Marks
Aeon, Averion. Tengah malam.
Hari di Haravos, tempat pelelangan budak terbesar di Averion, telah menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang berpusat pada moralitas. Terra—para pengungsi yang kehilangan hak mereka setelah kejatuhan Overrealm—dipaksa menonjolkan daya tarik dengan berbagai cara demi menarik perhatian para elite. Sebagian mendapatkan majikan yang bersedia membayar mahal untuk memiliki mereka, sedangkan sisanya dieksekusi di depan kerumunan dan dijadikan hiburan bagi Gale.
Namun, tidak semua Terra menerima nasibnya. Pemberontakan pecah di tengah pelelangan. Sebagian area pelelangan hancur, sejumlah elite terluka atau tewas, dan kerugian yang ditimbulkan mencapai lebih dari lima ratus miliar.
Kejadian di Haravos membuka beragam pandangan Gale dalam menghadapi kebencian terhadap Terra. Ada yang merasa berada di atas angin, ada yang berpegang kokoh pada prinsip, ada yang mengklaim dirinya paling benar, dan ada pula yang pragmatis serta tidak peduli terhadap apa pun yang terjadi. Masing-masing memiliki cara sendiri dalam mengendalikan garis tipis antara baik dan buruk.
Dampaknya tidak berhenti pada moralitas. Keseimbangan ekonomi ikut terguncang. Penjualan budak menghantam perputaran uang legal dan mengancam negara-negara yang bergantung pada pajak. Untuk menstabilkan perekonomian, pemerintah kemudian melegalkan kembali pelelangan budak dengan ketentuan baru: setiap budak yang dibeli dikenai pajak sebesar lima puluh delapan persen. Pemilik diwajibkan memberi tanda kepemilikan—melalui besi panas, cambukan berinisial, atau bentuk penandaan lain yang diakui. Terra tanpa tanda akan dilenyapkan demi mengurangi kepadatan Averion.
Kebijakan itu memperparah penderitaan Terra, tetapi bagi sebagian besar Gale, hal tersebut bukan persoalan yang layak dipikirkan terlalu lama.
Satu hari telah berlalu sejak peristiwa Haravos. Kehidupan di Aeon, pusat peradaban modern Averion, kembali bergerak seperti biasa. Di balik kemewahan kota, sesuatu yang lebih besar tetap menunggu. Setiap beberapa masa, takdir seolah bergema sebagai petunjuk. Runtuhnya Overrealm masih menjadi duri yang meninggalkan pertanyaan.
Apa yang sebenarnya diinginkan takdir? Apa yang akan dilakukan Gale dan Terra hingga memicu gema berikutnya?
Aeon mungkin menyimpan jawabannya.
* * *
Gerimis turun di dekat terminal. Di bawah flyover, beberapa mayat Terra yang dieksekusi setelah pemberontakan Haravos masih tergantung sebagai peringatan. Tubuh-tubuh itu dibiarkan mengering di bawah matahari, kemudian kembali basah ketika hujan datang. Salah satunya adalah Yuuya.
Hyde berjalan santai di bawah rintik air. Pejalan kaki lain melewati pemandangan itu seolah tak ada yang janggal. Ia melihat bayangan dirinya sendiri di genangan air; kesedihan datang dan pergi sesuka hati. Nama gadis bertanduk yang kemarin sempat ia tawar bahkan sudah mulai kabur dari ingatannya. Dompetnya hilang dicopet pun tak cukup membuatnya cemas. Ia bisa tidur di mana saja dan berebut makanan sisa dengan kucing liar jika perlu.
Kebahagiaannya memang sederhana. Salah satunya adalah hujan.
Ia merentangkan kedua tangan dan berputar tanpa memedulikan tatapan warga. Beberapa orang mengenalinya sebagai sosok yang dahulu menginspirasi banyak orang melalui musik, tetapi lebih banyak yang sekarang hanya mengenalnya sebagai penjahat.
Seorang pejalan kaki di bawah payung mencoba mengambil gambarnya diam-diam. Hyde justru tersenyum lebar.
"Ah, pemandangan ini memang spot selfie terbaik!"
Ia berpose dengan antusias, menjadikan mayat-mayat Terra yang tergantung sebagai latar belakang. Aura seorang superstar masih melekat pada penampilannya yang berantakan.
Setelah foto selesai, Hyde melambaikan tangan.
"Sehat selalu, orang baik!"
Orang itu membagikan hasil fotonya sebelum melanjutkan perjalanan. Hyde baru kemudian memperhatikan ponselnya dan menemukan puluhan pesan serta panggilan tak terjawab. Mode senyap rupanya aktif sejak entah kapan.
Ia mengirim salah satu foto barunya kepada Dorian, lalu menjawab panggilan yang kembali masuk. Suara dari seberang begitu keras sampai Hyde spontan menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ah, sial. Aku beneran lupa soal itu."
Ia terkekeh setelah membaca pesan-pesan kakaknya. Mereka memiliki sebuah tugas yang, menurut cara berpikir mereka, bisa disebut mulia. Jika proyek itu berhasil, Hyde tidak perlu terus menjadi gelandangan. Mereka akan membuat sebuah gebrakan yang dapat mengubah nasib Terra—sampah yang akan disulap menjadi berlian.
Beberapa pejalan kaki di depannya mendadak mempercepat langkah. Ada yang sampai terpeleset di jalan licin. Klakson dibunyikan tanpa sopan santun, lalu sebuah mobil mewah membanting setir dan berhenti tidak jauh dari Hyde. Sejumlah wajah muncul dari jendela, mengisyaratkannya agar masuk. Tato mawar biru tampak di tengkuk mereka.
Hyde menyeringai puas. Ketua mafia itu memperlakukannya cukup terhormat sampai mengirim anak buah khusus untuk menjemput. Proyek ini memang hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang nekat dan gila seperti dirinya.
Ia melangkah ke arah mobil, lalu berhenti.
"Aku punya sebuah permintaan sebelum pergi."
Tangannya menunjuk mayat Terra yang tergantung di bawah flyover.
"Dorian tidak bisa bekerja kalau suasana hatinya kacau. Aku harus bawakan sebuah hadiah untuknya."
* * *
Di tempat lain, sebuah toilet umum menjadi lokasi pertemuan yang sama sekali tidak pantas bagi pembahasan apa pun yang terdengar penting.
Krietz-Christopher von Schwarzöpf masih berada di salah satu bilik. Entah sudah berapa lama ia bersembunyi di sana. Ia menangis sambil mengeluhkan rasa sakit di bagian tubuh yang seharusnya tidak perlu dibicarakan di ruang terbuka.
"Tangisku ini adalah lamanya menunggu, dan kalian bahkan tak datang ke tempat persembunyian sampai aku berak terlalu lama dan kena gangguan di pantat!"
Ia menatap kloset dengan sedikit darah dan kembali meratap.
"Ah, dudukku pun akan tersakiti. Hidup ini memang saling menyakiti. Kalau sakit hatiku tentang gagal dalam bertugas, maka sakit pantatku mengalahkan semuanya."
Dari bilik lain, Horcus berbicara sembari menyeruput mi instan langsung dari mangkuk plastik.
"Maafkan aku, temanku. Aku kebablasan. Semenjak kita terdampar di semesta ini, fokusku hancur seperti mi instan yang katanya instan tapi nyatanya harus dimasak dulu. Manusia dan kegiatannya ada di mana-mana."
Ia sama sekali tidak melihat ada masalah dengan makan dan buang air di waktu bersamaan.
"Christopher, temanku. Apakah selama kau bertumbuk di tempat ini, ada klien yang datang mengetuk?"
Horcus berdehem, lalu memasang wajah serius.
"Kalau tidak ada—pertama-tama, bersihkan pantatmu dulu. Kedua, aku ada cerita. Kemarin di pelelangan, aku sempat mampir ke bagian perbudakan. Aku merasa ada wanita yang memanggilku, 'Horcus, bantu aku!' Tapi ketika aku masuk, budak itu diam saja. Sampai aku sadar... dia ternyata bisu."
Ia menatap kosong ke depan.
"Menurutmu, budak wanita itu sebenarnya hantu?"
Pintu salah satu bilik mendadak didobrak dari dalam. Magnus muncul dengan cara yang sama dramatisnya seperti kebiasaannya menghancurkan fasilitas umum.
"Aku mendengar suara jeritan pantat yang terluka dan aroma mi instan basi. Tidakkah kalian sadar ini semua bagian dari konspirasi kosmik yang lebih besar? Apakah kalian merasakan gravitasi kebenaran?"
Ia mengangkat telunjuk dan sengaja memberi jeda.
"Aku telah mendapatkan jawabannya di pelelangan. Aku menemukan kembaranku di semesta ini, sebuah refleksi di cermin yang kotor! Kepribadiannya berbahaya seperti kentut di ruangan kedap, tapi wajahnya sangat mirip! Tapi perlawananku terhadapnya jauh lebih hebat. Kalian paham maksudku, kan?!"
Magnus kemudian menceritakan pertemuannya dengan pria berambut pirang yang sempat menendang seorang budak Terra. Menurutnya, Nullvian patut dicurigai dan mungkin memiliki kaitan dengan persoalan dua dunia yang berkebalikan.
Vlad berada tidak jauh dari mereka sambil membaca koran, sama sekali tidak terganggu oleh absurditas suasana.
"Itu sih salah lo sendiri, nunggu kok sambil berak. Padahal bisa nunggu sambil nyebat dan ngopi di warkop."
Ia melirik Horcus.
"Tunggu, lo yakin lo gak lagi halusinasi? Hantu itu nggak ada. Kayaknya habis ini lo perlu konsultasi sama psikolog."
Vlad kemudian mengangkat korannya sedikit.
"Gila, kata headline berita terkini ada kerusuhan di pelelangan sampai ada korban jiwa. Ini pelakunya bukan lo pada, kan? Kalau iya sih, habis ini kita harus siap-siap cabut ke semesta lain."
Tangisan Krietz berhenti seketika. Ia memperbaiki rambutnya dan mulai menanggapi semua orang sekaligus, termasuk menuduh Horcus terlalu mesum hingga seorang wanita memilih berpura-pura bisu, memarahi Magnus karena suka mengagetkan orang, dan mengkritik Vlad yang menurutnya jarang mandi.
"Mana nih satu orang lagi, yang om-om berotot itu? Kalian gak ngajak dia, atau malah ngunci dia di rumah biar nggak keluyuran dengan mamerin otot?"
Sebuah suara datang dari atas.
"Hei, aku sudah di sini dari tadi."
Ventilasi di langit-langit terbuka. Eddie muncul dalam posisi kepala terbalik, setengah tubuhnya masih tersangkut karena ukurannya terlalu besar untuk jalur sempit itu.
"Tidur di sini enak, gak perlu bayar. Meski kadang aku suka nemu tikus atau kecoak lewat di depan mata."
Ia memandang satu per satu teman-temannya.
"Tapi cerita kalian seru-seru. Aku ingin lihat kembaran Magnus dan hantu yang bicara sama Oldman Horcus. Kemarin malam aku cuma nemuin anak muda yang mau jadi Romeo dan Juliet versi semesta ini. Sungguh jadi muda itu enak, karena bisa membucin."
Ketika Vlad mengulangi kabar mengenai kerusuhan pelelangan, ekspresi Eddie langsung berubah.
"Tunggu. Ada kerusuhan di pelelangan? Hei! Mereka itu Romeo dan Juliet yang aku maksud!"
Toilet umum itu akhirnya berubah menjadi ruang diskusi mengenai bencana Haravos, hanya saja tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membuatnya terdengar bermartabat.
* * *
Malam yang sama, Butterfly Red Lantern di Dravakon berada dalam keadaan yang jauh dari santai.
Tuntutan terhadap Yoshitsune Date telah menyebar dengan cepat. Genevieve Ravencourt menuduhnya melakukan pelanggaran dan penyerangan terhadap Pearl, sementara Don Antonio menggunakan pengaruhnya untuk menyewa pengacara ternama serta menghadirkan saksi yang menyudutkan Yoshitsune. Di mata banyak warga, masalah itu semakin buruk karena Yoshitsune dianggap terlalu membela Terra—ras yang kini dibenci mayoritas Gale.
Massa memenuhi depan rumah hiburan. Batu dan telur busuk dilemparkan ke arah bangunan. Banner bertuliskan Butterfly Red Lantern nyaris terlepas dari atap.
"What the hell...?"
Rindou berdiri di belakang kerumunan dengan firasat buruk. Tugasnya di rumah lelang sebenarnya sudah selesai; Frederic telah ia serahkan kepada Andrea, karena ia merasa tidak memerlukan budak yang hanya menambah biaya hidup. Namun Red Lantern adalah rumahnya. Ia tidak mungkin membiarkan ibunya berada di dalam saat situasi seperti ini.
"Tsk."
Ia menerobos kerumunan dengan kasar.
"Sialan, cepat minggir kalian!"
Rindou mendorong beberapa orang yang lebih besar darinya dan tidak segan meninju mereka yang menghalangi jalan. Di balik sikap petakilannya, kemarahannya bukan sesuatu yang aman untuk dipancing.
"YOSHITSUNE BRENGSEK, DI MANA KAU?!"
Teriakannya disengaja. Ia membiarkan massa mengira dirinya berada di pihak yang sama, meskipun hasrat untuk memukul Yoshitsune memang benar-benar ada. Menurut Rin, semua ini tidak akan terjadi jika pria itu tahu kapan harus menutup mulut.
Di dalam gedung, Lyod baru kembali dari Aeon dan mengambil alih berbagai urusan setelah Yoshitsune tidak lagi berada di Dravakon. Ia menyuruh salah satu pengurus menyiapkan ruang violet untuk seorang tamu utama Dategumi, lalu memastikan pemuda itu dapat beristirahat dengan aman.
Setelah itu ia mengambil sebuah map berisi dokumen resmi dan berjalan ke pintu depan.
Pemandangan yang menyambutnya membuat ekspresi datarnya semakin sulit dibaca.
"Apa yang kalian lakukan?" katanya. "Apa kalian sudah menjadi seperti kacang yang lupa pada kulitnya? Wah, aku tidak tahu jika kepercayaan kalian mudah sekali terhasut hanya karena rumor itu."
Ia menyilangkan kedua tangan di dada.
"Hentikan menyebut nama Yoshitsune-sama dengan mulut sampah kalian itu."
Lima limusin putih kemudian berhenti di ujung jalan. Pearl Rosenkrantz turun dari salah satunya dengan langkah penuh percaya diri. Di belakangnya, tiga budak dibawa dengan rantai di leher—Jerlan, Jack, dan Cordelia. Anak buah keluarga Rosenkrantz mendorong mereka agar terus bergerak.
Pearl menilai kerumunan dengan tatapan meremehkan. Ketika melihat Rindou berusaha menerobos seorang diri, sebuah senyum muncul di wajahnya.
"Apakah ini caramu untuk membela mereka yang kau anggap berharga?" katanya lantang, mengarahkan ucapan kepada pihak Red Lantern. "Teganya membiarkan cowok itu terhina di depan massa. Dia hanya sedang mengkhawatirkan keadaan ibunya."
Lalu ia pura-pura meringis sambil memegang pergelangan kaki.
"Aduh! Aku sangat bersyukur Bibi Gin sempat menolongku dari serangan pria tidak berperasaan ini."
Suara Pearl cukup keras untuk didengar massa. Simpati pun dengan cepat beralih kepadanya. Di mata publik, ia adalah gadis muda yang menjadi korban dan masih cukup berani datang berhadapan dengan orang-orang yang dianggap telah menyakitinya.
Pearl mendekatkan wajah pada Xavi, pengawal yang sejak awal menyertainya.
"Pastikan cowok di sana berhasil menerobos dan memukul wajah Yoshitsune sampai puas."
"Baik, Nona."
Xavi bergerak masuk ke dalam desakan. Dibantu anggota mafia lain, ia menciptakan jalur dan menepuk bahu Rindou.
"Terima kasihnya nanti saja."
Ia mendorong Rin ke depan.
"Lanjutkanlah."
Sementara itu, Riko keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang lebih pantas. Ia menatap Lyod dengan dingin.
"Rin-chan tidak akan terhasut rumor yang kau maksud. Dia punya alasan, dan aku akan selalu lebih percaya intuisi anakku sendiri."
Ia menolak melayani tamu dalam situasi seperti ini.
"Di mana Yoshitsune sekarang?"
Pertanyaan itu diucapkan tanpa formalitas.
"Rin-chan tidak berutang apa pun. Aku yang merawatnya sendiri."
Riko mendorong Lyod agar memberi jalan. Lyod tidak menahannya. Perempuan itu keluar, melindungi kepala dari lemparan batu dengan lengan, lalu menatap Pearl dan massa sebelum memandang anaknya yang masih berada di tengah kerumunan.
"Aku tidak berurusan dengan pemilik bordil dan segala tindakannya. Izinkan aku pergi membawa anakku dari tempat ini."
Lyod membiarkan pintu terbuka, tetapi tatapannya kini tertuju pada Pearl.
Ia sudah cukup lama memahami kemungkinan seperti ini akan datang. Yoshitsune pernah memprediksi suatu hari pertengkarannya dengan Don Antonio akan membesar dan menyeret Red Lantern. Kini, dengan hak kepemilikan serta kepemimpinan organisasi yang telah berpindah secara resmi, Lyod harus mengungkapkan hal yang selama ini sengaja dirahasiakan.
"And the name of Dategumi protector, I'm the young lord. I call you to protect me. Open the seal."
Cahaya putih muncul di sisi tubuhnya. Sebuah rune bergambar pertapa tua terukir, lalu pecah ketika tangannya menghantamnya. Angin dingin menyebar ke arah Xavi dan orang-orang di depan. Suhu turun tajam.
"Jika kalian memaksa masuk, itu sama saja kalian masuk tanpa izin ke rumah orang," kata Lyod. "Cukup basa-basinya. Yoshitsune tidak ada di sini dan dia tidak lagi terlibat dalam Red Lantern."
