A God Among Mortals Part II
Denting piano yang memutus sambungan kantor pemerintah bukan berasal dari saluran komunikasi.
Pada saat yang sama, lampu-lampu rumah sakit Aeon berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian padam.
Suara mesin medis yang semula menjadi dengung latar ikut mati. Dalam gelap, melodi piano yang sama terdengar dari tempat yang tidak jelas - awalnya lambat dan nyaris menenangkan, lalu semakin cepat, semakin keras, semakin kacau.
Sesuatu telah memasuki rumah sakit.
Atau mungkin sejak awal memang sudah berada di sana.
***
Sebelum kegelapan benar-benar menelan gedung itu, Gio masih berdiri di ruang pasien bersama Tae dan Hyde.
"Fine. We'll talk," ujar Hyde, seolah ancaman Gio tidak berarti banyak.
Tae masih terduduk dengan tubuh baru yang terasa asing. Darah Yuuya mengotori lantai dan sebagian wajahnya. Naluri Gale di dalam dirinya semakin kuat, menggerus ikatan yang pernah ia miliki terhadap Terra.
"Apa yang kalian inginkan?" tanyanya. "Kurasa 'menghilangkan' jauh lebih mudah untuk kalian daripada 'menciptakan'. Jadi kenapa mengubahku menjadi bagian dari kalian?"
Gio menoleh kepadanya.
"Yang mereka lakukan padamu di sini tadinya bukan urusanku. Tapi berhubung dia terlibat-" Gio menunjuk Hyde, "-sekarang ini jadi urusanku. Dan soal kenapa, hanya dia yang bisa jawab."
Hyde tersenyum.
"Tidak semua orang memperoleh kepuasan dengan membunuh. Dalam kasusku, kepuasanku sangat teramat sederhana."
Tanpa peringatan, ia mengambil jarum suntik yang tadi digunakan pada Tae dan menusukkannya ke leher sendiri.
Tubuhnya ambruk.
Efek depresan menyebar cepat. Napasnya putus-putus, saraf ototnya kehilangan kekuatan.
"Kau... akhirnya datang..." gumamnya, menatap ke ambang pintu seolah melihat seseorang yang tidak ditangkap orang lain.
Gio langsung mengangkatnya.
"Oi, brengsek!"
Ia menampar Hyde beberapa kali.
Tidak ada respons yang cukup.
Gio teringat nama yang pernah diberikan Andrea kepadanya.
Dorian.
Ia memanggul Hyde dan meninggalkan ruangan.
***
Di kamar mayat, sebuah pintu didobrak keras.
Dorian terjatuh dari ranjang dan langsung menyumpah ketika melihat siapa yang masuk.
"Mati kau. Kurang ajar. Sialan. Bangsat. Mafia brengsek!"
"Ya, ya. Heard that before. Cepat urus dia."
Gio menurunkan Hyde.
Dorian baru menyadari siapa yang dibawa. "What the fuck is this!?"
Ia menarik tubuh adiknya dari bahu Gio sampai jatuh di lantai, sempat menendangnya dan membenturkan kepalanya karena emosi sebelum kewarasan profesional akhirnya kembali.
"Oi, jangan malah membunuhnya. Aku butuh dia hidup," tegur Gio.
Dorian mengacak rambutnya dengan frustrasi. Setelah menghela napas panjang, ia memeriksa denyut nadi Hyde, membuka kelopak mata, lalu menarik choker-nya. Bekas suntikan tampak jelas di leher, tepat dekat tato mawar biru.
"Kau bisa pergi dari sini," kata Dorian.
"Sudah kubilang, aku butuh dia hidup. Jadi kecuali aku benar-benar mengganggu, akan kulihat sampai kupastikan dia benar-benar hidup."
Dorian menahan tatapan kesal.
Lampu di atas mereka berkedip.
Piano mulai terdengar.
Gio mengangkat kepala.
"Ap-"
Semua lampu mati.
***
Di luar rumah sakit, Rin menahan kemudi ambulans yang dikendarai Felicia.
Rindou tidak menyukai wajah Pearl bahkan sebelum mereka bertemu malam itu. Pengalaman masa lalu membuat nama perempuan itu cukup untuk memicu kewaspadaan. Karena itu ketika melihatnya berdiri bersama orang-orang bersenjata di pintu rumah sakit, seluruh rencana yang tadinya terdengar masuk akal berubah menjadi daftar kemungkinan buruk.
Fred dan Felicia menerima tracker yang diberikan Rin dengan reaksi berbeda. Bagi Rin, alat kecil itu bukan sekadar cara mengawasi budak. Ia tidak dapat menjamin dirinya akan diizinkan mengikuti mereka di dalam. Jika Rosenkrantz memisahkan mereka, sinyal tracker adalah satu-satunya hal yang membuatnya masih merasa punya kendali. Masalahnya, Fred menafsirkan perhatian itu sebagai bagian dari kepentingan pribadi Rin terhadap kasus Hyde.
"Tunggu, berhenti!"
Felicia refleks menginjak rem.
Dari depan gedung terdengar tembakan dan kaca pecah. Sejumlah pria Rosenkrantz berdiri di pintu masuk. Pearl masih terlihat dengan senjata di tangan.
