Kini dirinya dicengkeram arus lain dan dilempar ke tempat yang sama sekali baru. Tidak ada rasa takut di wajahnya, hanya rasa ingin tahu mengenai alasan ia mendapat tiket ke panggung berikutnya.
Lillian meliriknya.
"Tidak terduga bisa bertemu Anda di sini. Kukira Anda sudah mati. Di mana permata indah yang 'senang' Anda pamerkan itu? Jangan bilang sudah dijual?"
Helvetica pura-pura berpikir.
"Hm. Aneh. Aku tidak ingat punya hal semenawan itu. Kalau memang ada, mungkin jatuh di tengah jalan atau dicuri orang."
Lillian tertawa kecil.
"Terima kasih. Berkat Anda hidup ini penuh ketidakpastian. Meskipun harus diakui, hidup tanpa kepastian ternyata tidak seburuk itu."
Helvetica menatap hamparan kosong.
"Mungkin orang-orang dikumpulkan supaya mereka bisa mengumumkan Overrealm sudah selesai direnovasi. Atau kita disuruh berkemas sebelum jadwal keruntuhan Averion tiba. Whatever they say first, both seem like good news."
Hyde ikut tertawa.
"Kurasa karena begitulah privilege jadi favoritnya Tuhan!"
Lillian memandangnya jijik.
"Apakah tidak ada yang pernah bilang bahwa sebagai makhluk hidup, Anda menjijikkan?"
Hyde membuka seal dalam hati dan meludahkan asam fluorida ke pedang titanium Lillian. Permukaannya mulai mendesis dan korosi perlahan muncul.
Lillian tidak panik. Titanium tidak akan hancur seketika, dan Arcana-nya dapat merekonstruksi bagian yang rusak.
"Informasi yang bisa kuberikan," kata Hyde, "adalah kalian semua terjebak bersamaku."
Ia mengulurkan tangan ke wajah Lillian.
Sebelum menyentuh, seseorang menarik Tae dari pelukannya.
Violetta.
Bagi Violetta, perpindahan itu dimulai dari kehilangan. Tangannya terangkat begitu sadar tidak ada lagi anak kecil yang sebelumnya berada dalam dekapannya. Ia sudah lama menerima kemungkinan kematian sebagai bentuk pembebasan dari Averion, bahkan membawa satu jiwa yang tidak berdosa dalam tubuhnya sendiri. Namun kehilangan "malaikat kecil" yang sempat ia anggap jawaban Tuhan tetap meninggalkan kehampaan yang berbeda.
Saat menemukan kerumunan, tatapannya berhenti pada Hyde yang memeluk Tae. Ekspresi gadis bersayap itu terlalu familier—kepasrahan tanpa perlawanan, wajah seseorang yang sudah berhenti mempertahankan batas diri. Violetta pernah berada di posisi itu.
Kebencian rasial tidak hilang. Tetapi naluri untuk melindungi bergerak lebih cepat. Ia menarik Tae dari cengkeraman Hyde dan berdiri di antara mereka, sigil Enlightenment melayang di tangannya.
Hyde mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah.
Hyde mengenali Violetta dengan sangat baik. Ia tahu masa lalu yang tidak ingin dibicarakan perempuan bisu itu, bahkan mengetahui kehamilan yang mungkin belum diketahui orang lain. Di pikirannya, semua informasi itu tidak membangkitkan rasa bersalah. Ia justru menghitung bagaimana Violetta pernah menghasilkan keuntungan besar baginya dan bagaimana satu rahasia dapat dipakai jika diperlukan.
"Tae sayang, kamu bisa alergi kalau bersentuhan dengan wanita kotor itu. Kemarilah."
Keyakinannya belum berkurang sedikit pun. Bagi Hyde, orang-orang di ruangan ini masih bagian dari pertunjukan yang bisa ia provokasi kapan saja.
Lillian mengerutkan dahi.
Ia mencoba membentuk penjara titanium tanpa celah di sekitar Hyde.
"Sebaiknya Anda melepaskan gadis itu," katanya kepada Violetta, mengacu pada Tae. "Tidak tahu apa yang akan dia lakukan pada Anda yang berbeda."
Lalu Lillian mengangkat suara ke ruang kosong.
"Apakah Anda sudah cukup bersenang-senang? Enigma, God, atau apa pun itu? Tidak mau menunjukkan jati diri?"