Ia menatap semuanya tanpa gentar.
"Dengar baik-baik. Yoshitsune bukan lagi pemimpin Butterfly Red Lantern, bukan lagi pemilik rumah hiburan ini, dan bukan lagi pemilik tanah Dravakon. Apa pun yang dia lakukan tidak ada hubungannya lagi dengan organisasi. Jika tetap memaksa masuk, maka sebagai pemimpin yang baru, saya tidak akan segan mengambil tindakan berlebih—termasuk membekukan jantung Anda."
Xavi menggigil dalam mantel tebalnya. Rindou sendiri malah mengubah rencana.
"Phew, kalian datang tepat waktu. Trims!"
Ia sempat menoleh pada Pearl dan memberi kedipan singkat. Kemarahan yang sejak tadi ditunjukkannya lenyap untuk sesaat. Ada perjanjian lain di balik layar: selain pengacara dan saksi di pengadilan, Pearl telah menyewa jasa Rindou dan Riko untuk membantu menjatuhkan martabat pihak Red Lantern. Imbalannya cukup besar untuk memberi mereka kesempatan membeli tempat tinggal baru. Rin selalu cukup oportunis untuk memihak pihak yang paling menguntungkan.
"Ibu, cepat minggir! Urusanku di sini belum selesai!"
Riko masih berada terlalu dekat dengan massa.
Rin kemudian memandang Lyod.
"Aku cuma percaya diriku sendiri."
Ketika Lyod menyatakan dirinya pemimpin baru, Rin mendengus.
"Ya, ya. Udah selesai yapping-nya? Katakan pada Yoshitsune-sama-mu itu untuk terus bersembunyi. Aku tetap bisa menemukannya di mana pun dia berada. Dan sebaiknya kau tidak membuat Ms. Pearl tersinggung part dua."
Ia mengaktifkan Arcana. Sigil simbol kreasi muncul dengan percikan listrik kebiruan.
"Electric currents, heed my command. Open the seal and repel this frost!"
Listrik menyambar udara dan pijakan di sekitarnya, menghasilkan panas untuk menahan hawa dingin Lyod. Rin berdiri di depan Xavi dan orang-orang lain, lalu menunjuk sebuah kamera kecil yang terpasang pada bajunya.
"Aksimu barusan sudah kurekam. Kau bisa kutuntut karena penyerangan dan penyalahgunaan kekuatan, seperti Yoshitsune."
Lyod menghela napas.
"Penyalahgunaan, katamu? Aku melakukan ini sebagai pemilik rumah yang mencegah orang asing mengacak-acak rumahnya. Dan untuk apa aku menyinggung seorang Lady yang hanya berlindung di bawah ketiak ayahnya yang memiliki kuasa?"
Ia mengeluarkan map dan menunjukkan dokumen dengan stempel pemerintah.
"Yoshitsune tidak ada di sini. Harusnya jaringan informasi Lady mafia itu lebih cepat daripada kami. Yoshitsune bebas dari tuduhan yang diberikan, tetapi ada sanksi lain. Dia diasingkan dan dilarang menginjakkan kaki di Dravakon. Kalau kalian menuntut permintaan maaf darinya, cari sendiri keberadaannya."
Lyod mengangkat dokumen itu sedikit lebih tinggi.
"Dan dengar, kalian para dungu yang gampang terhasut. Red Lantern sudah lama resmi diakui bisnisnya oleh pemerintah pusat. Kalau kalian tetap berbuat onar, kalian bisa terkena sanksi. Sejak tiga tahun lalu Yoshitsune juga bukan lagi pemimpin BRL. Apa yang dia lakukan atas kehendak pribadi, bukan organisasi."
Udara dingin masih menggigit. Xavi segera kembali ke sisi Pearl dan meletakkan mantel di pundaknya.
"Bolehkah saya mengusir massa ini, Nona? Perselisihan ini bisa membuat mereka celaka."
Pearl menjawab dengan senyum lembut.
"Oh, Xavi, kamu selalu bisa melakukan apa pun yang kamu mau."
Ia lalu memandang Rindou.
"Tuan Hinomaru, pastikan kamu merekam semua yang terjadi di sini."
Setelah itu, Pearl memberi perintah yang membuat suasana berubah.
Anak buah mafia mulai menelanjangi Jerlan, Jack, dan Cordelia sampai hanya menyisakan pakaian dalam. Bensin disiramkan ke tubuh mereka. Pearl memegang korek dan mengangkat dagu Cordelia dengan ujung sepatu hak tingginya.
"Anjing-anjing liar yang hina. Kuberi kalian kesempatan mengutarakan kata-kata terakhir."
Lyod hanya melirik sekilas.
"Kalian itu serakah sekali, ya. Mau melakukan apa pun terhadap wanita itu bukan urusanku. Akan berbeda kalau kalian mau mengacau di rumahku."
Ia masih berusaha tidak terpancing.
"Kenapa anjing-anjing ini suka sekali play victim di mana-mana."
Jack sudah hampir tidak mampu mengikuti perdebatan. Rantai menarik lehernya, tubuhnya didorong sampai terjungkal, dan kemudian bensin membasahi kulit. Bau menyengat membuatnya batuk dan pusing.
"Khh—uhuk..."
Cordelia sendiri tidak berdaya. Tatapannya bertemu dengan Lyod untuk sesaat, lalu ia menunduk.
"Maafkan aku, Tuan Muda."
Ia menutup mata, seolah benar-benar menerima kemungkinan kematian. Jika diberi satu permintaan terakhir, ia hanya ingin melihat lagi pemuda berambut pirang yang pernah memberinya harapan.
Rindou mendadak menoleh pada Pearl.
Ini bukan bagian dari perjanjian mereka.
Ia mematikan kameranya.
"Maaf, Ms. Pearl. Semua orang sudah menganggap kau korban. Yoshitsune maupun Lyod tidak akan bisa hidup tenang seperti dulu. Apa lagi yang kau inginkan?"
Nada suaranya hati-hati. Ibunya kini berada di bawah ancaman senjata, dipakai sebagai jaminan agar Rin tidak macam-macam.
"Aku bisa kembalikan uangnya. Lepaskan ibuku."
Listrik kembali berkumpul di telapak tangannya.
"Aku tidak akan mengulang kalimatku."
Xavi juga terpaku. Membakar budak hidup-hidup di tempat umum jelas melampaui batas yang ia perkirakan. Ketika Pearl hendak menyalakan korek, tangannya langsung menangkap pergelangan gadis itu. Ibu jarinya menutup sumber api.
"Nona, sepertinya Anda telah berlebihan."
Sejumlah senjata langsung mengarah kepadanya, tetapi Xavi tidak mundur.
Lyod melihat perubahan itu dengan senyum tipis.
"Apa sekarang aku perlu membeberkan isi kepala Yoshitsune waktu melihat sikap Lady Pearl? Harusnya dari tingkahnya saja kalian tahu kenapa Yoshitsune sampai menodongkan Arcana pada gadis manja yang kalian bela."
Ia bergerak tiga meter dari pintu dan membekukan gagang serta permukaannya agar siapa pun berpikir dua kali sebelum menerobos.
"Sadarlah. Lady yang kalian bantu itu tidak sebaik yang kalian pikirkan. Rumah hiburan yang kalian sebut bordil ini masih menyejahterakan pekerjanya dan menganggap mereka makhluk yang pantas dilindungi. Aku juga punya kebencian pada Terra, tapi aku masih punya hati untuk memperlakukan mereka dengan baik."
Sirene memotong percakapan.
Sepuluh mobil dinas menyapu jalan. Polisi mengepung kawasan. Dari salah satu kendaraan turun Kimberly Hawkins, inspektur kepolisian Aeon dengan seragam rapi, rambut merah muda panjang, dan langkah penuh otoritas.
"Red Lantern dan Rosenkrantz."
Ia menilai setiap perwakilan yang masih berdiri.
"Saat saya menerima laporan warga tentang mafia, saya kira saya akan berhadapan dengan Don Antonio. Tapi yang saya temui tidak terlalu mengecewakan."
Kimberly berjalan ke tengah dua pihak.
"Tersangka Yoshitsune Date sudah memberi pengaruh buruk pada citra Red Lantern. Bahkan setelah dia dihukum, masyarakat masih tidak puas. Kepolisian menetapkan rumah hiburan ini dilarang beroperasi selama tiga bulan sampai kemarahan masyarakat mereda. Silakan tinggalkan tempat ini dan nikmati liburan kalian."
Nada suaranya tetap manis ketika aparat mulai memasang segel. Para wanita penghibur dan tamu dikeluarkan dari gedung.
Kimberly kemudian menghampiri Lyod dan membungkuk sedikit agar wajah mereka lebih sejajar.
"Pasti melelahkan berpura-pura jadi dewasa sebagai budak yang lancang. Kamu masih terlalu muda untuk memahami bagaimana dunia bekerja. Pada akhirnya semua berjalan di luar kendalimu. Kamu membiarkan seseorang mengacaukan segalanya."
Ia tidak menunggu jawaban dan berjalan kepada Pearl.
"Nona Rosenkrantz, kamu pasti tahu estetika balas dendam adalah tidak menodai tangan kita dengan pertumpahan darah. Lagipula, ayahmu akan menentang ide melenyapkan barang-barang investasi terbesarnya."
Kimberly melirik budak-budak yang berbau bensin.
"Atau kamu belum diberi tahu? Ayahmu sempat terlihat di rumah sakit. Saya penasaran alasannya, selain dengan baik hati mengantar seorang budak untuk ditandai."
Pernyataan itu tepat mengenai titik yang membuat Pearl tidak nyaman.
"Saya mewajibkanmu merawat anjing-anjingmu dengan perasaan. Saya hanya akan mendenda provokasi dan keributan yang mengganggu kenyamanan warga. Lalu kamu bisa sekalian pergi ke rumah sakit. Sebagai selebriti, pasti sulit tampil dengan kaki terkilir."
Xavi menghela napas lega.
"Terima kasih, Nona Polisi."
Ia meminta anggota mafia mengambil handuk dan membersihkan budak-budak sebelum dibawa pulang.
Pearl masih tersenyum.
"Aku baru puas kalau mereka digantung."
Namun ia akhirnya mengalah. Ia mendekati Kimberly seolah mereka sudah lama saling mengenal.
"Terima kasih atas perhatianmu, Inspektur. Aku bersedia membayarnya berapa pun yang Anda mau."
Sebuah amplop tebal berpindah tangan. Kimberly menerimanya dengan senyum bisnis.
"Aku suka warga yang kooperatif."
Pearl memerintahkan anak buahnya berkemas.
"Kita pergi."
Para budak diangkut kembali. Cordelia masih menutup mata, tetapi sebuah senyum samar muncul ketika menyadari Red Lantern setidaknya selamat untuk sementara.
Pearl melepaskan mantel Xavi dari pundaknya dan melemparkannya kembali.
Saat Xavi hendak mengikuti, Pearl mengangkat satu jari.
"Kau tetap di sini."
Itu hukuman karena ia berani menasihati dan menahannya di depan bawahan sendiri. Pearl masuk ke mobil dan mengemudikannya sendiri, membuktikan kakinya tidak cedera sama sekali.
Xavi hanya berdiri melongo.
"Hah? Dia bisa nyetir mobil...?"
Ia menghela napas.
"Well, terserahlah. Sepertinya gajiku dipotong besok."
Rindou memadamkan listrik di tangannya. Ketika ibunya menghampiri, ia mendahului teguran yang pasti akan datang.
"Aku sudah tahu Ibu mau bilang apa. Aku barusan cuma panik, oke? Kalau mau mukul, silakan. Aku gak akan melawan."
Riko justru memeluknya.
Rin membeku sejenak. Dua hari sebelum pelelangan, ia bahkan sudah tidak pulang ke rumah setelah menyerang seorang pelanggan tetap. Ia lelah melihat ibunya menghabiskan hidup untuk melayani puluhan pria, sementara dirinya menyelidiki identitas setiap tamu dengan harapan menemukan ayah yang tidak pernah dikenal.
Ia sudah terlalu lama memaksa dirinya menjadi dewasa.
"Bersabarlah. Aku akan cari uangnya lagi, jadi—"
Pelukan Riko semakin erat.
Rin akhirnya membalas.
"Maaf. Aku janji gak akan mengecewakan Ibu lagi."
Kimberly memberi kesempatan para penghuni Red Lantern menghubungi keluarga atau orang terdekat. Ketika melihat Xavi hendak pergi mencari taksi, ia menahannya.
"Itu tidak perlu. Biar kuantar."
Ia melirik Rin dan Riko.
"Sudah kewajibanku memastikan kalian tiba di tempat aman. Kita bisa sambil berkeliling kota dan ngobrol."
Kimberly masuk ke mobil dinas dan membuka pintu penumpang.
"Nah, jadi ke mana tujuan kita sekarang, nyonya dan tuan-tuan yang terhormat?"
Lyod berdiri di depan gedung yang kini tersegel. Ia menatap kendaraan yang menjauh dan mendesah.
"Oke. Setidaknya para pekerjaku dapat hari libur."
Tiga bulan akan memberinya waktu untuk menyesuaikan diri dengan kedudukan baru serta membuktikan kepada penduduk Dravakon bahwa pergantian kepemimpinan tidak membuat mereka kehilangan perlindungan.
Ia melirik Cordelia yang dibawa pergi bersama kelompok mafia.
"Ya pulanglah sana. Senang sekali kalian mengurus rumah orang. Urus rumah kalian sendiri. Bukannya kalian sudah mendapatkan budak itu."
Malam itu Butterfly Red Lantern tidak runtuh, tetapi pintunya resmi ditutup.
* * *
Di Aeon, jauh dari kericuhan yang baru saja menimpa rumah hiburannya, Yoshitsune duduk di sebuah kedai teh tradisional.
Ia tampak seperti tuan tanah yang diusir dari wilayah sendiri. Senyum rubah yang biasa menghiasi bibirnya belum hilang, tetapi tubuhnya rebah malas di sudut meja. Teh hangat dan camilan manis menjadi teman di hari pertama pengasingannya.
"Kurasa keputusanku memang tepat, ya."
Jauh sebelum jatuhnya Overrealm, ketika jaringan Don Antonio terus membesar, Yoshitsune sudah memperkirakan akan datang hari ketika dirinya dan sang mafia tidak lagi bisa saling menghindar. Karena itu, secara diam-diam ia mengurus pemindahan seluruh kepemilikan aset Dategumi dan Red Lantern kepada Lyod. Bahkan Lyod sendiri tidak mengetahui keseluruhan rencana itu sampai semuanya selesai.
Legalitas Red Lantern juga bukan sesuatu yang baru. Sehari setelah Yoshitsune mengambil alih organisasi, ia telah mendaftarkan bisnis tersebut sesuai prosedur pemerintah. Pendapatan sekitar delapan puluh miliar per tahun yang sering dibicarakan orang adalah angka setelah pajak.
Tetapi penjelasan semacam itu tidak akan serta-merta mengubah pandangan orang.
"Kalau aku benar-benar diseret ke pengadilan, tugasmu cuma satu," gumamnya, seolah Lyod sedang duduk di hadapannya. "Pastikan Red Lantern aman, bocah."
Sekarang persoalan legalitas memang sudah selesai. Tuduhan mengenai Red Lantern tidak cukup kuat untuk menjatuhkan bisnis itu. Namun Yoshitsune tetap harus menanggung perkara penyerangan dan penganiayaan. Don Antonio mendorong hukuman penjara, sedangkan pemerintah akhirnya mengambil jalan lain: Yoshitsune diasingkan dari Dravakon selama dua tahun.
Ia menyeruput teh.
"Haa... lama sekali. Baru sehari, tapi aku sudah rindu suasana Red Lantern."
Seorang wanita di meja lain memperhatikannya. Bang Soo-hyun datang hanya untuk menikmati teh, tetapi pria bersurai putih yang tampak bosan itu akhirnya memancing rasa penasarannya.
"Hei," sapanya. "Kau ke sini untuk minum atau cuma supaya kelihatan bosan? Seharusnya kamu menikmati teh herbal. Menyehatkan, lho."
Yoshitsune mengangkat tubuh dan menatap sumber suara.
"Nona, Anda bicara dengan saya?"
Ia benar-benar terkejut masih ada Gale yang mau menyapa tanpa menunjukkan kebencian setelah namanya menjadi bahan pembicaraan publik.
"Ore no koto shitteiru ka?"
Soo-hyun memiringkan kepala.
"Maksudnya?"
Ia tersenyum.
"Saya dan Anda memang orang asing yang baru bertemu. Tapi sekarang kita sedang berbincang. Orang asing bisa saling mengenal kalau berinteraksi."
Ia meneguk tehnya.
"Saya datang ke area teh karena belakangan ada pawai yang melibatkan lelang dan katanya menjual budak. Saya sendiri tidak tertarik membeli. Menurut saya memperbudak sesuatu hanya mengekang kebebasan."
Seringai Yoshitsune muncul kembali.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?"
"Bukankah memang begitu adanya?"
Yoshitsune akhirnya tertawa kecil dan kembali duduk dengan lebih tegak.
"Kalau begitu, bagus."
Ia mendengarkan pandangan Soo-hyun mengenai ras Gale, kemunafikan, pencitraan, organisasi, dan kebiasaan orang mengklaim diri berada di pihak benar. Perempuan itu berbicara panjang, tetapi Yoshitsune justru menikmati percakapan tersebut.
"Ras? Gale? Ah, itu tidak terlalu penting," kata Soo-hyun. "Hampir semua bukan berarti semuanya. Ada yang membela keadilan, ada yang berjalan di kegelapan tetapi merasa dirinya bercahaya. Hipokrit bisa ada dalam diri siapa saja. Bahkan Anda mungkin suatu hari berubah pikiran dan menjadi munafik. Saya tidak tahu, karena saya belum mengenal pribadi Anda."
Yoshitsune tersenyum simpul.