Rin langsung mundur dari jendela.
"Sial - aku belum siap bertemu dengan cewek sinting itu!"
Felicia mengintip. "Wah cantik juga, itu siapa?"
"Bukan waktunya nilai orang!"
Rin mengeluarkan dua GPS tracker kecil.
"Kita tunggu di sini sampai situasi kondusif. Kalian harus bawa ini. Jika seandainya mereka mengusirku, aku masih bisa mendengar suara dan melacak kalian. Hanya itu yang bisa kulakukan saat ini, sisanya berada di luar kendaliku."
Fred menerima tracker dengan enggan.
"K-kita beneran harus masuk ke sana!? Apa mereka itu kelompok mafia yang pernah kau sebut? Rosenkrantz?"
Rin tidak menjawab cepat.
Fred menatapnya, kemudian rasa kesal yang tidak sepenuhnya rasional muncul.
"Kau memang berencana meninggalkan kami, kan? Tidak perlu repot mengawasi keadaan kami. Selesaikan urusanmu sendiri."
Ia mengembalikan tracker dan membuka pintu ambulans.
Rin langsung tersinggung.
"Aku kan sudah bilang, apa pun rencana yang kalian punya tidak akan- hah?"
Fred sudah turun.
"Kalau kau merasa punya ide lebih bagus, silakan saja. Aku tidak akan melarang."
Rin mendorong Felicia keluar dan memandang Fred dengan senyum sinis.
"Asal kau tahu, Terra. Kau itu juga jago membual. Kau sendiri yang berlari kepadaku. Apa yang sebenarnya kau harapkan?"
Ia masuk ke kursi pengemudi, menutup pintu, lalu membawa ambulans pergi.
Fred berdiri terpaku.
"Aku tidak berbohong!"
Felicia menyimpan tracker miliknya di jepit rambut.
Ia menatap kakaknya dengan tajam.
"Tidak."
Fred menoleh. "Hah?"
"Kakak selalu begitu. Larut ke emosi lebih dulu, lalu bersikap sembrono, dan akhirnya membuat keputusan yang ujungnya disesali. Kecuali kepala Kakak sudah dingin, maka aku yang maju lebih dulu!"
Felicia berjalan mengitari area penjagaan. Ia menemukan bagian tembok yang cukup rendah.
"Ayo, Kak! Sebelum ada yang lihat!"
Fred mengikuti, meski memanjat tembok setinggi dua meter saja sudah membuatnya terengah.
Begitu Felicia menyentuh pintu darurat di sisi belakang, dunia berubah.
Rumah sakit yang semula berdiri di tengah kota berubah seperti gedung yang telah ditinggalkan bertahun-tahun. Jalan raya dan tempat parkir lenyap, digantikan hutan belantara. Langit memerah.
Fred kehilangan keseimbangan dan jatuh ke semak.
"Whoa!"
"K-kakak, baik-baik saja?!"
Denting piano terdengar di kepala mereka, bukan dari gedung.
Fred mendongak.
Bulan telah berubah menjadi bola mata raksasa.
"Feli. Jangan jauh-jauh dariku."
Sebuah pintu rumah sakit terbuka sendiri.
Fred merasa seluruh situasi seperti game horor yang sengaja dirancang untuk menghukum pemain yang terlalu ingin tahu. Beberapa menit sebelumnya rumah sakit berdiri di tengah kota, penuh penjaga dan suara senjata. Sekarang jalan di belakang mereka berubah menjadi hutan, bangunan itu tampak terbengkalai, dan bulan berbentuk mata mengawasi seolah kamera permainan yang tahu setiap pilihan.
Ia bercanda soal elite boss bukan karena berani. Jantungnya berdetak terlalu cepat dan tangan yang menggenggam Felicia terasa dingin. Selama bertahun-tahun, dunia virtual menjadi tempat paling aman untuknya: aturan bisa dipelajari, pola musuh dapat diulang, dan kegagalan hanya memerlukan restart. Tempat ini mengambil semua logika familiar itu lalu memberinya konsekuensi nyata.
Felicia pun membalas dengan referensi monster yang semakin tidak masuk akal. Bagi dua bersaudara itu, saling mengejek adalah cara menjaga rasa takut tidak mengambil alih. Kalau mereka berhenti bicara, suara piano di kepala akan menjadi satu-satunya hal yang tersisa.
Felicia menelan ludah. "Apa... yang terjadi...?"
"Ayo masuk. Perhatikan langkahmu."
"Eh? Masuk? Ke sana?! Kak, sebagai pembuat game kau tahu yang di depan itu pasti elite boss fight kan?! Mending kalau cuma turn based. Kalau ternyata kita dikejar monster berbulu raksasa yang tangannya panjang dan giginya tajam, atau monster play-doh dengan mulut runcing diisi tiga bola mata gimana?!"
Fred menatapnya. "Kamu mulai ngaco, Fel. Justru kalau kita kelamaan berada di lantai yang sama, kita bakal di-ambush boss end game!"
Mereka masuk.
***
Di kantor pemerintah, lantai bergetar.