Tidak ada jawaban langsung.
"Setidaknya jelaskan tujuan Anda mengumpulkan kami di tempat ini."
Nullvian tidak menjawab. Kehampaan tetap diam, membiarkan mereka saling menilai tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan pemilik ruang berikutnya.
Isolde dan Elvis juga berada di ruang yang sama karena Fate Marking. Keduanya tetap menjadi bagian dari kumpulan target yang sudah ditarik keluar dari Averion.
• • •
Di atas—atau mungkin di luar—Averion, kapal antar-semesta masih tidak dapat turun.
Tedros telah menutup akses ke dunia dengan ilusi dan penghalang yang tidak bisa dibaca sistem kapal. Para outsider dari Rhetoric Soul dan Hakoniwa bukan sekadar tertahan secara fisik; komunikasi dengan Gabriel pun terputus.
Charlesvin duduk di kursi kemudi.
Mereka sudah ditinggalkan setelah percakapan dengan Tedros, tetapi kendali yang dikembalikan tidak berarti kebebasan. Kapal tidak benar-benar mati. Mesin masih bisa dinyalakan, autopilot masih menerima perintah, dan sistem internal tetap bekerja—namun tidak ada gerakan yang membawa mereka lebih dekat ke Averion. Seolah seluruh wahana digantung di antara realitas dan tipuan.
Charlesvin menjaga wajah tetap tenang di depan rekan-rekannya. Kepanikan seorang pilot hanya akan menjadi kepanikan seluruh kapal. Namun ia tidak bisa menolak satu fakta: keputusan datang ke semesta ini berada di bawah tanggung jawabnya, dan sekarang semua orang terperangkap bersama dirinya.
"Sungguh sambutan yang di luar perkiraan."
Ia memutar kursi.
"Lakukan sesuatu. Cek keamanan dan optimalkan sistem kapal. Deteksi gangguan dan lakukan berkala. Kita harus bergerak dan selamat."
Mona menjalankan pemindaian.
"Semuanya oke. Keamanan juga sudah kembali mulai optimal."
Kreshnik mengaktifkan antarmuka holografis, mencoba navigasi dan frekuensi komunikasi.
"Optimalisasi sistem sedang berjalan."
Glenn merawat tanaman yang rusak akibat benturan sebelumnya, mengembalikan daun-daun layu dengan kekuatannya. Ketenangannya menjadi kontras dengan semua orang lain.
Lian berdiri di dek dan menatap kegelapan di luar.
Kegelapan mengingatkannya pada Abyss—dimensi bawah tempat ia dahulu mendapatkan kekuatan. Tempat itu juga pernah terasa mustahil untuk ditinggalkan sampai ibunya menariknya keluar. Karena pengalaman tersebut, pikiran pertama Lian adalah Void Vortex. Tetapi ia menahan diri. Bertindak tanpa komando Fen dalam struktur semesta yang tidak ia pahami hanya akan mengulang pola yang selama ini ia kritik dari orang lain.
Ia menggerutu sendiri mengenai betapa membosankan menunggu, mengenai engineer yang dibawa Fen, dan mengenai energi putus asa yang mulai mengendap di kapal. Kegelapan baginya bukan sekadar lingkungan; rasa takut, keputusasaan, dan energi kejahatan adalah sumber mana yang dapat diserap.
"Haruskah aku pakai Void Vortex sekarang?"
Fen memotong dari belakang.
"Struktur tiap semesta berbeda. Kekuatan dimensimu tidak akan berpengaruh di tempat yang sistem ruang dan waktunya tidak diketahui."
Fen bukan hanya mengingatkan soal teori. Dinasti Xuan sendiri membatasi akses ke dimensinya begitu ketat sampai seseorang tidak bisa sekadar membuka portal dan berharap sampai ke tujuan. Struktur ruang, waktu, dan energi selalu berbeda; menggunakan kekuatan dimensional tanpa memahami fondasi tempat hanya akan membuat perhitungan runtuh.
Ia kemudian bertanya alasan Lian menerima perjalanan ini. Izayoi Hibiki di semesta mereka sedang tidak baik-baik saja. Lian mengakui ada banyak jawaban—keinginan menjelajah seperti Yume, rasa ingin memahami semesta yang lebih luas dari Gaia Library, dan, secara jujur, keinginan mencari cara menembus dimensi Dinasti Xuan.