"Aku tidak pernah merasa munafik dalam hal itu. Buktinya apa yang kulakukan justru dianggap memperbudak lagi orang-orang yang sudah kubebaskan. Aku tidak suka memperlihatkan apa yang kulakukan karena akan terkesan pencitraan."
"Kalau Anda benar-benar tidak munafik, musuh Anda pasti banyak."
"Itu benar."
Pembahasan lalu beralih pada organisasi.
"Kamu tidak terlibat organisasi apa pun? Tidak tertarik dengan Butterfly Red Lantern?"
Soo-hyun mengerutkan dahi.
"Butterfly Red Lantern? Itu semacam orang-orang pakai kostum kupu-kupu lalu mengepakkan sayap di bawah lentera merah?"
Yoshitsune terkekeh.
"Bisa dibilang... tidak begitu. Butterfly Red Lantern adalah organisasi yang membebaskan, melindungi, dan memberi tempat bagi budak yang diperlakukan semena-mena. Pusatnya berada di rumah hiburan Red Lantern, yang dikenal orang-orang berkuasa sebagai rumah bordil."
Soo-hyun nyaris tersedak.
"Hiburan malam?! Jadi aku benar? Kupu-kupu malam yang mendominasi di sana? Atau itu cuma penyamaran?"
Yoshitsune menikmati keterkejutannya.
Ia menjelaskan bahwa para budak yang dibebaskannya menerima sertifikat kebebasan dan berhak pergi. Mereka yang tetap tinggal melakukannya karena pilihan sendiri. Ada yang menjadi host, penari, pemain teater, atau pekerjaan lain. Beberapa memang memilih bekerja sebagai penghibur malam, tetapi aturan yang dibuat Yoshitsune membiarkan mereka menentukan pelanggan sendiri.
Soo-hyun mendengarkan tanpa langsung percaya maupun menyangkal. Ia tidak menyukai organisasi yang menggalang dana dengan mengatasnamakan kemanusiaan tanpa transparansi, lebih memilih turun langsung ke lapangan.
"Kalau begitu, mungkin saya cukup terkesan," katanya. "Meski pemilihan namanya tetap aneh dan kuno."
Untuk pertama kalinya sejak menerima sanksi, Yoshitsune tidak lagi merasa waktu berjalan terlalu lambat.
* * *
Sementara itu, sebuah bar eksklusif di Aeon sudah dipenuhi musik jazz yang lembut. Hanya orang dengan nama atau pengaruh besar yang bisa masuk. Percakapan rahasia dan transaksi bernilai tinggi berlangsung di antara gelas-gelas mahal tanpa gangguan.
Andrea sudah berada di sana lebih dahulu.
Sengaja datang lebih awal, ia berharap punya waktu mendinginkan kepala sebelum bertemu Gio. Kesepakatan mereka mengharuskan pertemuan rutin setidaknya dua minggu sekali. Andrea sendiri yang dahulu menyeret Gio masuk ke lingkaran Rosenkrantz dan memberinya ruang untuk mengejar balas dendam. Selama Gio berada di bawah nama keluarga itu, ayahnya tidak akan berani mencoba membawanya kembali. Andrea tidak menyesali keputusan tersebut—meskipun cara Gio memperlakukannya sering membuat urat kepalanya berdenyut.
Ia menumpukan wajah pada telapak tangan sambil menghela napas. Dalam sehari, terlalu banyak kejadian yang harus dipikirkan—dan entah kenapa ia juga harus membawa dua orang tambahan ketika hendak bertemu seseorang untuk urusan penting.
Felicia duduk di satu sisi, tampak tidak nyaman dengan suasana bar. Frederic berada di dekatnya, diam sejak Rindou menyerahkannya kepada Andrea.
Sial, emangnya gue tempat penitipan anak?
Seorang bartender datang dan menatap dua Terra itu dengan ekspresi ragu. Andrea membalas tatapannya dengan tajam.
"Bourbon satu gelas, air dua. Dan aku pakai mereka untuk otaknya. Kalau airnya kau racuni, kau yang ganti rugi padaku, brengsek."
Bartender langsung bergerak.
Andrea belum banyak membaca berita setelah peristiwa rumah bordil. Ia hanya tahu situasinya rusuh. Rindou pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Frederic begitu saja.
Felicia mengumpulkan keberanian.
"Anu... Tuan? Maaf kalau lancang, tapi... Tuan akan bertemu seseorang?"
Andrea langsung meneguk bourbon sekali habis dan meletakkan gelas di meja.
"Iya. Ada seseorang. Kalian gak perlu tahu, dan pastikan tutup mulut."
Ia kemudian menangkap gelagat Frederic yang tampak ingin bicara tetapi berkali-kali mengurungkan niat.
"Kenapa kau? Kalau mau bicara, bicara sebelum orang yang kutemui datang. Kesabarannya gak sebagus itu, dan aku juga gak suka orang lembek."
Fred menegakkan tubuh.
"Apa hubunganmu dengan Rin?"
Ia langsung menyesali pertanyaan itu.
"M-maksudku... dia tadi kelihatan buru-buru. Apa ada sesuatu yang kelewat?"
Andrea mengangkat alis.
"Hubunganku? Dia cuma anak ingusan yang minta kerja di tempatku, terus malah ganggu aku terus-terusan."
Ia memutar gelas kosong.
"Kemarin ada budak kabur, ada Gale yang bela Terra habis-habisan. Ujungnya bikin ketua mafia marah dan rumah bordil miliknya jadi sasaran. Rumah bordil itu rumah Rin. Siapa juga yang terima kalau rumahnya dihancurkan gara-gara kelakuan egois satu orang bodoh yang gak ngerti situasi."
Fred terdiam. Pertanyaan sebenarnya yang ingin ia ajukan jauh lebih besar: apakah pemerintah Averion pernah memprediksi Overrealm akan jatuh, apakah kedatangan Terra sudah diantisipasi, dan apakah ada data yang bisa memberinya peluang untuk memahami cara pulang. Namun keberaniannya belum cukup untuk mengucapkan semua itu. Ia akhirnya memilih pertanyaan yang lebih sederhana.
"Apa... kau tidak mau membantunya?"
Sudut bibir Andrea naik tipis.
"Untuk apa? Dengar, bocah. Masuk ke organisasiku itu susah. Aku sendiri yang menentukan standarnya. Rin bisa masuk tanpa ujian dariku sama sekali. Artinya dia lebih dari mampu ngadepin masalahnya sendiri. Ingat itu tiap kali kau ngikut tuanmu."
Fred belum sempat menjawab ketika suara mobil berhenti di luar.
Tak lama kemudian, Gio masuk sambil membawa seseorang dengan cara yang sama sekali tidak anggun.
Tangannya memegang bagian belakang hoodie Yua, membuat gadis kecil itu nyaris seperti barang bawaan.
"Tolong, aku diculik," kata Yua datar kepada orang-orang yang mereka lewati.
Gio menarik hoodienya lebih erat sampai ia tercekik.
"Kalaupun kau diculik gak ada yang peduli, bodoh. Makanya kau berakhir di pelelangan."
"Cih."
Begitu sampai di meja Andrea, Gio melempar Yua ke lantai. Gadis itu mendarat dengan kedua kaki dan hanya mengeluarkan suara pendek.
"Ah."
Andrea refleks menutup mulut.
"Pft—"
Gio menoleh tajam.
"Ada yang lucu, sampah?"
"Tidak."
Gio mendekat. Tanpa aba-aba ia menarik rambut panjang Andrea, memagut bibirnya kasar selama beberapa detik, lalu melepaskannya setelah Andrea nyaris kehabisan napas.
"LO BISA GAK SIH DATANG NORMAL DIKIT?!"
Gio mengabaikan protes itu dan duduk.
"Whiskey."
Frederic menatap pemandangan tadi dengan wajah kosong.
"Kalian... sepasang kekasih?"
Andrea langsung memukul kepalanya.
"NAJIS! GAK USAH NYEBUT KITA BEGITU LAGI, BRENGSEK! GUA DITAWARIN PUN OGAH DIKASIH MAKHLUK BEGINIAN!"
Felicia malah tertawa.
"Ahahahah, mereka ciuman."
Yua memilih mendekat ke dua Terra lain.
"Halo. Aku Yua, budak om-om mesum itu. Kakak-kakak namanya siapa? Mau sandwich?"
Sebuah sandwich entah bagaimana sudah berada di tangannya.
"S-salam kenal, Yua," jawab Felicia. "Namaku Felicia, ini kakakku Frederic. Eh? Kamu punya sandwich?"
Gio bangkit, memukul kepala Yua, merebut sandwich, dan mengembalikannya ke buffet.
"Kalau mau berulah, cari tempat lain. Lalu kembalikan dompet sampah itu. Kalau dia ngamuk, aku yang harus dengar omelannya."
Yua mengeluarkan dompet Andrea dari sakunya.
"Padahal yang punya gak sadar. Kalian banyak uang."
Andrea meraba kantong celana dan membelalak.
"KAPAN LO NGAMBIL DOMPET GUE?!"
"Waktu kamu dicium om itu."
Jawabannya tanpa dosa.
Andrea terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengambil beberapa lembar foto dari jaket.
"Ngomong-ngomong soal beli budak..."
Ia menyerahkan foto kepada Gio. Sosok di dalamnya adalah pria berambut hitam tipis dengan wajah waspada. Ada pula bukti pesanan informasi dari Organization Seven.
"Sehari sebelum pelelangan, ada klien minta informasi soal semua budak yang dilelang. Dia juga minta datanya diantar langsung pada hari pelelangan. Awalnya gue gak peduli, sampai gue lihat lambang bros di jaketnya."
Andrea menunjuk simbol pada foto.
"Aku gak tahu dia dapat budak atau enggak. Tapi kau bisa lakukan apa pun dengan informasi ini. Siapa tahu kau kenal. Dengan budak yang kau beli itu, mungkin memeras dia bisa jadi jalan masukmu lagi ke Sylverill."
Gio memeriksa foto.
"Aku gak ingat orang ini. Gak pernah lihat. Bisa saja pak tua itu merekrut bocah ini."
Lalu ia mengerutkan dahi pada nominal transaksi.
"Kau menghargai informasi semurah ini? Biasanya satu kalimat aja minimal lima juta."
Ia menatap Andrea dengan seringai.
"Dan informasi untukku biasanya kau hargai dengan minimal masuk ranjangku tiga kali sebulan."
Andrea langsung sewot.
"MULUT LO KAGA PERNAH DISEKOLAHIN APA?!"
Frederic melihat foto itu lebih saksama.
"Dia..."
Ia pernah melihat Hyde di ruang bawah tanah Haravos. Pria itu tidak menawar banyak, hanya mengamati sesi pelelangan.
"Apa kau sudah menanyakannya pada Rin?"
Ia kemudian menatap Gio.
"Kau yakin gak mengenalnya?"
Gio langsung menarik kerah Fred.
"Kau pikir aku bodoh, cacing sialan?"
Andrea buru-buru berdiri dan menahan bahunya.
"Gio. Dia bukan milikmu."
Gio akhirnya melepaskan Fred.
Yua, yang sejak tadi mengintip foto, tiba-tiba berkomentar.
"Oh. Kakak kere yang waktu itu. Dia sempat nawar aku seratus ribu, terus kabur nangis pas ada yang naikin jadi lima juta."
Ia menggigit sandwich lain yang berhasil dicuri.
"Aku punya dompetnya."
Gio menyemburkan minuman.
"APA MAKSUDMU KAU PUNYA DOMPETNYA?! DOMPET SIAPA AJA YANG KAU AMBIL DI SANA?!"
Andrea justru menahan Gio lagi.
"Tunggu. Kalau dia punya dompetnya, berarti ada tanda pengenal atau berkas lain. Mungkin ada nomor pribadi yang bisa dilacak."
Sebelum mereka sempat melanjutkan, sirene polisi terdengar dari luar bar.
* * *
Beberapa menit sebelumnya, Kimberly sudah menurunkan Riko di kantor Organization Seven sesuai permintaan Rindou. Kini di mobil dinas hanya tersisa dirinya, Rin, dan Xavi.
Kimberly menjalankan mobil sambil terus berperan sebagai pemandu wisata dadakan.
"Di sebelah kanan kita, gedung tertinggi di kota ini. Terkenal karena lift-nya lebih sering rusak daripada berfungsi."
Ia tertawa kecil. Semakin bersemangat berbicara, semakin dalam kakinya menekan pedal gas.
Mobil menyalip kendaraan lain dan melaju melewati batas kecepatan.
"Efisiensi dan aksi. Pegangan erat, tuan-tuan."
Lampu biru polisi muncul di belakang. Sirene menjerit.
Kimberly melihat kaca spion.
"Oh, tampaknya aku mendapatkan teman seperjalanan."
Alih-alih berhenti, ia menambah kecepatan.
Rindou yang sejak tadi fokus pada ponsel mendadak pucat.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Ia mencengkeram sabuk pengaman sambil membaca doa dalam hati. Motion sickness menyerangnya ketika mobil berbelok tajam di antara lalu lintas.
Kimberly justru tertawa.
"Bukankah ini lebih seru daripada taksi biasa?"
Setelah beberapa menit kejar-kejaran, mobil akhirnya berhenti di depan bar. Rin keluar dan berlari ke tong sampah.
"HOEKK—!"
Ia muntah, mengusap mulut, lalu menendang kerikil ke arah mobil yang hendak pergi.
"INSPEKTUR KIM! KAU HARUS BAYAR JAMINAN KESEHATANKU!"
Xavi malah masih sibuk berusaha memanggil Kimberly.
"Heii! Kita belum tukeran nomor, Nona!"
Rin memutar mata dan masuk ke bar terlebih dahulu.
* * *
Ketika Rindou memasuki ruangan, ia langsung menemukan Andrea, Felicia, Frederic, Gio, dan Yua.
Ia sempat melihat Gio baru saja melepaskan kerah Fred.
"Kau harus bayar setiap kali menyentuh dan bernapas di ruangan yang sama dengannya, Sergio."
Suasana seakan berhenti.
Andrea langsung menoleh.
"Rin!"
Nama itu seharusnya tidak disebut di tempat umum. Beberapa orang menoleh dan berbisik.
Rindou tidak peduli. Ia duduk di sebelah Felicia, menyandarkan kepala di pundaknya, lalu merangkulnya.
"Bos, gimana kalau besok aku bawa Felicia? Kita tukeran. Semua perempuan di Averion gak semanis perempuan Terra."
Andrea mendelik.
"HAH?! Buat apa kau bersamanya?! Urus aja punyamu! Apa-apaan, tinggal ngurus rumah bordil terus mendadak punya fetish budak?"
Gio sudah berdiri.
Ia berjalan ke arah Rin dan menghantam wajahnya dengan kepalan tangan.
Rin terhuyung dan menabrak kursi. Darah muncul di sudut bibir. Ia memegang wajah, terkekeh, lalu melepas ikat kepala dan menggulung lengan baju.
"Aku paling gak suka dipermalukan di depan perempuan."
Ia meraih botol whiskey Gio dan menyiram isinya ke wajah sang mafia, lalu memukul balik dan menendang perutnya.
"Kau nyerang tanpa sebab. Aku juga gak perlu alasan buat ngabisin kau."
Gio mengangkat tangan.
"Open the seals, give me back what was mine."
Sebuah penghancur es melesat dari balik meja ke tangannya. Ia menyerang Rin dan mengarahkannya ke bahu.
Teriakan muncul dari beberapa pengunjung. Sebagian kabur, sebagian justru menonton.
"—HENTIKAN!"
Frederic bergerak tanpa persiapan. Tangannya membelokkan serangan sehingga penghancur es terlempar. Andrea langsung menginjak benda itu agar Gio tidak mengambilnya lagi.
"GIO, HENTIKAN!"
Fred, yang baru menyadari apa yang telah ia lakukan, menyodorkan popcorn kepada Gio dengan senyum canggung.
"R-Rin... ada sesuatu yang mau kutanyakan."
Ia mengambil foto Hyde.
"Kau kenal orang ini, kan?"
Rindou memandang foto, lalu mengacak rambut dengan kesal.
"Bos... kau harus mulai mempertimbangkan ganti nama jadi Organization One karena ujung-ujungnya cuma otakku yang kerja."
Dokumen di tangan Andrea langsung mendarat di dahinya.
"Gak usah sok paling kerja! Kerjaan ini juga ujungnya gue yang beresin karena lo ngebet ikut pelelangan, dasar bocah!"
Rin mengeluarkan laptop dan mengetik nama Hyde Amador.
Hasil pencarian menampilkan artikel lama mengenai penyanyi rock yang pernah mengguncang dunia hiburan. Wajah rupawan, suara khas, lagu-lagu populer—lalu skandal bertumpuk: penggelapan dana Armand Amador, penyalahgunaan narkoba, dan pelecehan seksual.
"Fun fact," gumam Rin. "Aku punya koleksi album CD-nya."
Andrea refleks menjauh.
"Najis banget selera lo, Rin. Sumpah."
Artikel lain menjelaskan kejatuhan keluarga Amador. Setelah Armand dipenjara, hubungan lama dengan Sylverill ikut terungkap. Nama Hyde menghilang dari daftar anggota aktif. Ia menjual aset keluarga untuk membayar utang dan berakhir sebagai gelandangan glamor.
Rin membuka forum penggemar. Sebuah unggahan baru menunjukkan Hyde berdiri di dekat terminal, berfoto di bawah hujan dengan mayat Terra tergantung di belakangnya.
Lalu ia membuka berita lain: Don Antonio terlihat di rumah sakit. Dalam salah satu foto, Hyde juga tampak berada di lokasi.
"Dia jembatan antara Rosenkrantz dan Sylverill," kata Rin.
Ia mengetuk foto dengan lambang bros Sylverill.
"Apa kau sudah bisa simpulkan jawabannya, Sergio?"
Gio menahan diri karena Andrea dengan santai mengusap rambutnya, seolah mencoba menurunkan emosi.
"Ah, jadi anak menteri kesehatan," gumam Andrea. "Berarti ada hubungannya sama Dorian Amador. Jadi dia kaki tangan Rosenkrantz yang masuk Sylverill? Apa maunya si Don daughter complex itu?"