Lampu padam.
Kerumunan langsung gaduh.
Kayn yang sedang berdiri di barisan Terra kehilangan keseimbangan dan menabrak seseorang.
"Maaf-"
Leila juga nyaris jatuh. "Ada... apa ini?"
"Nampaknya ada bencana alam," jawab Leila setelah keduanya saling mengenali sebagai Terra.
Kegelapan dan kepanikan membuka satu kemungkinan.
Leila menatap Kayn.
"Anda percaya kebebasan Terra?"
Kayn memahami maksudnya.
"Mungkin...."
"Sigil, open. Let them burn."
Bola magma melesat ke pojok ruangan. Api menyebar dan memancing teriakan.
"Berbalik badan dan lari," bisik Kayn.
Mereka bergerak ke arah pintu keluar. Di tengah kerumunan, Kayn menyentuh sayap salah satu penjaga dan membakarnya sebagai pengalihan.
"Hei, sebelah sini."
Ia meraih sebuah tangan dalam gelap.
Bukan Leila.
Seorang gadis bersurai ungu menjerit ketika ditarik bersamanya.
"Apa yang kau lakukan?!"
Anna memukul kepala dan pipi Kayn menggunakan tas kecil.
Anna tidak hanya marah karena diculik. Ia juga tersinggung karena dua Terra itu tampaknya menganggap gaya rambutnya sebagai tanduk. Baginya, itu penghinaan ganda: reputasinya sebagai putri keluarga yang dikenal publik dipertaruhkan, dan selera fesyennya disalahpahami di tengah pelarian paling tidak elegan yang pernah ia alami.
"Aw! Auw!"
Kayn masih berlari karena belum menyadari kesalahan.
Leila keluar beberapa detik kemudian dan melihat keduanya.
"Nampaknya Anda membawa sebuah Terra lain, tapi bedanya dia memiliki sayap."
Anna membelalak.
"Apa maksudnya 'jangan terpisah'!? Justru kalian yang memisahkanku dari kawananku! Dan apa kalian tidak mengerti kalau aku bukan Terra?! Hei! Lihat aku! Aku punya sayap asli!"
Ia mengepakkan sayapnya.
Leila mendekat dan menyentuh gaya rambut yang menyerupai telinga kucing.
"Ternyata dia benar-benar Gale."
Anna hampir meledak karena kesal.
Kayn akhirnya melepaskan tangannya.
"Kau bukan dia...."
Ia menoleh kepada Leila yang asli.
"O-oke."
Lalu teringat mereka tidak punya kendaraan.
Kayn kembali meraih Anna.
"Di mana letak mobilmu?"
"Kalian dalam bahaya dengan mencoba kabur sambil membawaku seperti ini!"
Sirine darurat meraung sebelum mereka mencapai pagar.
Di dalam gedung, Harvey Lockhart berlari menemui atasannya.
"Koneksi ke rumah sakit terputus. Tak ada jawaban baik dari ambulans atau rumah sakit."
Pimpinannya menatap kekacauan di bawah.
"Naikkan pagarnya."
Tembok darurat dan gerbang menutup seluruh kompleks.
Harvey mengaktifkan broadcast lagi.
"Tes, tes, beneran dah nyala kan ya? YAHALLOOW SEMUA. Mohon maaf atas kepanikannya, namun karena alasan keamanan dan melihat kondisi di rumah sakit yang belum bisa kita pastikan, maka untuk sementara gedung ini dalam kondisi lockdown. Jangan khawatir, para pegawai pemerintah siap membantu, entah mengarahkan ke kamar kecil atau membasmi Terra yang berusaha kabur. Dan kami juga tak takut menggunakan kekerasan."
Ia melambaikan tangan ke kamera.
"Ya segitu dulu! Akan kami kabari bila mendapat sinyal dari rumah sakit dan memastikan tak ada serangan lanjutan yang mengarah kemari. Ciaoo~"
Di luar, Kayn menyentuh tembok.
"Sigil, open my... Door!"
Lingkaran besar terbentuk. Beton meleleh, menciptakan lubang.
"Ayo cepat keluar!"
Leila berlari mengikutinya.
Senjata otomatis muncul dari dinding kompleks.
Harvey melihat dari monitor.
"Sudah jangan buang tenaga kalian mengejar mereka~"
Larasan-larasan itu membidik dengan presisi tidak manusiawi.
Tembakan meledak serempak.
Kayn mendorong Anna menjauh.
Peluru menembus tubuhnya.
"Khuh!"
Darah menyembur dan tubuhnya roboh.
"Ini sangat menyedihkan...."
Orang terakhir yang dilihat Kayn adalah Leila.
Lalu matanya tertutup.
***
Ayane tersenyum lebar melihat kekacauan.
"Heee~ yadaaa~ kowai~"
Puing langit-langit jatuh ke arahnya.
Brak!
Ia menghancurkannya dengan satu tendangan.
"鬱金香."
Tulang-tulang tumbuh dari kulitnya membentuk kelopak pelindung.
Melihat Kayn ditembak, senyumnya berubah semakin lebar.
"彼岸花."