Ia tidak mengucapkan alasan pribadi lain yang mungkin jauh lebih memalukan.
Fen sendiri mulai terlihat tidak sehat.
"Kekuatan sihirku fragility—kerapuhan. Aku terhambat karena tidak tahu materi atau energi apa yang digunakan mengurung kita. Ada jalan lain: alkimia, pertukaran setara. Tapi biayanya tidak bisa diperkirakan. Bisa energi sangat banyak, bisa juga nyawa."
Ia memperlihatkan tangan yang gemetar.
"Raja semesta di sini menyedot energi sihir. Dan kau tahu, kan? Aku bukan orang lemah."
Lian mengamati.
"Sumber mana ada banyak, Fen. Hahaue dan aku punya darkness. Ketakutan, putus asa, energi kejahatan—semua sumber energi murni kegelapan. Tapi bagaimana dengan sumber energi sihirmu?"
Fen kehilangan keseimbangan.
Lian menangkapnya dan membaringkan kepala Fen di paha.
"Kau tahu sumber energi sihirmu tidak? Berdasarkan tipe sihirmu?"
Fen awalnya mengira Tedros benar-benar menyedot mana.
Lalu ia mencoba merasakan ruang sekitar.
Tidak ada suplai.
Itulah bedanya.
"Sihir selalu punya suplai di mana-mana," katanya setelah menyadari. "Aku terlanjur mengaktifkan sihirku terus-menerus untuk mencari titik lemah. Di sini tidak ada energi umum untuk diambil. Kita bukan sedang disedot. Kita berada di ruang terisolasi."
Glenn mendekat.
Sebelum ikut bicara, Glenn sebenarnya sedang merapikan tanaman yang rusak akibat guncangan kapal. Pot-pot pecah sudah dikumpulkan. Daun kusut disentuh dengan energi sampai kembali segar. Baginya tanaman bukan dekorasi. Mereka seperti saksi bisu dari perjalanan bertahun-tahun jauh dari rumah—bukti bahwa kehidupan selalu menemukan cara bertahan di tempat asing.
Glenn mendengar percakapan Fen dan Lian tanpa bermaksud menguping. Penyebutan "sihir" terdengar sedikit kaku baginya; kekuatan yang dimiliki setiap orang di dunianya selalu terhubung dengan sejarah dan emosi keluarga, tidak sesederhana senjata ajaib. Namun melihat Fen semakin lemah membuatnya memotong percakapan.
"Apa kalian merasakan sesuatu?"
Ia juga sadar ada tekanan tak kasatmata yang masih mengawasi kapal. Tedros berkata Reverse Mirror baik-baik saja, tetapi situasi mereka sendiri memberi alasan cukup untuk meragukan definisi "baik-baik saja" seorang raja semesta.
Ia lalu menatap Charlesvin dan Mona.
"Kalian berdua, beristirahatlah. Sudah giliranku berjaga."
Kreshnik berdiri dan meregangkan tubuh.
Kreshnik sudah duduk terlalu lama di depan antarmuka. Ia mencoba mengatur komunikasi, membaca navigasi, dan memahami apakah penglihatan di luar yang sekarang gelap gulita lebih nyata daripada langit Averion yang sebelumnya mereka lihat. Sensor mendeteksi sesuatu yang tidak bisa diidentifikasi menghalangi jalur. Menerobos tanpa data hanya mengubah satu ketidakpastian menjadi tabrakan.
Pemandangan Glenn yang merawat tanaman memberi kontras yang aneh dengan teknologi di sekitar mereka dan, tanpa disadari, menurunkan ketegangan. Kreshnik pernah hidup sebagai raja yang kemudian meninggalkan kerajaan karena identitas itu membelenggu kebebasan. Ia tahu betapa melelahkan memegang keputusan yang menentukan nasib banyak orang.
"Regalis beruntung punya pilot seperti kalian," kata Glenn.
Kreshnik hanya terkekeh. "Terlalu cepat untuk memuji."
Namun pujian itu tetap membuatnya melihat Charlesvin dengan sudut berbeda. Menjadi dewasa dan bijak ketika semua hal berada di luar kendali bukan kemampuan yang muncul tanpa rasa lelah.