Yua berdiri di belakang kursi sambil menempelkan kantong es ke pipi Rindou yang memar.
"Biar gak bengkak."
Rin berjengit.
"Ow! ...Trims."
Yua kemudian mengeluarkan dompet lain.
"Tuh. Sama. Semua identitas dia di situ."
Sebuah nota transaksi jatuh. Felicia memungutnya dan melihat stempel Rosenkrantz serta Sylverill.
"Uwah, sebanyak ini? Tapi katanya dia cuma nawar Yua seratus ribu."
Ia mengernyit.
"Tuan Andrea... jangan-jangan dia ke sana bukan untuk beli budak? Kalau tujuannya membeli untuk tuannya, mana mungkin dia menyerah semudah itu."
Rindou mengusap dagu.
"Untuk apa mengeluarkan uang kalau dia bisa nangkap Terra yang berkeliaran bebas? Aku rasa justru dia yang menjual beberapa budak itu ke Rosenkrantz lewat perantara. Uang miliaran ini cukup menjelaskan. Kakaknya juga bergerak di bisnis perdagangan ilegal."
Gio menatap nota itu lama, lalu terkekeh.
"...Ho. Dia mencari orang. Apa mungkin yang dicari Terra?"
Sesuatu dalam rencana balas dendamnya mulai terasa lebih mudah.
Ia berdiri, menaruh sejumlah uang di meja—termasuk membayar makanan yang dicuri Yua—lalu menjambak rambut Andrea.
"Emosiku masih terasa di kepala. Kau ikut denganku."
"AP—LO NGAPAIN SIH?! GUA MASIH KERJA, SIALAN!"
Gio tetap menyeretnya keluar, lalu memerintahkan Yua ikut. Ia sempat melihat satu panggilan tak terjawab dari Xavi, tetapi memilih mengabaikannya.
Rindou melempar sepatu ke arah pintu setelah mereka pergi.
"HEI! AKU BELUM SELESAI BICARA!"
Ia mendecih, lalu menyimpan laptop.
"Setidaknya mereka gak akan pulang hari ini. Aku punya waktu."
Ia memandang Frederic yang kini terjebak bersamanya.
"Mau gak mau, kau ikut denganku. Aku punya pekerjaan buatmu."
Fred tampak skeptis.
"Simpan pertanyaan untuk nanti. Jangan khawatir, aku gak seperti mereka. Anggap aja kau beruntung. Bukan begitu, Fred?"
"...Kurasa begitu?"
Rin mendekat sampai Fred refleks mundur.
"Hei, kau gak perlu berdiri sejauh itu. Aku tersinggung, lho. Andrea bikin kau mati kebosanan? Atau melakukan hal gak senonoh di depan kalian?"
Rin tertawa ketika melihat ekspresinya.
"Andrea pasti udah cerita sedikit soal aku. Aku cuma melakukan apa yang menguntungkan. Jadi aku berharap kau bisa berguna buatku."
Ia menekan Fred ke sisi meja dengan sengaja, mempraktikkan adegan intim hanya untuk menakut-nakutinya.
"Ayo bikin perjanjian. Aku janji melindungimu dan gak akan menyerahkanmu meski dibayar mahal. Apa yang bisa kau lakukan untukku? Gak usah jawab sekarang. Pikirkan baik-baik supaya aku tertarik."
Rin berbisik, lalu menjauh dan berjalan menuju pintu.
"Kita juga harus bersenang-senang dan memperkenalkanmu pada rumah baru."
Setelah Rin pergi, Fred merosot ke lantai. Kakinya gemetar. Masa depannya mendadak terasa jauh lebih suram daripada beberapa menit lalu.
* * *
Di sebuah kafe yang lebih tenang, Elvis duduk bersama Haruki di dekat jendela.
Pemandangan kota malam bergerak di balik kaca. Bagi Elvis, kejadian sehari sebelumnya terasa hampir seperti mimpi.
"Melihat pemandangan begini, hari kemarin rasanya seperti mimpi saja, ya?"
Ia menoleh pada Haruki yang sudah diberi daftar menu.
"Bagaimana? Sudah menemukan apa yang mau dicoba?"
Haruki mengerutkan dahi cukup lama sebelum menutup buku menu.
"Nggak tahu. Nggak bisa baca."
Ia lalu memandang keluar jendela.
"Tapi benar... seperti mimpi. Bertemu Gale aneh. Dan dibeli."
Tatapannya turun ke lengan yang menutupi sebuah cap pada kulit. Di sana tertera inisial EI dengan ornamen bunga.
"Master, kenapa bunga?"
Elvis menopang pipi dengan santai.
"Eh? Kau sadar, ya? Untuk menambah estetika, tentu saja. Di balik kotornya seorang Terra, ternyata ada keindahan di balik pakaiannya. Dan kalau kau belum tahu, EI itu namaku. Elvis Ilmari. Ingat baik-baik."
Pelayan mendekat.
"Tolong chocolate milkshake satu dan jus mangga satu."
Setelah pelayan pergi, Haruki mengangguk.
"Baik, Master Elvis Ilmari. Aku akan ingat."
Tatapan beberapa Gale di ruangan terus mengarah kepadanya, tetapi Haruki tidak menunjukkan reaksi.
"Tidak banyak orang berpikiran seperti Master. Karena kami... memang imigran."
Ia melipat tangan di meja.
"Anyway, Master... ada lihat berita?"
Seorang pria lain memasuki kafe. Nullvian menilai ruangan dengan wajah tidak suka, lalu menjatuhkan diri di kursi pojok. Ketika pelayan mendekat, ia mengusirnya.
"Pergilah. Aku cuma mau duduk. Kau kira aku akan makan di tempat seperti ini? Lihat saja, sepi. Pasti rasanya menjijikkan."
Pelayan memilih pergi.
Elvis kembali menatap Haruki.
"Tentang pemberontakan di pelelangan kemarin? Tentu aku dengar. Kejadian yang disayangkan."
Senyumnya menutup kedua mata.
"Kalau kau ikut memberontak, mungkin sekarang kau gak bisa duduk di depanku. Aku senang kau gak melawan sama sekali."
Haruki menatapnya lama.
"Tidak punya alasan melawan. Yang penting hidup."
"Tapi kau paham posisimu sebagai Terra di sini jauh dari baik-baik saja, kan?"
"Sangat paham. Tapi bagiku... sama saja."
Elvis membuka mata.
"Sama saja bagaimana?"
Pesanan datang. Elvis menyodorkan chocolate milkshake kepada Haruki.
Haruki menatap minuman itu, lalu berkata lirih.
"Terra banyak kasih sayang. Tapi aku... dikucilkan. Dihina. Gale... bully. Jadi sama."
Ia kemudian menunjuk gelas.
"Ini apa?"
"Milkshake. Rasa cokelat. Coba saja."
Haruki menyesapnya dengan hati-hati. Ekspresinya berubah.
"Enak!"
Senyum muncul tanpa sadar. Elvis mengamati perubahan itu dengan kepuasan seorang seniman melihat goresan pertama pada kanvas.
"Ah, lembaran musik yang awalnya kosong mulai punya tangga nada pertama. Kanvasnya mulai punya warna."
Ia menikmati jus mangga sendiri.
"Mau lagi?"
Haruki yang sudah menghabiskan minuman mendadak lesu.
"Nggak dulu. Pajak perbudakan Terra mahal. Lima puluh delapan persen."
Elvis tertawa kecil.
"Bukan masalah besar bagiku, walau merepotkan. Nikmati dulu waktumu. Bisa jadi ke depannya aku jarang mengajakmu ke tempat seperti ini."
Ia mengeluarkan kertas dan pena.
Haruki langsung menoleh.
"Memangnya aku gak ikut Master?"
"Bukan soal hari ini. Maksudku lain waktu. Kalaupun ikut, mungkin kita gak berjalan berdampingan."
Haruki memandang keramaian di luar.
"Di sini selalu ramai?"
"Memang. Tapi malam ini lebih ramai dari biasanya. Mungkin karena kejadian kemarin."
Elvis tersenyum usil.
"Mau coba menyapa orang-orang di luar?"
Haruki langsung turun ke bawah meja dan memeluk lutut.
"Aku gelap. Menyatu gampang. Dihajar Gale sakit. Emoh."
Ia nyaris hilang dalam bayangan kolong meja.
"Kalau ramai... sesak."
Elvis menunduk untuk melihatnya.
"Memangnya denganku gak sesak? Kata orang aku ramai, lho."
Haruki menatapnya dari bawah.
"Beda. Master aneh. Ramai, iya. Sesak? Tidak. Gale ramai. Tidak suka. Eksekusi. Takut."
Dari pojok ruangan, Nullvian menyadari tatapan Haruki sempat mengarah kepadanya.
Bagi Nullvian, seorang budak Terra bahkan tidak pantas memandangnya setara.
Ia bangkit dan berjalan cepat ke meja Elvis. Tanpa basa-basi, tangannya berusaha menyeret Haruki keluar dari kolong meja. Tubuh Terra itu dilempar ke lantai.
"Inilah sumber aroma yang mengganggu. Terra menjijikkan ini gak seharusnya ada di sini."
Nullvian menatap para pelayan.
"Bagaimana kalian bisa membiarkan makhluk seperti ini masuk dan mengotori tempat?"
Kakinya kemudian menghujam tubuh Haruki berkali-kali. Ia mengakhiri tindakannya dengan menginjak kepala Haruki ke lantai, seolah perlu menegaskan dominasi di hadapan seluruh kafe.
* * *
Di sisi lain Aeon, dua limusin berhenti di depan Panti Asuhan Der Himmel.
Sehari setelah pelelangan Haravos, Ian Maverick dan Genevieve memutuskan memenuhi rencana kunjungan yang sebelumnya mereka bicarakan. Genevieve berada di satu mobil bersama Ian, sedangkan Kayn datang dalam kendaraan lain bersama Ezra.
Pintu limusin terbuka otomatis. Ian turun lebih dulu. Tongkat di tangan kirinya hanya berfungsi sebagai aksesoris, sedangkan tangan kanan terulur kepada Genevieve.
"May I, Lady Genevieve?"
Nada bicaranya tetap dingin meski gesturnya sangat gentleman.
Genevieve tersenyum kecil dan meletakkan tangan di atas telapak Ian.
"Oh, Sir Ian. Tentu saja."
Ia turun dengan anggun.
"Syukurlah malam ini cerah. Apa Anda akan meluangkan waktu lama di sini?"
"Tergantung mereka. Tapi sesekali beristirahat bukan hal buruk."
Genevieve menatapnya dengan seolah tidak percaya.
"Astaga, sudah berapa lama Anda terperangkap dalam pekerjaan? Waktu memang uang, tapi Anda juga perlu istirahat agar tidak sakit."
Ian hanya menjawab singkat.
"Saya beristirahat cukup. Tapi terima kasih."
Senyum kecil sempat muncul di wajahnya. Pandangannya kemudian bergeser ke arah mobil lain.
"Anda nampaknya menyukai barang itu," ujar Ian dingin kepada Genevieve. "Dengan aturan pajak baru, syukurlah Anda tidak menghabiskan puluhan miliar lagi untuk objek yang merugikan seperti mereka."
Genevieve berdehem kecil. "Naluri kebencian Gale terhadap Terra memang tidak bisa dihindari. Tapi setidaknya dia bisa menjadi hiasan berjalan yang enak dipandang. Anggap saja lukisan hidup. Dan dia bisa memainkan musik dengan baik."
Kayn turun dari mobil lain ketika Genevieve memanggil.
"Bunny, bagaimana kondisimu?"
Ia tidak menjawab. Julukan itu masih terasa terlalu aneh untuk dibiasakan. Matanya justru memperhatikan panti asuhan di depan dan bertanya-tanya mengapa dirinya ikut dibawa.
Pintu bangunan terbuka. Hymn muncul dengan senyum ramah.
"Selamat datang di Der Himmel. Sudah buat janji? Atas nama siapa?"
"Ian Maverick. Seharusnya sekretaris saya sudah membuat janji," jawab Ian. "Saya akan memberikan sumbangan. Nominalnya tergantung penilaian saya terhadap kualitas panti."
Ia mengangguk ke arah Genevieve.
"Wanita yang bersama saya adalah Lady Genevieve. Jika kalian bisa membuatnya tertarik, dia mungkin menjadi penyumbang yang lebih dermawan."
Henry menyusul dari dalam dan menepuk bahu Hymn.
"Selamat datang di Der Himmel, tamu-tamu terhormat. Silakan masuk dulu. Kita bicara dengan baik."
Ia sempat memberi lirikan singkat kepada Hymn, lalu mempersilakan mereka masuk.
Genevieve mengenali Henry.
"Henry Heinrich? Lucien cerita banyak tentang Anda. Sepertinya anak itu sangat menyukai Anda."
Tidak ada sarkasme di nadanya. Lucien memang membentuk citra yang cukup baik tentang Henry di depan ibunya.
Hymn membawa rombongan ke ruang tamu.
"Silakan duduk. Saya buatkan minuman."
Di dapur, aroma gosong menyambutnya. Mikaela dan Violetta sedang membereskan kekacauan akibat kue yang gagal.
"Mika, pasti bengong waktu bikin kue lagi, ya?"
Mikaela menggaruk kepala.
"Hehe... iya. Habisnya aku gampang bosan, Bibi."
Violetta yang tunawicara telah menambahkan beberapa catatan pada buku resep Mikaela: tepung dan ragi sebaiknya ditimbang, adonan perlu teknik, suhu oven harus tepat, dan proses memanggang membutuhkan kesabaran.
"Oh! Jadi begitu caranya. Besok aku coba lagi!"
Hymn tidak lama di dapur. Ia menyiapkan teko teh dan kudapan, lalu kembali ke ruang tamu. Seorang anak bernama Rollins bahkan menempel di kakinya karena malu melihat tamu.
"Silakan dinikmati tehnya. Rollins, masih mau di sini?"
Anak itu akhirnya kabur.
"Biasanya anak-anak di sini manis kok."
Genevieve tertawa kecil.
"Padahal aku memang ingin bermain dengan anak-anak. Bunny-ku juga pasti kesepian kalau ditinggal sendiri selama kita mengobrol."
Ia menoleh ke Kayn.
"Di dekat sini ada taman. Pergilah menghirup udara segar."
Ian memandang Kayn lalu anak-anak yang masih mengintip dari dalam. "Tidak masalah membiarkannya berkeliaran? Saya belum tahu bagaimana naluri kebencian anak-anak terhadap Terra bekerja. Orang dewasa bisa menahan diri, tetapi anak-anak belum tentu."
Tidak ada empati khusus dalam nada bicaranya; pertanyaan itu murni pertimbangan risiko. Genevieve tetap membiarkan Kayn keluar.
Kayn mengangguk.
"Hm... baiklah."
Ia mengenakan hoodie untuk menutupi tanduk dan berjalan keluar. Di taman panti, anak-anak berlarian di bawah langit malam. Kayn memilih bangku kosong dan memperhatikan mereka. Ingatannya kembali pada masa kecil, sementara pikirannya tanpa sadar mulai merangkai sebuah lagu mengenai filosofi cermin.
Di dalam, Ian mulai masuk pada tujuan utama kunjungan.
"Bagaimana pendidikan anak-anak?"
Henry duduk lebih tegak.
"Di Der Himmel, pendidikan adalah hal yang kami tekankan. Anak-anak memang dididik di dalam panti, tetapi saya bisa menjamin mereka cerdas dan berpengetahuan di banyak bidang."
Buku-buku di ruangan itu memang bukan pajangan.
"Apa kalian berniat mengadopsi, atau menggunakan jasa kami yang lain?"
Ian belum menjawab. Genevieve justru antusias ketika Hymn mengatakan ia boleh menemui anak-anak.
"Benar boleh?"
Ia mengikuti Hymn ke ruangan dalam. Beberapa anak masih bermain atau mengambil makanan. Sebagian memandang penasaran, sebagian bersembunyi.
Hymn menepuk tangan.
"Nah, semuanya. Hari ini ada tamu istimewa. Ingat apa yang harus kita lakukan?"
"Jadi anak baik!"
"Bersikap sopan!"
"Ung... kasih kue?"
Genevieve berjongkok agar sejajar dengan mereka.
"Halo, adik-adik manis. Namaku Genevieve, tapi kalian bisa panggil Gin. Mau kudapan?"
Sebungkus chocopie muncul dari balik lengan bajunya seperti sulap.
Anak-anak langsung riuh.
"Ada cemilan lagi?"
"Aku mau!"
"Bilang apa kalau dapat hadiah?" tanya Hymn.
"Terima kasih, Kak Gin!"
Genevieve mengelus kepala seorang anak yang berani mendekat.
"Kak Ezra sebentar lagi membawa kudapan lain. Kalian sudah ketemu?"
Di taman, Ezra memang sedang dikerumuni anak-anak yang meminta makanan sambil tetap mengawasi Kayn.
Salah satu anak kemudian menarik celana Hymn.
"Ibu, Haley nangis lagi."
"Oh, astaga."
Hymn pergi ke kamar bayi dan kembali dengan bayi berusia sekitar tiga bulan yang menangis keras.
"Maaf. Dia belum biasa ditinggal sendiri."
Genevieve memperhatikan dengan minat yang semakin besar.
Mikaela, yang mengintip dari pintu dapur, melihat semua itu tetapi memilih menjauh. Di usianya sekarang ia masih dianggap bagian dari anak-anak panti, meskipun latihan bertahun-tahun sudah membuatnya jauh dari rapuh. Ia terbiasa menggunakan senjata, mengerjakan misi, dan menyembunyikan kemampuan di balik penampilan lembut.
Setiap tamu yang datang tetap memunculkan perasaan yang sama dalam dirinya. Tidak ada yang pernah mengadopsinya. Mereka hanya datang karena membutuhkan jasa.
Ia menatap tangan yang masih kotor oleh adonan.