Puluhan tulang setinggi beberapa meter mencuat dari tanah, menghancurkan area dan menepis peluru.
"Ahaha - ahahaha. Padahal aku sudah berperilaku baik, tapi ini yang kudapatkan? Ahahaha, dasar sampah bersampul malaikat."
"向日葵."
Formasi tulang berubah menjadi bunga matahari raksasa. Ratusan proyektil tulang ditembakkan ke arah senjata pemerintah.
Leila membeku ketika darah Kayn mengenai pipinya. Pemandangan tersebut memanggil kembali kematian-kematian lama dari Overrealm—orang-orang yang jatuh agar ia terus hidup, teman jalanan yang tidak sempat diselamatkan, dan rasa muak pada Arcana bernama Death yang membuat nasib seolah terus menempatkannya sebagai saksi.
Ia tidak punya waktu untuk berduka. Jika pengorbanan Kayn diikuti dengan dirinya menyerah, kematian itu hanya akan menjadi satu angka lain di daftar yang terlalu panjang. Maka Leila mengangkat tangan dan memilih menjadikan satu-satunya kekuatan yang selama ini terasa seperti kutukan sebagai alat tawar.
Ia sengaja membuat suaranya setenang mungkin. Dari ucapan Anna sebelumnya, Leila menyimpulkan gadis itu cukup penting untuk membuat pemerintah takut pada skandal bila sesuatu terjadi padanya. Ketidakpastian itu menjadi satu-satunya alat tawar yang masih ia miliki.
Dengung seperti ruang X-ray memenuhi udara. Radiasi tipis menyelimuti tubuhnya.
Leila menunjuk Anna.
"Gale! Kemampuan Arcana saya adalah tipe radiasi. Bila kalian menembak saya dan menangkap saya, saya tak segan membuat gadis berambut ungu ini terkena kanker yang disebabkan radiasi."
Ia menjaga jarak dari Anna, tidak menyentuhnya.
"Biarkan kami keluar dari sini, dan gadis ini akan selamat. Saya tahu gadis di dekat saya ini merupakan orang yang penting. Kalian pemerintah tidak ingin mendapatkan reputasi jelek bila gadis ini saya berikan kanker."
Leila menoleh kepada Anna. "Anda punya kendaraan? Bila iya, saya ingin menumpang."
Kemudian kepada penjaga.
"Sekali suara tembakan terdengar, saya tak ragu melepas radiasi yang menyelimuti saya. Bukakan jalan dan biarkan kami pergi dengan damai."
***
Sion sudah meninggalkan kompleks setelah menerima uang pengembalian.
Ia berjalan sendiri dengan hati tidak tenang.
"Tapi... dia tidak kenapa-kenapa, kan...."
Ia berhenti sendiri, kesal karena pikirannya masih kembali kepada Leila.
"Kenapa aku harus peduli dengannya.... Dia hanya Terra, bukan teman."
Langkahnya berlanjut.
"Uang lebih berharga."
Namun kalimat itu tidak berhasil membuat kenangan pertengkaran mereka hilang.
***
Di rumah sakit, tepat sebelum kegelapan menutup seluruh gedung, Xavi masih menjaga Cordelia dan Yua.
Cordelia memandangnya. "Untuk apa aku ditahan di sini? Ini rumah sakit, kan? Memangnya badanku mau dibedah dan dijual organnya?"
"Untuk apa? Anggota tubuh Terra tidak berarti apa pun di sini, Nona."
Xavi mengambil kantong makanan dan memberikan sepotong roti kepada salah satu Terra yang masih diam di dalam sel.
"Kalian di sini itu diberi kesempatan untuk mengubah takdir kalian, bukan untuk dijadikan daging cincang. Pria itu memiliki segalanya di dalam kepalanya, jadi... saran dariku sih lebih baik kalian menurut saja. Dia adalah pria yang menjanjikan, anyway. Dan setelah semua ini, dia akan mengabulkan keinginan kalian. Aku yakin itu."
Ia bergumam lebih pelan, "Semoga pemikirannya tidak memakan hatinya sendiri."
Xavi membuka sel Yua.
"Ayo berdiri. Ikut aku."
Yua mendongak. "Kakak mau memasakku?"
"Apa?"
"Dagingku tidak banyak lho. Rugi. Mending kakak yang satu lagi, dadanya besar, dagingnya."
Xavi menatapnya tidak percaya.
"Oh, omong-omong, paman - oh bukan, maksudnya masterku sebelumnya. Kalian teman? Kok kakak mau temenan sama om-om muka galak yang hobinya cium orang di bar?"
Xavi berhenti. "Yang kau maksud mastermu... pria yang barusan datang itu?"
Ia baru sadar Yua adalah Terra milik Gio.
Lampu berkedip.
Piano terdengar.
Xavi menoleh ke kanan dan kiri.
"What-"
Udara mendadak lembap. Bulu di lengannya berdiri.
"Kita harus keluar dari sini!"
Ia menarik Yua dan mempercepat langkah.
***
Di lorong lain, Jack membantu Jerlan yang masih kesakitan setelah dihantam Don.
"A-aku gapapa, Jack. Aku bisa jalan sendiri."