"Glenn benar. Kita perlu strategi untuk bertahan dengan pikiran jernih. Tapi aku terbuka menerima saran dan solusi. Benar begitu, Charlesvin?"
Charlesvin menatap layar.
"Apa kau pikir kita bisa mencoba dengan melepaskan serangan?"
Ia kemudian menarik napas.
Charlesvin tidak menerima kalimat Glenn sebagai keberuntungan. Ia membawa semua orang ke sini. Ia yang mengambil keputusan. Paranoia tentang kegagalan bukan muncul karena takut mati, tetapi karena membayangkan rekannya terjebak akibat komando yang salah.
"Bertahan sudah jadi kebiasaan kita," katanya, senyum kecil dipaksakan agar tetap ada. "Tidak ada yang tahu hari esok. Sebagai pemimpin, aku harus memberikan optimisme lewat komando. Dan sebagai timbal balik, tegur aku kalau salah. Aku percaya kalian."
Bagi Charlesvin, kepercayaan tersebut bukan kalimat manis. Ia tahu ego dan kebanggaan dapat membuat seseorang berjalan terlalu jauh. Meminta orang lain mengoreksi dirinya adalah cara terakhir menjaga agar ego itu tidak membawa mereka semua menuju kehampaan.
Fen akhirnya duduk dengan bantuan Lian.
Fen sempat canggung ketika sadar kepalanya berada di paha Lian dan segera berusaha memiringkan badan. Namun kelemahan tubuh membuat gerakan itu tidak banyak membantu. Ia masih mempertahankan kebanggaan dalam suara: "Meski istimewa, sihirku tetap sama seperti kalian. Biasanya semesta menyediakan suplai energi tanpa perlu kupikirkan."
Setelah mencoba menyerap energi sekitar dan tidak menemukan apa pun, ia akhirnya mengoreksi tuduhan awal kepada Tedros. Bukan berarti raja semesta sedang menyedot mananya secara aktif. Ruang ini sendiri yang terisolasi dari suplai energi umum. Fen telah membuang tenaga terus-menerus dengan fragility untuk mencari titik lemah pada sesuatu yang bahkan tidak memberinya medium untuk dibaca.
Kesadaran itu lebih mengkhawatirkan sekaligus lebih berguna. Mereka sekarang tahu ada batas struktural yang berbeda, bukan sekadar lawan yang menyedot daya.
"Pertama, semesta ini dalam kondisi buruk. Banyak pihak di luar memperhatikannya. Itu alasan aku di sini—memeriksa. Kalau terbukti rusak, Dinasti Xuan akan bertindak sebelum dimanfaatkan pihak yang lebih berbahaya."
Ia menatap struktur kapal.
"Kedua, kalau kalian mengejar Ex Hoc Mundo dengan teknologi seperti ini, kalian membuang waktu. Kapal ini dibuat untuk berpindah tempat, bukan melacak sesuatu yang tidak ingin ditemukan."
Fen berhenti, lalu mengambil keputusan.
"Satu-satunya cara menemukan jawaban adalah keluar dan melihat langsung struktur semesta. Tidak ada alat di kapal yang bisa membaca hukum ruang dan waktu tempat ini. Jadi aku akan membawa kalian keluar dengan alkimia."
Semua terdiam.
"Sebagai catatan—sekali lagi, aku bukan orang lemah. Tapi kemampuan ajaib butuh biaya besar. Setelah menggunakannya, aku akan tidak sadar. Selama itu aku ingin kalian mengamati semesta ini dengan teliti. Tentukan sendiri apakah semesta ini masih layak dipertahankan, atau sudah seharusnya dikorbankan."
Lian menatap Fen.
"Tunggu dulu. Apa dan siapa yang akan jadi pertukaran? Maksudmu kita keluar dari kapal dan meneliti struktur secara langsung?"
Ia sempat menawarkan gagasan untuk mengambil risiko sendiri, tetapi kekhawatiran itu justru membuatnya menjauh dari kelompok.
Charlesvin menyusul dan menahannya dari keputusan sepihak.
Ia mengingatkan bahwa Fen membawa Lian ke perjalanan ini, bahwa mereka semua berada dalam tim yang sama, dan bahwa mengorbankan diri tanpa koordinasi hanya menambahkan beban baru.