Hymn dan Henry tidak pernah kekurangan kasih sayang untuknya, tetapi Mikaela masih ingin tahu mengapa orang tua kandungnya meninggalkannya. Ia masih ingin menjadi gadis bebas.
"Kak Violet boleh istirahat kalau sudah selesai," katanya kepada Violetta. "Kalau Paman atau Bibi perlu sesuatu, biar aku yang urus."
Mikaela kemudian keluar ke taman untuk menghindari keramaian.
Violetta mengangguk, tetapi tubuhnya mulai tidak nyaman. Sejak tiba di Averion ia sulit tidur, terlalu sering diterpa udara malam dan mengandalkan kopi dengan perut kosong agar tetap terjaga.
Mual mendadak menyerang.
Ia berlari ke kamar mandi, menutup pintu, lalu memuntahkan isi perut. Kram hebat membuat tubuhnya gemetar dan jatuh bersandar pada dinding dingin.
Ingatan traumatis sebelum pelelangan kembali menyerbu. Wajah pria yang menyentuh tubuhnya. Janji kosong. Ketakutan yang belum pernah benar-benar hilang.
Air mata mengalir tanpa suara.
Violetta mengandung anak seorang Gale—anak yang tidak pernah ia harapkan hadir di dunia.
* * *
Lantai pertama sebuah department store di Aeon jauh lebih ramai daripada area eksklusif di atasnya. Barang-barang yang dijual relatif murah; toko suku cadang, supermarket, tempat makan, dan kebutuhan sehari-hari berjejer dalam satu area.
Sion berjalan sambil menguap. Sejak membeli Leila dengan harga yang jauh melampaui rencana, sisa uangnya membuat lantai dua terasa seperti wilayah terlarang.
"Leila, ayo belanja spare part. Katanya kamu tahu bedain yang bagus."
"Baik, Sion-sama."
Leila berjalan di sampingnya dengan sikap seorang pelayan yang sudah terbiasa diberi tugas. Ketika melewati supermarket, ia teringat isi toko jam Sion.
"Sion-sama, setelah membeli suku cadang kita nampaknya harus membeli kebutuhan pangan juga. Di toko bahan makanan tinggal sedikit. Lebih banyak makanan instan."
Sion menoleh dengan wajah seolah itu bukan persoalan.
"Mbak Leila, aku tuh gak bisa masak. Makanya banyak makanan instan."
"Sion-sama... makan makanan instan terus?"
Untuk pertama kalinya wajah datar Leila terlihat benar-benar terkejut.
"Saya sarankan jangan terlalu banyak. Tidak baik untuk kesehatan. Urusan memasak serahkan pada pelayan Anda ini."
"Ngomong apa sih kamu? Kamu kan budakku! Aku suka makanan instan, apalagi mi cabe ijo!"
Sion memalingkan wajah.
"Ta-tapi kalau udang atau ayam potong yang murah... boleh."
Leila menatapnya beberapa saat.
"Bisa dikatakan Anda pelit, Sion-sama."
Urat di kepala Sion seolah langsung muncul.
"UANGKU HABIS KARENA KAMU, LEI! UANGKU TINGGAL SEDIKIT GARA-GARA BELI KAMU!"
Sebelum pertengkaran kecil itu membesar, seorang gadis lain datang bersama Terra yang tampak lebih dewasa.
Bethel baru saja mengajak Azharon berjalan-jalan setelah memastikan budaknya sudah lebih bersih dan layak berada di tempat umum. Bekas borgol masih terlihat di pergelangan Azharon, tetapi tidak ada rantai yang mengikatnya.
"Hmm, bagaimana kalau kita beli beberapa lusin baju buatmu?"
Bethel menunjuk plakat diskon.
Azharon menatapnya dingin.
"Kalau kau mau kabur, silakan saja," lanjut Bethel santai, sengaja menguji.
Azharon tidak terpancing.
"Terima kasih atas tawarannya. Sayangnya otak saya masih berfungsi. Hanya karena insiden Terra di pelelangan kemarin, jangan anggap semua Terra sama."
Ia menunduk kecil.
"Untuk pakaian, yang sekarang sudah cukup. Mari prioritaskan barang yang Anda butuhkan, Master Bethel."
Bethel tersenyum. Ia sebenarnya berharap Azharon cukup bodoh untuk mencoba kabur dan memberinya permainan perburuan di tengah keramaian, tetapi budaknya justru semakin penurut.
"Aww, ternyata kau sudah banyak belajar. Yah, sebenarnya aku gak butuh apa-apa sih."
Tatapannya kemudian menangkap Sion.
Bethel mendekat dari belakang dan memegang kedua bahu gadis itu.
"Halo, Nona Sion. Anda belanja mi instan banyak sekali. Mau dikirim ke korban bencana alam?"
Sion menoleh.
"Nona Betzalel, saya belum beli mi instan sama sekali. Baru masuk toko."
Azharon memperhatikan interaksi itu. Ia kemudian mendengar Sion mengeluhkan uang yang habis karena membeli Leila.
"Kukira hanya bangsawan kaya Gale yang suka berbuat seenaknya," komentarnya sinis. "Ternyata yang miskin pun suka berlagak. Lain kali jangan memaksakan membeli sesuatu di luar kemampuanmu."
Leila justru berdiri di dekat Azharon.
"Itu benar, Sion-sama. Anda seharusnya melihat dompet."
Sion menunjuk kepalanya sendiri dengan kedua telunjuk.
"HEY, MIKIR! GUE PUNYA ASET LIMA MILIAR TIBA-TIBA KERING GARA-GARA ADA CRAZY RICH GILA YANG NAWAR BUDAK! KALAU ADA BUDAK LAIN, GUE UDAH KE YANG LAIN!"
Bethel menahan tawa.
"Huh... aku cuma nebak. Nona Sion mana mungkin belanja mi instan."
Keramaian department store semakin padat. Azharon yang biasanya waspada mulai menunjukkan kegelisahan lebih jelas. Bethel menangkap perubahan itu.
"Haruskah kita pergi ke tempat yang lebih sepi? Sepertinya kau takut keramaian."
Ia tidak menunggu jawaban, lalu pamit kepada Sion.
Sion melambaikan tangan.
"Oh, sudah mau pergi? Baiklah. Hati-hati."
Seorang gadis berambut merah muda lewat dengan kedua tangan penuh tas belanjaan diskon. Gabriel, penyanyi yang baru naik daun, tampak sangat puas dengan hasil buruannya. Sion langsung menatap dengan iri.
Leila buru-buru mengalihkan fokus.
"Sion-sama, nampaknya kita harus menuju objektif utama untuk membeli suku cadang."
Dari area lain terdengar alunan gitar akustik. Seorang perempuan sedang bernyanyi seperti musisi jalanan biasa.
Maybe we've been
A little too caught up
In things that don't matter
As much as we thought...
Tidak ada yang menyangka perempuan itu adalah Asteria—Short Afternoon—penyanyi indie yang terkenal di dunia maya tetapi tidak pernah menunjukkan wajah asli di kanal musiknya.
Leila berhenti mendengar.
"Suara yang indah."
Sion ikut terpukau.
"Wah, gila. Bagus banget."
Ia meraba kantong, lalu memalingkan muka.
"Sial, aku gak punya uang kecil."
Leila hanya mengangguk, meskipun cukup yakin majikannya sebenarnya hanya tidak mau mengeluarkan uang kertas.
"Dimengerti, Sion-sama."
"Ayo. Cepat beli suku cadang sebelum banyak godaan."
Mereka kembali berjalan. Tidak jauh dari sana, Arkas menarik tangan kiri Altair dengan ekspresi sedikit sebal.
"Altair, kita sudah sampai."
Lantai pertama terus bergerak dengan urusannya masing-masing, tanpa menyadari bahwa beberapa meter di atas kepala mereka, situasi yang jauh lebih kacau sedang terbentuk.
* * *
Malam sebelumnya, setelah pelelangan Haravos berakhir, Serafina membawa Lillian ke sebuah penthouse di sisi utara kota.
Perjalanan dari tempat lelang hanya memakan sekitar sepuluh menit. Gedung tinggi itu telah dibeli Serafina ketika berusia dua puluh satu tahun, buah dari karier, sponsor, dan keberuntungan yang datang lebih cepat daripada kebanyakan orang seusianya.
Lift pribadi membawa keduanya naik. Kaca satu arah memperlihatkan gemerlap Haravos di luar. Musik lembut mengalun selama perjalanan dan berhenti bersamaan dengan pintu yang terbuka ke unit mewah milik Serafina.
"Buat dirimu layak, Iris."
Tidak ada sambutan hangat.
Serafina berjalan ke jendela besar.
"Aku adalah pemilikmu, dan kau harus ingat namaku. Serafina Lucrezia. Mulai sekarang panggil saya Lady Lucrezia."
Ia menunjuk dua pintu dekat koridor.
"Salah satunya kamarmu. Yang lain toilet. Tidak ada yang perlu dibicarakan sekarang. Kita bertemu lagi jam dua puluh dua."
Setelah itu ia pergi ke studionya di lantai lain.
Lillian tidak menanggapi lebih dari anggukan. Begitu sendirian, ia membersihkan tubuh, beristirahat, lalu berolahraga untuk menjaga kebugaran—rutinitas yang sudah lama menjadi bagian hidupnya.
Ketika waktu yang dijanjikan tiba, hidupnya sudah memiliki penanda baru. Sebuah tanda kepemilikan berada di paha kiri, diberikan tanpa pertanyaan dan tanpa perlu persetujuannya.
* * *
Malam berikutnya, Serafina dan Lillian tiba di Aeon setelah perjalanan lebih dari satu jam. Serafina mengenakan pakaian kasual yang lebih sederhana daripada biasanya. Hari itu ia sudah mengurus dokumen, pajak, dan berbagai kewajiban baru yang muncul setelah memiliki Terra.
"Kita akan bertemu seseorang di sini," katanya setelah melepas sabuk pengaman.
Ia menatap Lillian.
"Pastikan tetap dekat denganku."
Mereka memasuki lantai dua department store yang jauh lebih eksklusif. Butik bermerek, toko parfum, toko musik, dan restoran premium dikelilingi interior yang dibuat untuk pengunjung kelas atas.
Lillian menjaga jarak fisik dari Serafina sebisa mungkin. Kebencian naluriah kepada Gale tetap ada, sekalipun perlakuan Serafina jauh lebih halus daripada apa yang pernah ia terima sejak jatuh ke Averion.
"Lady Lucrezia," katanya. "Aku ingin menanyakan satu hal. Apa yang Anda harapkan dariku?"
Serafina berjalan tanpa berhenti.
"Apa yang kau pikirkan sampai aku harus berharap padamu? Terra hanya pengungsi, dan siapa pun tahu kalian bermasalah."
"Bukan begitu. Maksudku, tugas seperti apa yang Anda inginkan kulakukan?"
Lillian menatap toko-toko mewah yang bahkan di Overrealm jarang ia datangi.
"Entah kami yang bermasalah, atau semesta ini masalahnya."
Ia tersenyum kecil.
"Lalu apakah Anda ingin mengenal kami?"
Serafina berhenti di sebuah toko musik.
"Aku tidak ingin mengenal kalian."
Jawabannya langsung dan jujur.
"Aku tidak punya keinginan mengenal apa pun tentang kalian. Tapi... aku ingin memanfaatkanmu, Iris."
Lillian tertawa kecil. Itu adalah tawa pertamanya sejak jatuh ke Averion.
"Terima kasih atas kejujurannya. Kalau begitu aku juga tidak akan sungkan memanfaatkan Anda untuk bertahan hidup di neraka ini."
Serafina duduk di depan synthesizer dan memainkan beberapa nada.
"Dunia adalah panggung sandiwara. Semua pria dan wanita—termasuk kau dan aku—bisa memainkannya."
Ia memperhatikan Lillian.
"Kau bilang kepuasanmu tidak penting, tapi kau menunjukkan hasrat hidup. Sekarang kau menjadi milikku dan menunggu sebuah perintah sebagai tujuan untuk menerima nasibmu. Jadi untuk permulaan... mari kita lihat alat musik apa yang bisa kau mainkan."
Sebuah biola diberikan kepada Lillian.
"Anda yakin? Apa aku kelihatan seperti orang yang bisa main musik?"
Lillian mencoba.
Suara yang keluar benar-benar kacau.
Serafina mengerutkan wajah.
"Astaga, permainanmu seperti ayam potong yang sedang disembelih, Iris."
Lillian menahan senyum.
"Pertama kali saya menyentuhnya. Apakah Anda ingin saya lanjutkan?"
"Cukup."
"Sebelum bertemu Anda, satu-satunya alat musik yang pernah saya pegang itu ukulele. Kadang harmonika kecil."
Ia mengembalikan biola.
Serafina menghela napas.
"Letakkan kembali benda itu. Kita ke tempat lain."
Sebelum pergi, ia menatap Lillian tegas.
"Dengar. Kau tidak bisa menentukan apa yang kau gemari atau menjelaskan padaku apa yang bisa dan tidak bisa. Mempertanyakan kemampuanmu dari penampilan tidak menutup fakta bahwa kau akan melakukannya kalau kusuruh."
Lillian tidak melawan.
"Baiklah."
Mereka berpindah ke toko pakaian. Pegawai yang melayani jelas tidak nyaman ketika melihat Terra, tetapi status Serafina membuat mereka tidak punya ruang untuk menolak.
"Bawakan satu setelan terbaik untuknya," perintah Serafina. "Kasual."
Lillian mengikuti pegawai dan mencoba setelan yang lebih feminin. Ketika melihat bayangan sendiri di cermin, rasa tertarik tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana?"
Serafina menilai dari kepala sampai kaki.
"Kau akan tetap jadi Terra. Tapi penampilanmu sekarang lebih bagus. Saya ambil ini."
Kartu hitam berpindah tangan.
"Pastikan barangmu tetap dibawa."
Setelah keluar, mereka bergerak menuju area kuliner di sisi berlawanan.
* * *
Tidak jauh dari sana, Yinxia sedang menjadi pusat perhatian seperti biasa.
"Lady Yinxia!"
"Itu Lady Yinxia!"
"Dia sangat mempesona!"
Malam itu Yinxia mengenakan kemeja dan celana panjang ramping, lebih santai daripada busana kerja, tetapi tetap menonjolkan keanggunan.
Ia membaca sebuah headline dari ponsel dengan gaya pembawa acara.
"Lady Yinxia, Maharani Fashion, membeli Terra dengan harga fantastis. Bukti kekuatan absolut pemimpin industri mode?"
Senyum kecil muncul.
"Pusat perhatian masih milikku. Kalau begini terus, show bulan depan akan jadi sorotan media."
Kemudian wajahnya menegang.
"Tapi orang-orang gak berguna itu—kericuhan pelelangan, Terra memberontak, ekonomi turun, pemilik rumah bordil berkelahi dengan mafia—bisa masuk halaman pertama? Keset kaki lusuh. Apa Averion sudah penuh orang inkompeten?"
Ia menarik napas untuk menjaga wibawa.
Yinxia memasuki toko parfum mewah. Helvetica mengikuti di belakang dengan tangan penuh sepuluh kotak dan tiga gulung kain.
"Kita akan menemui seseorang. Mungkin dua atau tiga orang," ujar Yinxia sambil membayar parfum floral menggunakan kartu hitam. "Poodle, jaga sifatmu. Jangan menyalak kalau gak perlu."
Ia menyerahkan tas parfum kepada Helvetica.
Helvetica sempat memperhatikan dua pegawai yang berbisik sambil menatapnya penuh kebencian. Ia justru membalas dengan senyum ramah yang terlalu lebar sampai taring terlihat.
"I could pretend to be calm, but where's the thrill in that? Guess I'll let Averion entertain me tonight."
Ia menerima tas.
"But where are our lovely guests? Terra didn't just take care of them already, did they? If they did, I hope it was quick and clean."
Yinxia berhenti dan menatapnya.
"Kau memikirkan Gale lain? Kalau begitu kenapa tidak mencoba sendiri dulu?"
Telapak tangannya menyentuh dada kiri Helvetica, tepat di tempat berlian berinisial namanya ditanamkan ke dalam tubuh Terra itu sebagai tanda kepemilikan.
"Dengan begitu kita bisa menguji seberapa baik tanda itu bekerja."
Ia merapikan kerah Helvetica.
"Mereka segera tiba. Oh, dan kau gak butuh baju baru, kan? Kalau mau, buat sendiri di studio. Gunakan kemampuan guntingmu untuk hal lebih berguna daripada memotong kutikula rambut."
Helvetica hanya mengangkat bahu.
"No offense, but fashion in Averion is a bit... flat. Overrealm bahkan tahu cara bikin aksesoris tanduk. Di beberapa tempat ada cincin khusus taring."
Ia memperlihatkan giginya.
Yinxia mencibir.
"Menghias tanduk dan taring? Tentu saja. Hanya itu yang bisa mereka banggakan. Terra tetap Terra meski dibalut emas. Tapi aku gak sesempit itu untuk menolak inspirasi. Akan kupikirkan... setelah keduanya tergantung di leherku."
Helvetica terkekeh.
"Ah, so you're the collector type? How ambitious. Perhaps I should start thinking of a piece to take from you, too."
"Lebih spesifik lagi," balas Yinxia. "Semua orang pernah mencoba mengambil sesuatu dariku. Tebak mereka sekarang ada di mana."
Keduanya terus bergerak menuju sebuah tea house mewah dengan nuansa oriental.
* * *
Tea house itu berada di area kuliner lantai dua, tetapi ruangan yang dipesan Serafina jauh lebih privat daripada area reguler. Pelayan membawa Serafina dan Lillian melewati koridor hangat menuju ruangan dengan meja bundar dan jendela lebar yang memandang kota.
Serafina duduk dan membuka menu.
"Perbedaan kehidupan kita besar. Biasakan mengisi perut pada malam hari."
Lillian duduk tanpa menunggu perintah.
"Mengejutkan. Anda perhatian bahkan pada detail kecil. Haruskah saya berterima kasih?"