Jerlan berdiri dengan kedua kaki sendiri, lalu tertawa pendek seperti orang yang baru lolos dari maut.
"Kkkk~ hahahahaha. Kita selamat. Aku pikir kita bakal mati tadi. Tenang saja, aku masih punya rencana. Aku tahu kita harus ke mana."
Lampu padam.
Jerlan mengangkat kepala.
"A-apa yang terjadi?"
Piano terdengar semakin cepat.
Lorong yang seharusnya memiliki ujung kini tampak memanjang. Tidak ada lagi penjaga. Dari jendela, dunia luar seolah lenyap.
"Cepat! Kita tidak bisa mati di sini!"
Mereka berlari.
***
Di dalam dimensi yang sama, Tae tetap terduduk ketika Hyde dan Gio menghilang dari pandangan.
Potongan tubuh Yuuya yang tadi memenuhi lantai lenyap dalam satu kedipan. Darah dan belatung juga tidak meninggalkan bekas. Lampu ruang pasien menjadi satu-satunya cahaya yang bertahan beberapa detik lebih lama.
Tae mengira obat penenang membuatnya berhalusinasi.
Sebuah tangan menyentuh pipinya.
"████ae! Tae... Kiyose Tae-!"
Tae memicingkan mata.
Sosok itu semakin jelas.
Yuuya berdiri di depannya.
Sosok itu tidak kembali sebagai seseorang yang utuh tanpa bekas. Lutut yang dulu cedera kini digantikan kaki prostetik. Lehernya masih menunjukkan sisa jeratan. Tubuhnya seperti versi kehidupan yang berhasil menghindari beberapa kematian tanpa mampu menghapus jejaknya. Namun sorot matanya tetap sama—tegar, sedikit keras kepala, dan tidak kehilangan cara lama memandang Tae sebagai seseorang yang harus ia jaga.
"Maaf aku harus membangunkanmu... Kita harus pergi dari tempat ini. Terlalu berbahaya. Apa kamu bisa berdiri?"
Ia mengulurkan tangan.
Tae tidak bereaksi.
Ia baru saja melihat bangkai pria yang sama dihancurkan di depan matanya. Kini ia sedang diberi mimpi yang terlalu baik untuk dipercaya.
Yuuya tidak menunggu jawaban. Ia berjongkok, melingkarkan tangan Tae ke lehernya, lalu menggendongnya di punggung.
"Tae-chan, jangan buka matamu apa pun yang terjadi."
Mereka berjalan melewati kaca-kaca jendela yang retak.
Di salah satu pantulan, tubuh Yuuya tidak tampak seperti lelaki yang menggendong Tae. Potongan daging membusuk dipaksa menyatu menjadi sesuatu yang tidak berkepala.
Yuuya memalingkan pandangan.
"Aku tidak bisa menyemangatimu dengan kata-kata atau janji kosong. Aku juga yakin sulit rasanya untuk menghadapi kenyataan. Tapi setidaknya aku tidak ingin kamu merasa bersalah atas apa yang terjadi. Tetaplah... jadi Tae yang kukenal. Kamu adalah jimat keberuntunganku, jadi aku harap sebaliknya kesialanku tidak sampai ikut menimpamu."
Ia menendang pintu yang menghalangi jalan.
Ratusan kupu-kupu mulai mengejar.
"Sebenarnya masih banyak sekali yang ingin kukatakan. Tapi aku tidak berniat gagal lagi kali ini."
Yuuya tahu dirinya sudah mati.
Karena itu ilusi tidak bekerja padanya dengan cara yang sama.
Ia menemukan pintu utama tanpa berputar-putar.
Begitu melangkah keluar, dunia kembali normal.
Lampu jalan menyala. Tidak ada hutan belantara. Anggota mafia masih tertidur atau tidak sadarkan diri di sekitar gedung, seolah tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di sisi lain realitas.
Yuuya menemukan ambulans yang terparkir dan membaringkan Tae di dalamnya.
Ia menatap gadis itu untuk terakhir kali.
"Aniki maupun Kiyose-senpai selalu menyuruhku untuk lebih santai sedikit. Heh, andai mereka tahu waktuku memang bakal sesingkat ini...."
Ia mengusap hidung, mencoba tertawa.
Kemudian mencium kening Tae.
"Semoga takdir merestui kita untuk bertemu lagi."
Pintu ambulans tertutup.
Dalam lelap, Tae memikirkan sesuatu yang tidak sempat keluar dari mulutnya.
Kalau ini hanyalah mimpi, jangan bersikap baik padaku.
Pergilah setelah mataku terbuka, biarkan aku membencimu selayaknya dunia ini bekerja.
Untuk pertama kalinya, wajah Gale buatan itu menunjukkan kesedihan dalam tidurnya.
Jika kita bertemu lagi...
Di luar ambulans, kupu-kupu mengerubungi Yuuya.
Wujudnya berubah.
Kepalanya lenyap. Tubuhnya menjadi cangkang yang lebih mirip sisa kematian daripada manusia hidup.
Anggota mafia yang mulai sadar menembaknya.