Lian akhirnya kembali ke sisi Fen.
Charlesvin sendiri sempat berjalan sendirian di koridor.
Di sana halusinasi menyerangnya.
Apa kau pantas mengatakan itu?
Lancang sekali kau merasa layak.
Kau tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Tanganmu hanya tahu merenggut.
Bayangan ayah yang ia bunuh, pemakaman yang tidak ia hadiri, dan orang-orang yang gagal diselamatkan menyatu menjadi suara di kepala.
Charlesvin mundur dengan wajah pucat dan keringat dingin.
Namun ketika kembali ke ruang utama, senyum tipis sudah dipasang lagi.
"Maaf karena telat padahal aku yang menjemputnya."
Ia menatap Fen.
"Jadi beginilah sekarang. Tidak perlu banyak hal ditunda. Seperti kataku sebelumnya, aku terima tawaranmu dan kita bertaruh untuk isi kesepakatan yang tidak tertulis ini. Mungkin aku baru dalam ini, tapi aku akan sanggupi dengan serius. Jadi lakukan kapan pun kau siap, Fen."
Fen belum merapal alkimia. Ia masih mengatur napas dan menahan sisa tenaga, sementara seluruh kapal bersiap menghadapi pertukaran yang bahkan belum mereka ketahui harganya. Charlesvin sudah menerima taruhan itu; pelaksanaannya masih menunggu kesiapan Fen.
• • •
Ada kelompok lain yang sama sekali tidak berada di posisi terhormat.
Di luar sebuah toilet tertempel tulisan: TOILET SEDANG DIPERBAIKI.
Tulisan itu sudah ada berhari-hari.
Mungkin berminggu-minggu.
Anatta awalnya hanya masuk untuk menunggu seorang klien.
Waktu menunggu mereka sudah terlalu panjang sampai tujuan awal hampir terasa seperti cerita yang diceritakan orang lain. Mereka menghabiskan jam demi jam di toilet yang ditutup dengan alasan perbaikan, menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
Untuk membunuh bosan, semua jenis permainan sudah dipakai. Kartu remi: selesai. UNO: selesai. Ular tangga: selesai. Tebak-tebakan serendah "satu tambah satu berapa" pun sudah diulang sampai tidak seorang pun mau menjawab.
Eddie baru saja kalah lagi dari Krietz—kekalahan ke-101 dari sekitar seratus dua puluh permainan. Kartu dilempar ke lantai karena frustrasi.
"Sial! Aku benci permainan ini!"
Ia kemudian masih sempat mengeluh bahwa punggung orang tua pasti sudah encok dan klien nanti harus dimintai biaya tambahan untuk obat pegal linu.
Krietz di luar hanya terkikik menyebalkan. Dalam hati, ia justru memaki Eddie karena permainan terlalu mudah dan duduk berkepanjangan membuat ambeiennya semakin menyiksa. Baginya inilah bencana sesungguhnya dari misi panjang di toilet.
Menunggu berubah menjadi tinggal.
Tinggal berubah menjadi absurditas.
"Sudah cukup! Aku akan keluar dari toilet!"
Horcus akhirnya menyerah.
Semua topik obrolan sudah habis. Teori konspirasi sudah didaur ulang berkali-kali. Tidak ada alasan masuk akal untuk terus bersembunyi.
Krietz masih bermain kartu sambil mengutuk kondisi tubuhnya sendiri.
"Akikikikiki."
Vlad membuang koran terakhir yang sudah berkali-kali dialihfungsikan menjadi pengganti tisu.
Koran-koran yang semula dipakai membaca berita sudah lama berubah fungsi menjadi alternatif tisu toilet. Vlad bahkan sempat mengomel karena seluruh headline seperti hanya tahu membahas Terra, padahal menurutnya masih banyak berita yang jauh lebih menarik—racun kopi uranium, penembak atas perintah orang tidak jelas, lomba kecerdasan artifisial, bahkan joget efisiensi.
Ia menyimpulkan klien mereka mungkin koruptor yang keburu ditangkap sebelum sempat datang. Tidak ada bukti; hanya asumsi yang terasa cukup bagus untuk dibicarakan setelah semua teori konspirasi lain sudah habis.
"Gua yakin client koruptor. Bisa aja kasus bahan bakar yang ramai kemarin dalangnya dia."