Ia membaca menu sebentar sebelum menyerah karena terlalu banyak nama hidangan asing, lalu memandang kehidupan Gale di luar jendela.
"Mereka terlihat hidup dengan damai, seolah akan hidup selamanya."
Nada suaranya sayu.
"Apa gak ada Gale yang tertarik mempelajari kenapa Overrealm bisa jatuh? Apa kalian percaya diri hal yang sama gak akan terjadi pada Averion?"
Ia tersenyum penuh rasa ingin tahu.
"Kalau Averion jatuh, kita akan jatuh ke mana?"
Serafina menutup menu.
"Overrealm adalah rumah kalian dan faktanya sudah hancur menjadi peninggalan yang bahkan belum bisa dipelajari dalam dua minggu. Terlalu awal menyimpulkan mereka hidup damai selamanya. Selalu ada kejahatan yang melanggar norma."
Ia menatap Lillian.
"Averion sekarang tempat kalian berpijak, dengan hukum yang pantas untuk Terra—atau seharusnya lebih buruk."
Kalimat terakhir keluar seperti desisan.
"Berandai Averion jatuh? Mungkin dunia ini gak sempurna, tapi itu daftar terakhir yang perlu dikhawatirkan. Kalau hancur dan aku masih hidup, mungkin aku yang berakhir dilelang di dunia lain sepertimu."
Serafina memandang langit di luar.
"Hidup bukan pilihan bijak kalau cobaan yang diberikan lebih buruk daripada kematian. Saya lebih memilih gak mengetahui dunia lain saat kejatuhan."
Lillian mengangkat alis.
"Atau mungkin Anda tidak peduli."
Ia tersenyum ringan.
"Definisi kejahatan menurut Anda apa? Pelanggaran hukum, atau pelanggaran moralitas?"
Pertanyaan itu belum sempat dibahas lebih jauh ketika pintu ruangan dibuka.
Yinxia masuk dengan Helvetica di belakangnya.
"Xiao Serafina, muse kesayanganku."
Serafina berdiri dan menyambut tangannya.
"Senang melihat Anda, Lady Yinxia. Anda tampak menawan seperti biasanya. Sangat khas dengan Anda."
"Pesonamu juga gak memudar, Xiao Sera tersayang. Dunia masih membutuhkan keindahan sepertimu di puncak hierarki."
Mata Serafina kemudian berpindah ke Helvetica.
"Sepertinya Anda memenangkan pelelangan kemarin."
Ia kembali duduk.
"Saya juga punya Terra dari pelelangan. Namanya Iris."
Yinxia melirik kursi kosong yang memang disiapkan untuk tamu lain. "Adik terkecil belum tiba?" tanyanya, merujuk pada Sion.
"Nona Sion sepertinya sibuk," jawab Serafina. "Anda tahu sendiri dia bekerja keras untuk tokonya."
Lillian maju satu langkah.
"Salam kenal, Lady Yinxia."
Ia lalu memberi senyum tipis pada Helvetica. Melihat Terra lain yang masih hidup di luar pelelangan memberi rasa lega yang sulit dijelaskan.
Helvetica berjalan masuk sambil membawa barang-barang Yinxia. Karena tubuhnya belum terbiasa terjaga pada jam seperti ini, langkahnya mendadak tersandung. Ia nyaris menabrak Lillian dan menahan keseimbangan dengan tangan di pundaknya.
Dalam jarak dekat, Helvetica membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Lillian.
"▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇▇."
Lalu ia mundur seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ah, kantuk sedikit mengacaukan langkahku. Banyak yang harus disesuaikan sejak terdampar di sini. Kau juga begitu, kan?"
Lillian menatapnya dengan kebingungan yang belum sempat dijawab.
Helvetica kemudian menyerahkan tas parfum kepada Serafina.
"Oh, biarkan aku memberimu sesuatu yang mungkin kamu suka."
Serafina tidak langsung menerima. Tatapannya menilai Terra itu beberapa detik sebelum mengambil bingkisan.
"Semua barang bisa saya terima. Tapi kesukaan saya biasanya datang dari orang yang mengenal saya."
Nada terakhir terdengar seperti peringatan halus.
Yinxia justru tersenyum.
"Menarik, kan? Clingy dan pencari perhatian. Aku gak menyuruhnya, tapi sepertinya Poodle-ku menyukaimu."
Serafina mencium aroma parfum dan langsung tahu Yinxia memang memilih wewangian yang sesuai seleranya.
"Saya bisa mengerti kenapa Anda tertarik padanya. Dia mencolok... dan tingkahnya sejauh ini narsistik."
Helvetica mengangkat alis.
Yinxia lalu mendekati Lillian tanpa meminta izin. Tangannya menjepit pipi, memaksa wajah gadis itu terangkat, kemudian memeriksa lengan, punggung, pinggang, dan mengetuk tanduknya seperti menilai barang.
Lillian menahan ketidaksukaan dan melangkah mundur setelah dilepaskan.
Yinxia menyeka tangan dengan sapu tangan sutra.
"Tipe penurut dan punya fisik. Aku gak meragukan selera Xiao Serafina."
Serafina menatap Helvetica.
"Terra Anda aktif berkomunikasi. Mengesankan untuk bagian yang selamat setelah kemalangan."
Sindiran dibungkus suara lembut.
"Dan saya khawatir dia gak paham maksud penamaannya. Abaikan karakter. Bukankah seharusnya kau berpikir penampilanmu disamakan dengan peliharaan?"
Helvetica tersenyum.
"Lalu? Apa aku harus belajar menggonggong sekarang? Definisi kalian gak terlalu berpengaruh. Aku lebih suka melihat diri sebagai burung merak."
Ia berhenti sebentar.
"Atau honey badger. Pemberani dan gak tahu takut."
Serafina memandang Iris tanpa menoleh langsung.
"Bukankah kau senang punya teman sekaum dengan nasib sama, Iris? Masih ada yang selamat dan sekarang kalian bisa bertukar pikiran tanpa dilarang bicara."
Lillian menjawab pendek.
"Entahlah."
Ia menatap Helvetica. Bisikan rahasia tadi masih mengganggu pikiran.
"Aku pengecut," katanya pelan. "Bisakah kamu mengajariku keberanian?"
Helvetica tidak langsung menanggapi.
Yinxia sudah duduk dan mengeluarkan sebuah lipstik mahal dari tas kulit buaya.
"Xiao Sera, tahu apa yang membuat karya seni lebih berharga? Cerita di baliknya."
Ia meletakkan lipstik di tengah meja.
"Ini koleksi terbatas. Seratus juta per unit. Badannya emas murni dan berlian, tapi bahan pewarna utamanya berasal dari kuntum terakhir spesies bunga yang sudah punah."
Yinxia bercerita mengenai bunga rapuh yang tumbuh di tanah buruk, mempertahankan diri dengan racun, bertahan ketika yang lain mati, lalu akhirnya dipetik sendiri olehnya.
"Keindahan tragis. Bertahan hanya supaya akhirnya aku yang mengakhirinya."
Serafina memahami arah analogi itu.
Sementara perhatian kedua Gale berada di meja, Helvetica memandang Lillian.
Simbol Arcana mulai terbentuk di balik telapak kirinya.
The seal opens.
Tidak ada elemen yang terlihat dari luar. Di dalam tubuhnya, Arcana memicu perubahan biologis. Testosteron diproduksi dalam jumlah tertentu untuk mengencangkan jaringan dan memperkuat otot. Ketika ia bersiap mematahkan tanduknya sendiri, hormon paratiroid—PTH—diarahkan untuk merangsang osteoklas dan mempercepat pelemahan struktur keras di pangkal tanduk. Setelahnya, serotonin dan respons trombosit dimanipulasi untuk membantu menutup luka serta menekan perdarahan.
Helvetica membuang gulungan kain Yinxia ke sembarang tempat.
Tangannya langsung mencengkeram salah satu tanduk Lillian dan menarik kepala gadis itu ke bawah.
Tidak ada aura permusuhan sebelumnya. Karena itulah Lillian terlambat menyadari.
Sisi tangan Helvetica menghantam pangkal tanduk.
Dua tanduk Lillian terpotong.
Tubuhnya menegang. Kebingungan bahkan datang lebih dulu daripada rasa sakit.
Helvetica menjatuhkan salah satu tanduk ke lantai. Setelah itu, Arcana kembali bekerja pada tubuhnya sendiri. Struktur keras kedua tanduknya dipaksa melemah; dengan tenaga yang diperkuat, ia mematahkan keduanya dari pangkal kepala. Darah yang muncul segera ditekan melalui mekanisme tubuh yang ia manipulasi agar tidak mengucur parah.
Yinxia dan Serafina hanya memiliki sepersekian waktu untuk mencerna apa yang terjadi.
Helvetica melempar kedua tanduknya ke atas meja. Salah satunya menyapu cangkir hingga teh tumpah.
"Take it, Mademoiselle! This masterpiece is for you, no charge. You're welcome. And another thing—you can stop acting like I'm still your minion. You are free now. See ya."
Ia menendang tanduk Lillian yang lain hingga berhenti dekat sepatu Serafina.
Sebuah siulan singkat diarahkan kepada Lillian.
"I'm going, with or without you. Make your choice, or stay silent like you always do."
Lillian menggeram, memegangi salah satu tanduk yang terlepas.
"Diamlah. Aku sedang gak ingin dikomentari."
Tetapi ia bergerak.
Helvetica sudah melesat menghantam pintu ganda sampai terbuka. Ia berlari melewati koridor privat menuju area reguler yang dipenuhi pelanggan. Seorang pelayan bertabrakan dengannya, nampan jatuh, mangkuk pecah.
"Kembali! Ganti rugi!"
Helvetica tidak berhenti.
"Not my issue. Go bother Yinxia—or maybe little Serafina. Those women are your solution."
Lillian mengejar. Tubuh atletis membuatnya mampu menyusul bahkan di antara kerumunan. Ia tidak sempat menoleh pada Serafina. Meski status kepemilikan itu membuatnya muak, ia tetap menyimpan rasa terima kasih karena selama sehari terakhir Serafina tidak memperlakukannya sekejam Gale lain. Jika suatu hari keadaan berubah dan mereka dapat bertemu tanpa hubungan tuan-budak, Lillian ingin membalas kebaikan singkat itu.
Mereka menembus pintu kaca tea house dan masuk ke lautan pengunjung lantai dua.
Karena tanduk sudah tidak ada, pandangan Gale di sekitar tidak langsung tertuju pada mereka. Helvetica menangkap perubahan itu dengan cepat.
Ia melihat railing kaca di sisi atrium dan menyeringai.
"Aha. Found the fastest route. What a surprise—it was right there all along."
Ia berlari lebih cepat, menaiki railing, lalu menjatuhkan tubuh ke belakang dari lantai dua.
Selama tubuhnya mengikuti gravitasi, Helvetica tidak sepenuhnya pasrah pada benturan. Arcana kembali mengatur tubuhnya: growth hormone dipacu untuk mempercepat regenerasi, lapisan kolagen ditebalkan di sekitar jaringan penting, sementara serat elastin mempertahankan kelenturan. Adrenalin mengalir dan membuat ototnya lebih responsif. Dalam beberapa detik ia membentuk semacam perisai biologis di sekeliling organ vital—bukan hanya untuk menghadapi pendaratan, tetapi juga sebagai antisipasi jika berlian yang ditanam Yinxia di dalam tubuhnya berubah menjadi ancaman dari dalam.
Lillian tidak menunggu.
With the binding of realms undone, let the seal open while the unbreakable force awakens.
Serbuk titanium terbentuk di punggungnya menjadi sayap. Ia melompat dan menangkap tubuh Helvetica di udara, menggendongnya dengan gaya bridal sebelum mereka menghantam lantai bawah.
Lillian mendekatkan bibir ke telinganya.
"Aku ingin mencoba mengerti maksud tindakanmu. Tapi kamu gak berpikir ini sesimpel itu, kan?"
Ia menatap keramaian lantai satu yang makin dekat.
"Ini bukan cuma tampilan luar. Jauh di dalam diri kita ada sesuatu yang membedakan kita dari Gale. Sesuatu yang membuat kita saling membenci secara alami. Kalau kamu gak punya solusi, cepat atau lambat mereka akan mengenali kita. Mustahil lari selamanya."
Namun Lillian tetap mengikutinya. Ia tidak tega membiarkan Terra pertama yang ditemuinya hidup-hidup setelah kehancuran Overrealm menghadapi semua itu sendirian.
Mereka mendarat di lantai satu, tidak terlalu jauh dari area yang sebelumnya dilewati Sion dan Leila.
* * *
Helvetica segera menjauh dari Lillian setelah kedua kaki menyentuh lantai.
"Aku belum terlalu tertarik memahami alasan mereka membenci kalian, atau kalian membenci mereka."
Ia sengaja menggunakan kata kalian, seolah dirinya tidak mau mengikatkan identitas pada salah satu ras.
"Aku lebih suka gerak spontan. Mungkin nanti kepikiran ide. Tapi pertanyaannya—apa aku akan menyertaimu dalam rencana? Sebaiknya pikirkan cadangan."
Mereka bergerak cepat di antara toko-toko murah. Gale yang membawa budak tersebar di banyak sisi.
Helvetica sempat memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal untuk orang yang baru melarikan diri: bagaimana memperoleh modal untuk membuka barbershop baru di Haravos, dan bagaimana cara mengeluarkan berlian Yinxia dari dalam tubuh lalu menjualnya.
Setelah beberapa saat ia kembali bicara.
"Hei. Bagaimana kalau aku menemanimu membebaskan Terra yang diperbudak? Volunteer. Target Gale yang kelihatan bodoh saja. Gak semua Gale bringas. Gadis yang membelimu mungkin masih punya sedikit hati—atau kamu belum lihat taringnya."
Ia terkekeh.
"Kalau dapat beberapa rekan, mungkin kalian bisa bikin... perkumpulan? Entahlah."
Lillian berjalan di sampingnya dengan tanduk yang sudah hilang dan rasa sakit yang masih berdenyut.
"Aku akhir-akhir ini minum kafein supaya bisa terjaga. Malam selalu ramai begini. Pasti sulit mencari tempat sepi."
Ia menatap Helvetica dengan kekhawatiran samar.
Helvetica menjawab tanpa melihat.
"Keramaian memang menyulitkan sebagian orang. Tapi kadang ada hal yang cuma bisa ditemukan oleh orang yang gak terikat batasan."
Mereka akhirnya mencapai area parkir. Intensitas orang berkurang.
Untuk pertama kalinya sejak jatuh ke Averion, dua Terra itu bergerak tanpa rantai, tanpa tanduk yang langsung menandai asal mereka, dan tanpa seorang Gale yang berdiri tepat di samping untuk mengklaim kepemilikan.
Tidak ada jaminan kebebasan itu akan bertahan lama.
Tetapi untuk beberapa langkah, mereka tetap berjalan.
* * *
Di sebuah taman publik yang lebih tenang, Diana berjalan di bawah cahaya lampu malam bersama budak yang baru dibelinya.
Ayane sesekali tertinggal karena berhenti memperhatikan hal-hal kecil: laron di sekitar lampu, katak di rerumputan, atau bayangan dedaunan yang bergerak tertiup angin. Diana tidak keberatan menyesuaikan langkah.
Setelah beberapa waktu, mereka duduk di bangku taman. Diana memberi tanda agar Ayane ikut beristirahat, meskipun posisi gadis itu tetap lebih rendah dekat kakinya.
"Oh ya, namamu Ayane, kan?"
Diana mengelus kepalanya sambil membuka ponsel.
Berita mengenai aturan penandaan budak muncul di layar.
"Hm... jadi harus diberi tanda kepemilikan."
Ia melirik Ayane.
"Kamu kuat menahan sakit?"
Ayane menoleh.
"Hah? Apa aku kelihatan seperti orang yang selalu diperlakukan baik? Ahahaha. Lakukan saja. Kalau gak sanggup, aku bisa sendiri."
Diana menyimpan ponsel.
"Kamu kira tandanya pakai besi panas? Aku gak pernah bilang begitu."
Ia berdiri di depan Ayane dan mengangkat tangan.
"Infernal Power, the seal opens. The Devil reigns for eternity."
Sigil Arcana The Devil terbentuk. Dari sana muncul benda seperti jarum seukuran pensil berwarna ungu, dikelilingi miasma yang tidak memiliki bau maupun warna.
"Nah, dengan ini bisa menulis. Mau di bagian mana?"
Ayane menunjuk sisi kiri leher.
"Di sini."
"Leher? Baik. Bersiap."
Diana mendekat dan menahan tubuh Ayane agar tidak bergerak. Jarum menyentuh kulit.
Psssshhhh.
Bunyi seperti benda panas mengenai permukaan lembap terdengar. Diana menggambar mawar—logo yang sama dengan simbol kantornya—langsung pada kulit.
"Tahan. Jangan bergerak."
Proses memakan waktu sekitar lima belas menit.
Ketika selesai, Diana menghancurkan jarum menjadi serpihan debu.
"Jangan diapakan. Biar kering. Sepuluh menit lagi jadi tanda permanen."
Ayane sudah basah oleh keringat. Nafasnya berat dan tubuhnya mengejang sepanjang proses, tetapi ekspresi yang muncul justru tidak sepenuhnya menunjukkan penderitaan.
Permukaan tanah di sekitar mereka bahkan sempat retak, seolah ada sesuatu hendak mencuat dari bawah, lalu menghilang lagi.
Begitu Diana selesai, Ayane ambruk di bangku.
"Hah... hah... kita harus melakukannya lagi..."
Diana menatap bingung.
"Eh? Kamu kenapa? Keringatan banget."
Ia melihat retakan di tanah, menginjak salah satunya sebentar, tetapi malas menyelidiki lebih jauh.
"Kamu mau lagi? Tadi itu harusnya sakit banget."
Diana membersihkan jari dengan sapu tangan.
"Yah... kalau kamu melakukan hal bagus, mungkin kukasih hadiah."
Dari sisi taman terdengar suara perempuan lain.