Peluru menembus tubuh Yuuya, tetapi setiap proyektil yang menuju ambulans dibelokkan. Sigil terbalik berkilat.
Tekad terakhirnya bertahan meski akal sudah tidak ada.
Langit menghitam.
Petir mulai berkumpul.
***
Di dimensi rumah sakit, Fred dan Felicia mendengar langkah kaki mendekati pintu yang terbuka.
Fred mengaktifkan sigil.
"Awas!"
Seseorang menerjang masuk dan menabraknya.
"R-rindou!?"
Fred terjatuh dengan Rin di atas tubuhnya.
"AAAAAAARKH!!"
Ia mendorong Rin sekuat tenaga dan langsung menjaga jarak.
Felicia menarik tangan kakaknya.
Rin sendiri tampak lebih pucat daripada mereka. Mata kirinya memancarkan cahaya aneh.
"Argh! Kalian tidak tahu apa saja yang kualami demi kalian! Kalian lebih baik punya alasan bagus - dan tempat apa ini!?"
Fred menunjuknya dengan curiga. "Harusnya kami yang bertanya. Kau bisa mulai berhenti berpura-pura jadi orang yang kami kenal."
Felicia ikut panik. "K-k-kak! Tenang dulu! Jangan pernah buat marah changeling! Kalau salah langkah bisa-bisa dia diubah jadi sosok ibu atau malah guru matematika sialan yang menuduhku nyontek pas aku kelas tiga SMP!"
Ia lalu menatap Rin. "Pelacakku mati jadi mana mungkin dia bisa kemari. Dan kalaupun kau memang Rindou, justru harusnya kita yang tanya ini tempat apa! Ini kan duniamu! Dan lagi, kau yang menyuruh kita kemari tahu! Apa kau menjebak kita kemari?"
Sebelah mata Rin berkedut.
"... Aku menyesal mengira kalian ini pintar. Apa otak kalian bergeser selama berada di sini?"
Ia menghela napas lemah.
"Kayaknya aku beneran kerasukan deh. Lebih baik kalian jangan dekat-dekat."
Rin berjalan ke jendela pecah dan duduk di lantai. Ia menatap bola mata raksasa yang menjadi bulan.
"Aku tidak berguna tanpa teknologi. Aku sudah periksa - tidak ada jalan masuk atau keluar. Kita semua bakal mati di sini. Cepat atau lambat."
Nada itu setengah bercanda, tapi keputusasaan di baliknya nyata.
Ponselnya tidak memiliki sinyal. Jam berhenti tepat tengah malam.
Rin jarang membiarkan pikirannya tinggal terlalu lama pada ayah yang tidak pernah ia kenal. Riko hanya mengingat malam yang kabur, alkohol, dan seorang pria yang identitasnya tidak pernah benar-benar dipastikan. Ketika kecil, Rin pernah berharap kisahnya akan berubah menjadi salah satu cerita murahan tentang ayah misterius yang suatu hari kembali. Semakin dewasa, harapan itu diperlakukan sebagai lelucon agar tidak terasa menyakitkan.
Namun di dalam dimensi rumah sakit, pantulan di kaca memunculkan sosok yang bukan dirinya. Bekas luka di kepala—yang diperoleh ketika terjatuh dua belas tahun lalu—mendadak terasa seperti pintu menuju memori yang tidak pernah utuh. Mengapa ia tidak bisa mengingat siapa yang mendorongnya? Mengapa bagian tertentu dari masa kecil seperti dipotong begitu rapi? Jika ayahnya memang tidak pernah hadir, mengapa sebagian hidup Rin tetap berputar pada upaya mencari jejak seseorang yang bahkan mungkin tidak ingin ditemukan?
Untuk pertama kalinya, ketidakmampuan teknologi membuatnya merasa benar-benar telanjang. Tidak ada sinyal, tidak ada peta, tidak ada database yang bisa dibobol. Ia hanya punya tubuh, ingatan yang tidak dapat dipercaya, dan dua Terra yang beberapa jam lalu hampir ia serahkan kepada pemerintah.
Fred memperhatikannya lama.
"Kau memang bukan Rindou."
Rin menoleh dengan kesal, tetapi Fred justru berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
"Kau sudah membuktikan kalau ucapanku salah dengan datang kembali pada kami. Itu saja sudah cukup."
Ia menautkan jari dengan canggung.
"... Aku berbohong tentang satu hal."
Fred mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu menepuk kepala Rin seperti kebiasaannya menghibur Felicia.
"Aku tidak ada niat untuk meninggalkanmu. Kita hadapi semuanya bersama sampai akhir. Oke?"
Rindou tidak segera menjawab. Ia terlalu sibuk berpikir sampai merasakan tepukan Fred di atas kepalanya. Alih-alih menepis tangan itu, Rin meraihnya dan menggenggamnya erat.
Perasaan yang teramat rumit menyesakkan dadanya. Ia belum mampu menepis kebencian tanpa dasar yang terus mengusiknya, tetapi tindakan Fred berhasil mengundang kembali seringai percaya diri pada wajahnya. Ketika menatap sepasang mata emerald itu, Rin melihat ketulusan yang tidak pernah ia temukan pada Gale. Kebaikan Fred sebagai seorang Terra adalah pesonanya—dan Rin sadar ia mampu menghargai keberadaan itu seutuhnya.