Pada akhirnya alasan klien terlambat tidak lagi penting. Yang penting mereka tidak bisa terus membusuk di sarang setan ini.
"Sudah gua bilang, kita seharusnya cabut dari sarang setan ini dari awal. Terlambat berminggu-minggu itu bukan telat lagi, melainkan minta dihajar."
Ia asal menebak klien mungkin tertangkap karena korupsi.
"Gua juga bakal keluar. Seminggu lagi di sini, kayaknya gua bakal menghancurkan seluruh toilet di dunia."
Vlad membuka pintu.
Ia menatap langit.
"Tunggu. Bukannya ini waktu siang?"
Masih gelap.
"Apakah kita kena ilusi? Inikah Mugen Tsuk... gigi?"
Suara langkah sepatu mendekat.
Aroma rokok dan nikotin ikut masuk.
Seorang pria dengan fedora berdiri tepat di depan pintu toilet.
The Collector.
Sang Kolektor tidak datang dengan alarm atau ledakan. Hanya langkah sepatu, aroma rokok, dan fedora yang sedikit miring. Kehadirannya justru terasa lebih berbahaya karena tidak ada tanda bahwa ia harus mencari mereka terlebih dahulu.
Ia berdiri tepat di depan pintu yang baru dibuka Vlad.
"Jadi, kau adalah sang penyedia jasa untuk menghapus identitas orang dari semesta?"
Nada bicaranya bukan rasa ingin tahu biasa. Setiap kata seperti satu gerakan di dalam rencana yang sudah disusun jauh sebelum percakapan dimulai.
Kolektor mengisap rokok, lalu mengembuskan asap perlahan. "Dunia dipenuhi peran-peran kecil yang tidak disadari para pemainnya. Dan kau—atau kalian—sepertinya punya peran besar dalam rencanaku."
Ruang di sekitar mereka bergetar samar.
"Sampai sejauh mana kalian bisa menghilangkan eksistensi dari keberadaanku—keberadaan sang Kolektor?"
Ia tidak menyembunyikan bahwa dirinya adalah klien yang selama ini mereka tunggu. Justru itu yang membuat insting Horcus menjerit lebih keras: seseorang yang datang sebagai klien tidak seharusnya membuat sensor bahaya terasa seperti ini.
Horcus langsung mengenali alarm bahaya.
Tangannya masuk ke saku.
BOOM.
Bom asap meledak, menutup ruangan dengan kabut ungu keabu-abuan yang dicampur zat pengacau sensor multidimensional.
Horcus menarik kerah Vlad kembali ke toilet.
"Wahai temanku, tarik napas, fokus, dan improvisasi!"
Ia menilai semua jalan keluar.
Pikirannya bergerak terlalu cepat.
Jendela? Terlalu sempit.
Pintu? Bunuh diri.
Ventilasi? Tubuhnya tidak akan muat.
Bom asap hanya membeli waktu. Begitu Kolektor menemukan cara membaca kabut yang mengacaukan sensor multidimensional, mereka kembali berada dalam posisi terbuka.
Mata Horcus jatuh pada kloset.
Ia menatap kloset.
Menatap teman-temannya.
Lalu menatap kloset lagi.
Dalam situasi normal, gagasan yang muncul akan disebut kegilaan. Dalam situasi ini, kegeniusan dan kegilaan mungkin memang tidak punya garis pemisah.
Horcus menatap kloset.
Lalu kloset lagi.
Vlad mengikuti arah pandang itu.
"Sangat tidak terhormat, tck."
Ia menghela napas.
"Tapi gua akui kita bisa bertahan sejauh ini berkat insting lo. Kalau emang gak ada jalan lain, lakukan saja. Gua bakal langsung menyusul saat kalian semua sudah masuk."
Vlad berniat menjadi orang terakhir yang masuk—bukan karena takut, melainkan karena ia masih menganggap dirinya penjaga yang harus menutup barisan.
Di dalam, Anatta menatap satu-satunya rute yang bahkan bagi mereka terasa terlalu absurd.
Di luar asap, langkah Kolektor tidak menjauh.
Horcus menatap kloset sekali lagi. Tidak seorang pun bergerak.
Untuk saat itu, satu-satunya jalan keluar mereka adalah lubang yang bahkan terlalu tidak terhormat untuk disebut sebuah rencana.