"Pspspsps! Meong! Sini meong!"
Seorang gadis bersurai ungu sedang berjongkok memancing kucing putih. Begitu hewan itu mendekat, ia langsung mengangkatnya.
"Hup! Kenaaaa!"
Pandangan Anna kemudian berpindah pada Diana dan Ayane.
"Wah, menarik! Sayang waktu pelelangan aku gak bisa ikut karena sakit. Beruntung banget dia punya budak yang masokis. Aku juga ingin menyiksa budak lucu!"
Ayane hanya menarik napas panjang, sementara Diana masih sibuk membersihkan tangannya.
* * *
Rumah sakit terbesar di Aeon tidak pernah benar-benar sepi. Lampu putih memantul di lantai keramik, aroma antiseptik memenuhi koridor, dan deretan pasien serta pengunjung menciptakan antrian panjang bahkan pada tengah malam.
Altaf berdiri bersama Isolde di salah satu koridor.
"Baiklah, Terra. Saya ulangi. Jarakmu dengan Gale—termasuk dengan saya—satu meter, kecuali dalam kondisi tertentu. Satu meter. Demi kebaikan kita semua. Bisa?"
Isolde mengangguk.
"Satu meter. Dimengerti, Master."
Kebencian antara dua ras tidak bisa dihilangkan hanya dengan niat baik. Bagi Altaf, menjaga jarak adalah cara paling sederhana untuk meredamnya.
"Kita ke sini untuk mematuhi perintah pemerintah. Saya akan memberikan tanda kepemilikan dengan bantuan dokter."
Altaf tidak menyimpan besi panas dan tidak berniat melakukan penandaan tanpa pandangan medis. Ia sudah membuat janji dengan seorang dermatolog.
"Sekarang tunggu di koridor. Jangan bertukar pandang dengan Gale lain sampai dokter memanggil."
Isolde menurut. Ia memilih berdiri dan menatap dinding.
* * *
Di salah satu kamar pasien, Cain Noctis duduk di samping ranjang seorang pendeta muda bernama Elias.
Anak itu baru melewati masa kritis setelah menjadi korban salah sasaran dalam bentrokan Gale dan Terra. Selang infus terpasang di lengan, wajahnya masih pucat.
"Uskup... kenapa Anda repot-repot datang?" tanya Elias lemah. "Saya yakin ada hal yang lebih penting menunggu Anda di Fortuna."
Cain menutup Alkitab yang sedang dibaca.
"Aku datang bukan cuma untuk menjengukmu. Tidak ada yang lebih penting daripada menjaga jiwa yang dipercayakan kepadaku. Bahkan jiwa pendeta keras kepala sepertimu."
Elias tersenyum.
Cain memandang hujan di luar jendela. Kejatuhan Overrealm telah mengubah ketegangan sosial menjadi sesuatu yang bahkan terasa sampai di katedral.
"Fokus pada pemulihanmu. Dunia di luar memang kelam, tapi gak ada gunanya membebani diri dengan hal yang di luar kendali. Tugasku menanggung itu untukmu."
"Kadang saya merasa gak cukup kuat."
"Kekuatan bukan berarti gak pernah lemah, Elias. Kekuatan adalah keberanian bangkit meski jatuh berkali-kali. Kita gak pernah berjalan sendirian."
Cain membaca doa pendek sampai Elias kembali tertidur.
Ia baru bangkit ketika perutnya sendiri berbunyi.
Cain terkekeh kecil.
Nasihat menjaga tubuh, tetapi aku sendiri lupa makan.
Ia meninggalkan kamar.
* * *
Tidak jauh dari sana, Camus berdiri di hadapan altar sederhana yang diterangi lilin. Foto-foto Gale yang tewas dalam kerusuhan Haravos berjajar di atasnya. Sejumlah jemaat berdiri di belakang, sebagian menunduk, sebagian mengepalkan tangan menahan duka dan amarah.
Camus mengangkat kedua tangan.
"Saudara-saudaraku, malam ini langit Averion seakan memudar. Mari tundukkan kepala untuk mengenang mereka yang pergi—jiwa-jiwa yang terseret dalam gejolak yang tidak mereka pilih."
Suara pria bersurai emas panjang itu tetap tenang.
"Hidup mereka berakhir di tengah pertikaian, tetapi nilai keberadaan mereka tidak ditentukan oleh bagaimana mereka pergi. Nilainya berada pada cahaya yang mereka tinggalkan."
Ia menutup mata.
"Semoga Yang Agung memberi kita kebijaksanaan untuk melihat melalui kabut kebencian, ketenangan untuk menyembuhkan luka, dan kekuatan agar kita tidak menjadi lebih kejam daripada penderitaan yang kita sesali."
Hening menyelimuti koridor.
"Dengan ini saya menutup doa malam ini. Semoga setiap langkah kita membawa kebaikan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk dunia yang membutuhkan kedamaian."
Para hadirin mulai membubarkan diri.
* * *
Di koridor lain, Lucien sedang menghadapi persoalan yang menurutnya jauh lebih melelahkan.
Fern duduk dengan wajah pucat dan tubuh yang masih dibalut beberapa perban. Ia baru saja sadar setelah mendadak pingsan. Di dekatnya, Harvey berbicara tanpa tanda akan berhenti.
Kedua budak Lucien sudah memiliki tanda Sanctis Vitae. Lucien memilih cold branding menggunakan dry ice daripada besi panas karena tetap ingin mematuhi peraturan tanpa menimbulkan luka sebesar metode konvensional.
"Kau benar gak apa-apa?" tanya Lucien kepada Fern dengan wajah sebal. "Aku gak paham kenapa orang Overrealm bisa seobsesif itu sama kerjaan, tapi kalau kau mati aku rugi."
Ia menoleh ke Harvey.
"Kau juga gak akan ikut pingsan, kan?"
Harvey langsung memasang gaya percaya diri.
"Hah? Kamu mempertanyakan pingsan, wahai karakter hitam-putih? Pingsan adalah hal memalukan. Itu gak ada dalam kamus pria sejati sepertiku!"
Lucien menghela napas.
"Aku menyesal nanya."
"Pria yang bisa memindahkan gunung dengan tangan kosong gak akan mengenal pingsan. Bahkan kalau mamah cantik rambut merah menyuruhku memindahkan gunung, akan kulakukan!"
Fern menunduk.
"Mohon maafkan saya."
Nada suaranya datar, tetapi permintaan maaf itu sungguh-sungguh. Ia memang kelelahan dan stres. Deadline buku yang belum selesai terus memenuhi pikirannya, sementara penerbit yang dulu menunggu pekerjaannya mungkin sudah ikut menjadi korban. Menjadi budak hanya menambah tekanan.
Lucien menepuk kepalanya dengan gulungan koran.
"Kalau capek, bilang. Biaya perawatan kalian mahal. Aku tekor. Mana satu budak lagi masih kutanggung, tapi Henry brengsek gak mau tanggung jawab."
Harvey memperhatikan Fern, lalu tiba-tiba menganalisis dengan gaya sok tahu.
"Mukanya pucat, kulit putih kayak porselen. Ini kekurangan vitamin B12. Bisa saja anemia."
Ia kemudian bernyanyi dengan lirik ngawur mengenai wajah pucat Fern sebelum menoleh ke Lucien.
"Kau mestinya suapin ikan tuna! Jadi bos pelit banget. Lihat muka pucat begitu jelas kurang makan!"
"Gak perlu kau kasih tahu, aku tahu!"
Harvey terus bicara mengenai dendam pada pria pirang yang pernah memukulnya di pelelangan.
"Kalau ketemu si brengsek itu lagi, jangan halangi aku. Aku akan tampol mulutnya—"
Sebuah suara lain menyela dengan lembut.
"Ketika kita terluka, kadang ada keinginan membalas dan menghukum mereka yang membuat kita sengsara. Tapi kebencian yang dipelihara terlalu lama hanya akan menyiksa diri sendiri."
Camus sudah berdiri tidak jauh dari mereka setelah selesai memimpin doa.
"Mungkin saatnya mendengarkan kata-kata yang lebih bijaksana—seperti yang diajarkan 'mamah cantik' yang tadi kau sebut. Jangan terjebak dalam lingkaran kebencian."
Lucien langsung menunjuk Harvey.
"Nah, dengarkan Bapa Pastor!"
Harvey terdiam sebentar.
Lucien ikut menambahkan.
"Balas dendam bukan hal baik. Lagipula kau coba begitu sama saja cari mati. Mama juga gak akan membiarkanmu bertindak seenaknya, jadi menurut seperti anak baik."
Harvey mulai ingin menyela lagi, tetapi Fern sudah memegang segulung selotip besar.
"Berisik. Bisa gak sekali saja gak ganggu percakapan orang? Kalau gak bisa, aku punya selotip."
Beberapa detik kemudian, mulut Harvey benar-benar tertutup.
"????!??!!!?"
Fern memandangnya tenang.
"Jauh lebih baik."
* * *
Suara seseorang berteriak di telepon memecah hiruk pikuk koridor utama.
Dorian berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Rambut merah bergradasi hijau tampak semakin berantakan karena berkali-kali diacak. Ia sudah menunggu terlalu lama dan Hyde belum juga muncul.
Don Antonio menitipkan seorang Terra kepadanya untuk proyek penandaan yang jauh dari metode biasa. Dorian, yang memiliki reputasi sebagai kriminal dunia medis, tahu persis betapa buruknya konsekuensi jika ia gagal memenuhi permintaan sang mafia.
Ponselnya akhirnya tersambung.
"ANAK TOLOL! CEPAT DATANG SEBELUM AKU BERSUMPAH MENGHABISIMU SETELAH INI!"
Seluruh koridor menoleh.
Dorian langsung membekap mulut dan membungkuk berkali-kali.
"M-maaf! Maaf! Permisi dulu!"
Ia menarik pergelangan Tae dengan kasar dan meninggalkan koridor utama.
"Jangan berhenti. Terus jalan!"
Tae sudah terlalu lelah untuk melawan. Sehari sebelumnya ia menghabiskan tenaga untuk menggenggam, mencakar, berteriak, dan memohon. Semua berakhir sia-sia. Kalau saja ia dieksekusi bersama Yuuya, setidaknya ia mati sebagai Terra yang masih memiliki sesuatu yang bisa disebut harga diri.
Sekarang ia hanya berjalan mengikuti tarikan.
Ketika Dorian menyeretnya melewati lorong, Camus sempat melihat gadis itu.
Tatapan Tae seperti cangkang kosong.
Rasa iba bergerak di hati Camus, diikuti naluri kebencian yang sama kuatnya. Ia sempat ingin melangkah mendekat, lalu berhenti.
Haruskah aku menolongnya seperti jiwa tersesat lain? Atau mengingat bahwa aku Gale dan dia Terra?
Camus menutup mata sejenak, berusaha mengusir kebimbangan.
Lucien yang berada tidak jauh dari sana juga sempat melihat Dorian menyeret Tae. Ia mengenali gadis Terra yang sebelumnya menjadi pusat kekacauan pelelangan dan kemudian jatuh ke tangan Don Antonio. Cara Dorian memperlakukannya membuat Lucien menduga kelompok Rosenkrantz masih menanggung kemarahan dan kerugian besar akibat kejadian Haravos. Fern pun sempat menatap Tae lebih lama dari yang lain; wajah gadis itu terasa familiar dari malam pelelangan. Tidak ada dari mereka yang sempat mendekat.
Dorian sudah membawa Tae menjauh sebelum siapa pun mengambil keputusan.
* * *
Nama Altaf akhirnya dipanggil.
Ia masuk ke ruang dermatologi lebih dahulu, disusul Isolde dalam jarak satu meter. Tatapan para pasien lain mengikuti mereka penuh kebencian. Bahkan dermatolog yang akan menangani Isolde memperlihatkan ekspresi tidak senang.
"Sebaiknya Anda profesional," ujar Altaf dingin. "Saya membayar tiga kali tarif normal."
Ia menyerahkan dokumen serta gambar seekor kucing, lambang organisasi non-profit miliknya.
"Seperti yang kita sepakati, tanda hanya pada lapisan kulit atas. Inisial mengikuti organisasi."
Altaf menoleh.
"Ulurkan tanganmu, Terra. Tanda akan berada di sana."
Isolde patuh.
"Dimengerti, Master."
Anestesi diberikan. Prosedur berjalan cepat dan nyaris tanpa rasa sakit. Sebuah tanda kecil yang tampak seperti tato terbentuk pada kulit tangan.
"Anggap saja tato," kata Altaf. "Saat aturan kembali seperti semula, kau boleh datang lagi untuk menghapusnya. Biaya sudah saya tanggung."
Ia tidak menyembunyikan fakta bahwa dirinya tetap membenci Terra secara naluriah.
"Saya berada di pihak yang gak menginginkan perubahan. Atas dasar prinsip yang saya pegang, saya gak melihatmu sebagai musuh. Kebencian padamu adalah ujian pribadi bagi saya."
Isolde melihat tanda itu.
"Yeah. Dimengerti."
Ketika prosedur selesai, ia menunduk kepada dermatolog sebagai tanda terima kasih dan kembali menjaga jarak satu meter dari Altaf.
Mereka keluar ke koridor.
"Ayo, Terra."
Altaf mendengar keributan dari arah Dorian yang menjauh, tetapi perhatian segera beralih pada dua orang yang dikenalnya: Cain baru keluar dari ruang pasien, sedangkan Camus berdiri bersama Lucien dan dua budaknya.
Altaf menghampiri dan menunduk kecil, tangan menyentuh dada.
"Salam, Uskup Cain. Pastor Camus. Tidak biasanya kita bertemu di tempat begini. Ada sesuatu yang mendesak?"
Camus menyambut dengan senyum.
"Sambutan yang tulus, Tuan Altaf. Sebatas panggilan tugas. Sementara Anda?"
Pandangan Camus sempat mengarah pada Isolde.
Altaf menangkapnya.
"Mengikuti aturan yang berlaku. Saya datang memberi hiasan kecil pada Terra. Saya membelinya mahal. Dia punya harga, tidak baik membiarkan pemerintah menyitanya lagi."
Ia mengangkat alis.
"Kenapa, Pastor? Kalau ada yang menarik perhatian, sampaikan. Saya harap hanya untuk memastikan Terra tetap terkendali."
Camus tersenyum sedikit dipaksakan kepada Isolde.
"Kesantunan adalah cerminan jiwa yang tertata. Ia tetap perlu dijalankan, tak peduli siapa yang berdiri di hadapan saya."
Cain mengangguk kepada Altaf.
"Salam, Sir Altaf. Tidak ada yang mendesak. Hanya tugas seorang uskup menjaga mereka yang berada dalam tanggung jawabnya."
Ia kemudian menoleh pada Camus.
"Salam, Pastor Camus. Lama tidak berjumpa."
"Salam sejahtera," balas Camus. "Semoga kedamaian senantiasa menuntun jalan Anda."
Lucien yang sedari tadi ikut berada di sana mendadak membeku ketika mendengar nama Cain.
Sudah sekitar sepuluh tahun sejak mereka bertemu.
Cain juga baru menyadari keberadaan Lucien.
"Lucien."
Nada suaranya lembut.
"Sudah lama sekali."
Lucien ingin lari, tetapi tetap memaksakan senyum cerah.
"Wah, siapa sangka Frater muda yang begitu berdedikasi dulu sekarang jadi Uskup yang dihormati? Bukti iman dan kerja keras yang gak tergoyahkan. Mungkin telat bertahun-tahun, tapi selamat."
Ia menahan emosi yang mulai naik.
"Kehidupanku berjalan lebih baik sekarang. Jadi kau gak perlu khawatir."
Cain tersenyum tulus.
"Aku senang dengarnya. Apa kau luang hari ini?"
Sebelum Lucien menjawab, Harvey yang mulutnya masih tertutup selotip sudah mencoba mengeluarkan suara tidak jelas. Fern berdiri di sebelahnya tanpa rasa bersalah.
Altaf memperhatikan kelompok itu dan tiba-tiba berkata,
"Pertemuan ini terasa lebih dari sekadar kebetulan."
Ia memandang Cain, Camus, dan Lucien.
"Apa kalian percaya takdir besar membawa kita ke tempat ini? Mungkin ada sesuatu yang harus kita selesaikan. Semoga mengarah kepada kebaikan."
Lucien terkekeh kecil.
"Sungguh kehormatan takdirku bertaut dengan tokoh ternama seperti Anda, Sir Altaf."
Harvey mendekat dan berbisik sesuatu yang tidak jelas karena selotip. Ia jelas sedang mengomentari penampilan Altaf.
Fern menariknya menjauh.
Camus memandang Altaf.
"Kalau pertemuan ini lebih dari kebetulan, mungkin kita sedang diarahkan pada sesuatu yang belum kita pahami sepenuhnya. Kalau ada yang harus diselesaikan, biarkan waktu mengungkapnya. Kita perlu bersedia mendengar apa yang semesta sampaikan."
Cain mengangguk.
"Takdir sering membawa kita ke tempat yang gak kita duga. Saya percaya setiap pertemuan punya tujuan. Kalau ini panggilan untuk menyelesaikan sesuatu, mari berjalan dengan hati terbuka dan iman teguh."
Altaf menanggapi dengan serius.
"Takdir bagi saya adalah peluang. Peluang mengukuhkan kebaikan atau menghancurkan keburukan."
* * *
Suasana berubah ketika seorang pria lain masuk ke koridor.
Don Antonio berjalan dari area bebas merokok dengan setelan hitam rapi. Cerutu baru saja dipadamkan di tangannya. Kehadirannya langsung membuat staf medis dan pasien menghindari tatapan.
Ia datang untuk memastikan sebuah proyek berjalan sesuai keinginannya. Ruang bedah telah disiapkan, privasi dijamin, bahkan operasi lain dihentikan agar fasilitas bisa dipakai kelompoknya.
Ketika melihat Camus, Antonio mengubah arah.
"Pastor Camus."
Ia mengulurkan tangan.