"Kau membuatku lembek," godanya.
Rindou menatap cahaya rembulan dengan senyum puas. "Pantas bulannya tampak lebih indah hari ini."
Ia mendekatkan wajah ke Fred dan berbisik, "Jangan pernah terpikir untuk mengingkari janjimu." Setelah itu, Rin mencuri kesempatan mengecup punggung tangan Fred sebelum menariknya berdiri.
Fred menahan napas. Iris keemasan yang berpendar itu tidak memberinya celah untuk memalingkan pandangan. Genggaman mereka terasa lebih bermakna daripada kata-kata yang harus diucapkan. Tidak pernah ada seorang pun yang memperlakukannya seperti ini; tidak pernah ada yang membuatnya merasa pantas dicintai.
Sentuhan di punggung tangannya membuat pipinya panas. Ia masih enggan mengakui dirinya mulai bertingkah seperti orang-orang yang selama ini ia ejek. Apa ia mulai terjangkit virus Gale berbahaya?
Felicia memasang ekspresi protes. Rindou malah tertawa.
"Jangan cemburu. Aku kan juga menyayangimu, adik ipar. Aku juga tidak mau mati sebelum aku pamer pacar ke Bos!"
Fred sontak melepaskan tangannya, wajahnya memerah sampai telinga. Ia berdehem dan berusaha mengembalikan perhatian pada situasi mereka.
Felicia mengedarkan pandangan. "Aku belum pernah punya pacar masa iya harus mati di sini?! Semua domain boss pasti ada jalan keluarnya. Kalau tempat ini looping seperti game horor, kita tinggal cari pola keluarnya!"
Ia menunjuk pintu tempat Rindou tadi muncul. "Kalau dia bisa keluar dari sana, harusnya kita juga bisa masuk dan keluar. Bahkan mungkin ketemu orang lain."
Raut Rindou kembali serius. Tangannya menyentuh sebelah mata yang sebelumnya sempat terasa aneh. Ia mulai terpikir untuk menceritakan apa yang dialaminya setelah pikirannya lebih tenang, tetapi lebih dulu ia membutuhkan satu jawaban.
"Bagaimana kalian awalnya bisa masuk di sini?"
Fred menggeleng pelan. "Kami mencoba masuk dari pagar belakang rumah sakit, dan tiba-tiba di sinilah kami."
Rindou memicingkan mata ke arah pintu yang bentuknya seolah tidak konsisten akibat ilusi optik. Ia mengambil langkah lebih dulu. Fred dan Felicia mengikutinya dengan waspada.
Perubahan suhu datang mendadak. Aroma logam menyengat. Lantai dan dinding bergetar, seolah sesuatu yang sangat besar tengah mengguncang dimensi yang mereka pijak.
Kedua mata Rindou terbelalak.
"MUNDUR!"
Sayap putihnya terbentang. Dalam satu gerakan ia meraih Fred dan Felicia dan melemparkan keduanya menjauh.
Petir menyambar.
***
Pada waktu yang sama, Jack dan Jerlan juga menyaksikan cahaya memenuhi lorong.
Api ledakan datang dari dua arah.
Tidak ada jalan keluar.
Jerlan menoleh kepada Jack dan baru menyadari betapa lelahnya rekannya.
Jack menyerahkan berkas hasil temuan laboratorium.
Jack sudah menggunakan Arcana terlalu banyak. Memar dan luka lama mengurangi koordinasi tubuh, napasnya pendek, dan setiap getaran baru dari rumah sakit membuat penglihatannya semakin sulit dipertahankan. Ketika jalur di depan serta belakang tertutup oleh ledakan, ia menghitung kemungkinan dengan cepat dan sampai pada kesimpulan yang tidak ingin diucapkan.
Dokumen di tangannya lebih penting daripada dirinya jika apa yang mereka temukan benar. Jerlan memiliki jaringan, pengalaman, dan cukup kecerdikan untuk membawa bukti itu pada orang lain. Jack tidak tahu apakah mereka bisa benar-benar mengubah apa pun, tetapi satu kesempatan kecil terasa lebih berharga daripada dua orang mati bersama tanpa meninggalkan informasi.
"In the Darknight sky, Seal Open - Answer my life and give me Victory."
Sigil kecil muncul di depan Jerlan.
Jack tersenyum.
"Lakukan yang terbaik, sobat."
Gelombang kejut mendorong Jerlan menjauh.
"JACK!"
Tubuh Jerlan terlempar melalui kaca. Saat jatuh dari ketinggian ia membuka Arcana dan menciptakan padatan non-logam seperti jalur seluncur, mengurangi kerasnya benturan sampai akhirnya berguling ke semak.
Ia bangkit dengan pakaian penuh debu.
Rumah sakit di belakangnya mulai terbelah.
Jack tidak terlihat.
***
Petir yang sama menghantam bangunan dari luar.
Xavi mengembangkan sayap dan mendobrak jendela sambil memeluk Yua.