"Ternyata Tuhan masih baik hati memberimu kesempatan berdiri di jalanku."
Camus menatap tangan itu dan memilih tidak menyambutnya. Kedua tangan justru disatukan di depan tubuh.
"Mungkin memang begitu, Tuan Don. Kalau takdir masih mempertemukan kita, mungkin ada pelajaran yang belum selesai diajarkan."
Antonio menarik tangan kembali dan memasukkannya ke saku.
"Santailah sedikit, Pastor. Kau kelihatan seperti memanggul seluruh beban dunia. Apa aku ancaman sebesar itu?"
Senyumnya mengejek.
"Atau sebenarnya kau takut pada sesuatu yang gak bisa kau kendalikan?"
Camus tidak terpancing.
Antonio lalu melirik Altaf.
"Takdir?"
Ia tertawa kecil.
"Kita gak pernah tahu kita dikendalikan takdir atau sedang memberontak. Satu hal pasti—aku gak suka patuh pada aturan. Kalian pasti setuju."
Altaf menahan ekspresi.
"Saya tetap berpihak pada tradisi dan aturan yang dibangun dari kisah para leluhur."
Antonio menepuk pundak Lucien ketika anak itu menyapanya sopan.
"Gak perlu formal. Aku masih punya bisnis. Bersenang-senanglah di sini dengan temanmu."
Sebelum pergi, ia menatap Altaf.
"Ayahmu memainkan perannya sebagai budak takdir dengan baik. Sangat menginspirasi."
Sindiran itu mengenai sasaran, tetapi Altaf tidak membiarkan emosi mengambil alih.
"Saya tahu. Pria ambisius seperti dirinya tidak akan diam menikmati kehancuran. Saya yakin dia akan melibatkan diri."
Antonio meninggalkan kelompok menuju ruang bedah.
Altaf memberi jeda.
"Saya pamit. Semoga pertemuan ini membawa arti."
Ia menoleh pada Isolde.
"Ayo, Terra."
Mereka berjalan pergi.
Beberapa langkah kemudian, Altaf mengangkat tangan.
"Every world holds hidden spaces. Fields connect, gathering truths. The seal opens—let the force find its path."
Sigil berputar di sekitar lengannya. Medan energi tak kasatmata menyebar dengan Altaf sebagai pusat, membungkus sebagian rumah sakit. Percakapan terakhir—terutama ucapan Antonio mengenai ayahnya—telah memicu rasa ingin tahu yang tidak bisa diabaikan.
* * *
Sementara perhatian koridor tertahan pada pertemuan orang-orang berpengaruh itu, Hyde belum juga sampai.
Ia masih berada di sebuah gedung terbengkalai bersama beberapa bawahan mafia.
Moncong pistol diarahkan ke kepalanya. Para pengawal sudah kehilangan kesabaran. Mereka tadi bahkan harus memanjat tiang demi mengambil salah satu mayat Terra yang digantung di dekat terminal, padahal Hyde sendiri memiliki kemampuan yang sebenarnya bisa mempercepat pekerjaan.
Mayat Yuuya kini tidak lagi utuh.
Potongan tubuh disusun dalam kotak gitar agar bisa dibawa tanpa terlalu mencolok. Kepala dibiarkan utuh, sementara beberapa organ dalam tercecer sebelum Hyde memasukkannya ke kantong plastik.
Sarung tangan lateks berubah warna oleh darah. Pengaruh obat terlarang membuat batas antara realita dan fantasi di pikirannya semakin kabur.
"Nih."
Ia menyerahkan kantong berisi organ kepada salah satu anggota mafia.
"Bisa kalian jual sebagai imbalan."
Mereka menerimanya dengan wajah jijik.
Hyde mengangkat kotak gitar ke bahu.
"Ke rumah sakit sekarang."
Mobil melaju lebih dari setengah jam sebelum berhenti di depan rumah sakit Aeon.
Hyde hanya sempat mengganti pakaian. Darah masih menempel di beberapa bagian tubuh dan rambutnya berantakan.
Ia masuk melalui keramaian dan menghampiri resepsionis.
"Ruang bedah. Di mana?"
Wanita di balik meja menunjukkan arah dengan tangan gemetar. Sudah terlalu banyak orang mencurigakan menanyakan ruangan yang sama malam itu.
Hyde mengikuti petunjuk dan melihat Don Antonio masih berada jauh di koridor bersama sekelompok orang. Ia mempercepat langkah agar tidak ketahuan terlambat.
Dorian sudah menunggu di depan pintu ruang bedah.
Hyde melambaikan tangan sambil menunjukkan kotak gitar dan menjulurkan lidah, seolah bangga dengan isi di dalamnya.
Wajah Dorian langsung berubah.
Ia menerjang Hyde, memukul wajah dan menendangnya.
"OTAKMU DI DENGKUL?! TERLAMBAT SEDIKIT LAGI OPERASI SUDAH BERJALAN! KAU SELALU MENGACAUKAN SEGALANYA!"
Hyde hanya cengengesan meski punggung dihempaskan ke dinding.
"Kak, aku belum mengacaukan apa-apa. Baru mau mulai."
"Cepat letakkan itu di sana! Kita singkirkan setelah operasi selesai!"
Dorian menariknya masuk bersama Tae.
* * *
Ruang bedah sudah berubah fungsi sebelum mereka datang.
Raaghib Tamih berdiri dengan jas mahal di tengah ruangan steril. Ia bahkan menolak pakaian khusus yang diwajibkan rumah sakit. Tidak ada staf yang berani membantah.
Ketika teknisi menyiapkan anestesi, Raaghib langsung menegur.
"Untuk apa kalian menyiapkan itu? Saya sudah bilang orientasi kita bisnis, bukan belas kasihan."
Ia mendekati meja operasi.
"Doktor Yakov Zeldovich mengatakan rasa sakit berperan merangsang mekanisme adaptif makhluk hidup. Biarkan Terra merasakan sakit. Biarkan dia belajar dan berevolusi. Biarkan dia menanggung dosanya."
Beberapa tenaga medis terlihat ragu.
"Dan kalian adalah malaikat baik yang menolongnya sembuh dari kehinaan. Tidak ada kompromi untuk anestesi."
Raaghib menatap seluruh ruangan.
"Pasang peredam suara. Saya gak mau banyak pengunjung. Selesaikan semuanya cepat."
Dorian masuk dan langsung membungkuk dalam, memaksa Hyde menundukkan kepala bersamanya.
"K-kami terlambat. Maafkan saya."
Ia mendengar keputusan tanpa anestesi dan jelas tidak menyukainya, tetapi tidak berani menolak.
"Saya membawa asisten pribadi. Bisa setidaknya minta yang lain meninggalkan ruangan?"
Tanpa menunggu banyak, Dorian menyeret Tae ke ranjang restrain dan mengikat tubuhnya dengan sabuk. Masker serta sarung tangan steril dikenakan. Mata Tae ditutup pelindung agar ia tidak melihat apa yang akan dilakukan.
"Kita selesaikan secepatnya."
Hyde justru mendekat santai.
"Gak perlu buru-buru. Dia gak akan ke mana-mana, kan?"
Tangan bersarung mengelus wajah Tae.
"Such a good girl... Aku janji kasih hadiah setelah selesai."
Jari Hyde bergerak ke nampan dan mengambil gergaji gigli.
Tae yang sejak tadi hampir tidak bereaksi mendadak tersentak.
Saat tadi berada di koridor, ia sempat melihat Don Antonio—pria yang menebus lelangnya setelah kekacauan Haravos. Tae ingin bertanya tentang Yuuya, tentang tubuhnya setelah eksekusi, tentang tempat jasadnya diletakkan. Namun Dorian sudah menyeretnya masuk sebelum satu kalimat selesai.
Sekarang penglihatan tertutup dan tubuh terikat.
Serangan panik membuat napasnya berat.
Ketika Hyde menyentuh wajah, naluri pertahanan mengambil alih.
Tae mengangkat leher sejauh yang bisa dilakukan dan mencoba menggigit tangan itu.
"Grrrrgh..."
Taring tajam terlihat.
Sepanjang hidup di Overrealm, Tae hampir tidak pernah menyakiti siapa pun. Tetapi malam ini, di atas meja operasi yang bahkan tidak memberinya hak untuk mengetahui apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, naluri bertahan hidup menjadi satu-satunya hal yang tersisa.
* * *
Jauh dari Aeon, jauh dari Averion, bahkan jauh dari pemahaman makhluk yang hidup di dua dunia palsu itu, sebuah ruang supervisi semesta berada dalam kehampaan.
Pertanyaan yang melayang di sana jauh lebih besar daripada perkara budak, mafia, ekonomi, atau konflik ras.
Untuk apa dunia anti-paralel diciptakan?
Sebuah kepala menggelinding di ruang itu. Wajahnya tersenyum, tiruan sempurna dari entitas bernama Prince yang tubuh aslinya tidak hadir. Ia hanyalah salah satu representasi sang Wisdom.
"Sepuluh ribu diriku sudah memeriksanya. Axiom bukan penyebab jatuhnya Overrealm. Dunia sebenarnya masih terkunci rapat."
Averion dan Overrealm diciptakan sebagai dua dunia yang berlawanan—gelap dan terang, musuh dan kawan—bukan tanpa alasan. Keduanya menekan sesuatu di antara mereka seperti dua sisi struktur yang saling mengunci.
Axiom.
Dunia asli. Dunia sebenarnya. Dunia orisinal dari Reverse Mirror.
"Selama sisa dari kedua dunia tetap ada sesuai kodratnya, Axiom gak akan kembali," lanjut Prince. "Kita, para penjaga semesta, harus menjaga kodrat kedua ras dan kedua dunia."
Suara gelas kayu membentur lantai.
Kars Sinclair duduk di sudut ruangan sambil menikmati minuman, pakaian tradisional dan pedangnya membuatnya tampak santai sekaligus siap bergerak kapan saja.
"Apakah kau sudah memikirkan rencana paling tepat merespons situasi ini, Wisdom?"
Ia meneguk minuman.
"Langkah tercepat mungkin mengeluarkan dekrit supaya sisa dunia yang runtuh gak hilang sepenuhnya. Tapi apa makhluk yang dipenuhi naluri kebencian bisa menerimanya tanpa kekacauan?"
Kars menegakkan pedang yang masih tersarung.
"Tujuh hari sudah cukup untuk membuat mereka saling membunuh. Kalau dibiarkan, kunci yang menahan Axiom bisa terkikis."
Seorang wanita berpakaian gothic gelap berdiri tidak jauh dari sana. Anastasia Kriemhild—Ruin—lebih terlihat seperti seseorang yang menunggu perintah daripada tertarik pada diskusi panjang.
"Aku serahkan rencana ke kalian. Bilang apa yang harus kulakukan, langsung kulaksanakan. Tapi jangan lama-lama. Aku gak suka menunggu."
The Pioneer mengetukkan tongkat ke lantai.
"Ohoho... jadi ada faktor lain yang menyebabkan kejatuhan itu, Wisdom?"
Ia menatap Kars.
"Menghilangkan kebencian juga sulit, Guardian. Akar kebencian tetap ada meski pohonnya dicabut."
Kemudian ia melirik Anastasia.
"Tidak perlu terburu-buru, Ojou-sama. Aku justru melihat ini sebagai simulasi menarik. Meski sistem yang rusak memang gak boleh dibiarkan. Axiom gak boleh kembali."
Suara tak terdengar.
Sebuah kubus Rubik baru saja selesai disusun oleh sosok yang merepresentasikan struktur kosmologi Reverse Mirror—Deimos, The Cosmos.
Dengan busana bergaya Victorian, ia melepaskan kubus itu ke udara. Benda tersebut melayang di tengah ruangan dan memproyeksikan hologram peristiwa tujuh hari terakhir di Averion dan Overrealm.
"Hubungan yang tercipta dari kumpulan momen di luar kehendak kita sebut nasib."
Ia memandang para entitas lain.
"Kebencian adalah sifat dasar makhluk berakal. Kita sudah menghadapi hal itu berkali-kali, jadi itu bukan prioritas. Tugas kita adalah menjaga struktur semesta tetap bekerja. Selama Averion dan Overrealm tetap saling mendorong, aku mendukung gagasan Wisdom untuk mempertahankan kodrat dua dunia palsu itu."
Hologram memperlihatkan bencana, pelelangan, pemberontakan, dan berbagai pertemuan yang muncul sesudahnya.
"Kalau nasib buruk ini terus sambung-menyambung, susunan yang ada akan rusak dan membuka takdir buruk yang kita kenal sebagai Axiom. Bukan begitu?"
Deimos menoleh ke arah entitas yang merepresentasikan Reverse Mirror itu sendiri.
The Universe biasanya pasif. Ia tidak memiliki wujud fisik tetap, melainkan bagian dari semesta itu sendiri—jembatan antara The God dan seluruh penghuni ciptaan.
Sebuah bentuk humanoid tercipta dari materi hitam berkilau ketika perhatian diarahkan kepadanya. The Universe menatap hologram tanpa sepatah kata, tetapi kehadirannya sendiri menandakan ia ikut mendengarkan.
Kemudian cahaya berubah.
Tedros Alucard, Sang Pencipta, muncul dari kehampaan. Serpihan cahaya menyusun tubuhnya. Langit di atas ruang supervisi merekah seperti mozaik cermin, memantulkan spektrum ke segala arah. Kupu-kupu bercahaya beterbangan di sekelilingnya.
Kehadirannya lembut sekaligus mutlak.
"Axiom adalah kebenaran yang terkunci rapat dalam struktur yang disempurnakan," ucap Tedros. "Bukan karena kelalaian, ketidakseimbangan, atau kehendak kalian. Kunci untuk membuka Axiom tidak pernah berada di luar kendaliku."
Ia menyentuh hologram. Adegan konflik berganti dengan momen kecil cinta, pengorbanan, harapan, dan keserakahan. Semua memperlihatkan bahwa kebebasan para makhluk tetap bergerak dalam rancangan yang lebih besar.
"Demi kesetiaan kalian pada peran masing-masing, renungkan kesiapan menghadapi kehancuran tanpa menyimpang dari jalan takdir."
Cahaya mengalir dari ujung jarinya.
Sebuah kartu muncul di tangan: The Emperor.
Simbol stabilitas dan kepemimpinan bijaksana itu kini menyimpan kemungkinan menjadi lambang salah satu kesalahan terbesar dalam sejarah semesta.
Dinding mozaik menunjukkan retakan. Kegelapan merambat di sela cahaya. Berbagai gambaran tragedi muncul acak, menuntun seseorang pada pencarian yang penuh pengorbanan dan keserakahan.
"Takdir bukan garis lurus," lanjut Tedros. "Ia aliran energi yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi, tetapi harus dihormati. Penyimpangan tidak hanya merusak satu dunia. Ia bisa merusak struktur lebih besar."
Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Yang perlu kita lakukan sekarang adalah menentukan arah takdir dari titik ini."
Prince menggelinding sedikit.
"Maafkan aku. Aku gak punya rencana. The Cosmos sudah menjelaskan sebagian besar."
Ia merenungkan kalimat Tedros.
"Menentukan arah takdir terdengar terlalu mutlak. Apakah itu berarti kita mencampuri secara langsung?"
Kepala itu berhenti.
"Tidak bijak menuduh. Tapi lebih tidak bijak menyimpan kecurigaan sendiri."
Suasana berubah.
"Kami menyoroti dua kapal antar-semesta yang gak biasa. Kapal serupa mendarat di planet kesepuluh semesta United Colosseum. Kapal yang terbuat dari nyawa manusia—makhluk hidup dijadikan bagian mesin. Mereka mendarat, kemudian menciptakan bencana."
Prince memandang hologram baru.
"Sekarang dua kapal itu terlihat samar di semesta kita. Ada kemungkinan merekalah faktor yang menyebabkan Overrealm runtuh. Kalau benar, kita menghadapi musuh yang lebih rumit daripada konflik antardunia."
The Pioneer berhenti mengetukkan tongkat.
"Kalau mereka penyebabnya, Wisdom, apa kita bisa mengembalikan semuanya tanpa menyia-nyiakan usaha? Mereka datang dan pergi sesuka hati. Variabel istimewa dari luar terkadang mengganggu takdir itu sendiri."
Ketukan tongkat menjadi lebih cepat, lalu perlahan tenang kembali.
"Menentukan arah takdir akan sulit kalau variabel luar mengganggu keseimbangan dua dunia palsu. Aku hanya berharap mereka tidak melihat dunia-dunia itu sebagai sumber energi untuk pergi lagi."
Kars meneguk sisa minumannya.
"Menangani kebencian memang bukan prioritas. Tapi nasib ras yang jatuh terancam oleh kebencian itu."
Ia memandang Prince.
"Untuk makhluk asing itu, serahkan padaku. Ruin, bagaimana kalau kau ikut dan gunakan bakatmu untuk tamu-tamu tak diundang?"
Anastasia sudah lebih dulu meraih pedang hitam besar yang hampir seukuran tubuhnya.
"Jangan tanya. Aku sudah memutuskan ikut."
Wajahnya tetap tanpa senyum.
"Menghancurkan sesuatu memang yang kunikmati."
Kars merapikan pakaian dan menggantung botol sake kembali di pinggang.
"Wisdom, aku perlu pembaruan informasi berkala. Internal semesta kuserahkan pada kalian. Ingat satu hal: eksistensi Gale dan Terra harus tetap terjaga untuk mencegah kemungkinan terburuk."
Ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang supervisi. Anastasia menyusul dengan pedang di tangan.
Di belakang mereka, hologram dua dunia masih menyala.
Averion dan sisa Overrealm tampak kecil dari tempat itu.
Dua dunia yang penduduknya percaya mereka sedang memperjuangkan hidup, kebebasan, kekuasaan, moralitas, atau balas dendam masing-masing.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa keberadaan kedua ras itu sendiri sedang dipertahankan sebagai bagian dari sebuah kunci.
Dan jauh di luar batas semesta, dua kapal asing bergerak samar menuju Reverse Mirror.
END