"Kau tidak akan kubiarkan mati begitu saja."
Puing besar menghantam sayap kirinya. Arah terbang menjadi tidak stabil.
Xavi membungkus Yua dengan kedua sayap sebelum mereka jatuh ke trotoar.
GUBRAK!
Ia mengerang, tetapi Yua terlindungi.
***
Sambaran berikutnya menghancurkan struktur rumah sakit dari dalam.
Asap hitam menjulang.
Ledakan itu terlalu nyata untuk disebut ilusi.
Seluruh Averion dapat mendengarnya.
***
Rin batuk di tengah asap. Dunia di sekeliling mereka kembali terlihat seperti dunia nyata: api membakar puing, tubuh-tubuh gosong tersebar, dan sirine polisi terdengar dari kejauhan.
Ia melihat sesuatu berdiri tegak tanpa kepala.
"Shigeaki...."
Hanya satu orang yang terlintas dalam pikirannya, seseorang yang pernah membunuh banyak Gale dalam pemberontakan di Haravos.
Rasa sakit kembali menghantam kepalanya. Pandangan Rin bergetar antara nyata dan tidak nyata.
Fred tanpa sadar mencengkeram jaketnya.
Piano masih berbunyi dari tempat yang tidak ada.
Lalu suara lain terdengar.
"Apa yang kalian lihat di dunia ini adalah cerminan dari pemahaman kalian yang terbatas. Kalian tidak pernah berada di tengah bahaya dalam pengawasanku."
Realitas retak seperti cermin.
Api, petir, kabut, dan persepsi yang saling bertentangan terkelupas satu lapis demi satu lapis.
Sosok Sang Kreator muncul di antara reruntuhan. Di atas telapak tangannya, sigil Passion — The Strength berputar, lalu terurai bersama sisa eksistensi Yuuya.
Tedros Alucard menatap mereka dengan teduh, menyapu satu per satu selayaknya kerinduan seorang ayah pada anak-anaknya. Fisiknya berpindah tempat seperti melakukan teleportasi.
Sentuhan tangannya mendarat di bahu Jack. Terra yang seharusnya telah ditelan ledakan dikembalikan ke realita yang masih penuh harapan. Belum waktunya bagi Jack untuk berjumpa dengan kematian.
“Kembali pada jalanmu, sebagaimana takdir telah menantimu sejak awal mula.”
Sosok Tedros menghilang, kemudian tiba di hadapan Rindou yang merintih dalam penderitaan. Ia kini mengerti di mana pasangan Deus X Machina ditanam. Tangannya terulur ke wajah Gale itu, seolah ingin mencongkel bola mata yang diam-diam menggerogoti tubuhnya dari dalam. Tedros melihat sisa-sisa fragmen yang telah menyatu menjadi satu jiwa. Rindou sepantasnya menoreh takdir yang berbeda, tidak mengulang kehidupan yang cacat—dan sepantasnya melupakan apa yang belum waktunya ia pahami.
Telunjuk Tedros mendarat di dahi Rindou. Ia memutar ulang waktu, menghapus memori Rindou selama berada di dimensi ruang dan waktu, termasuk pertemuannya dengan sosok yang memicu kekacauan. Sorot matanya menyiratkan penyesalan ketika menatap ketiganya. Dua Terra yang menjalin keakraban istimewa dengan seorang Gale, baginya, adalah salah satu dampak kerusakan yang fatal.
Dengan begitu, Tedros menghilang lagi.
Terakhir, Antonio.
Sang Kaisar yang sudah diramalkan berdiri di antara kehancuran rumah sakit. Tedros mendekatinya dengan langkah ringan seperti hendak menemui seorang kawan lama. Tidak ada ketegangan, tidak ada kebencian. Justru ada rasa bangga dalam dirinya melihat anak itu tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemimpin. Namun takdir telah menetapkan peran mereka, dan semuanya harus diselesaikan menurut kehendaknya.
Lalu pistol meletus.
Tembakan pertama menembus tengkorak Antonio.
Tembakan kedua memastikan tubuhnya ambruk.
Tembakan ketiga mengakhiri segala kemungkinan perlawanan pada momen itu.
Antonio mati.
Kemudian waktu bergerak mundur.
Darah kembali masuk ke luka. Tulang dan jaringan menyatu. Napas kembali ke paru-paru.
Peluru menembus kepalanya lagi sebelum ia sempat memahami bahwa hidup telah dikembalikan.
Tedros mengulangi kematian itu.
Peluru menembus kepala Antonio lagi sebelum kesadarannya benar-benar pulih. Tubuhnya terhuyung, mati, lalu dipaksa kembali. Rasa sakit tidak berkurang hanya karena waktu dibalik. Darah yang kembali ke pembuluh tidak menghapus ingatan tentang bagaimana rasanya otak ditembus proyektil. Tedros membuat setiap kematian tersimpan sebagai pengalaman, lalu menghadiahkan tubuh yang baru agar pengalaman berikutnya dapat dimulai.
Ia mengulanginya lagi.
Mengulang.
Mengulang.
Mengulang.
Mengulang.
Sebelum Tedros memutar waktu sekali lagi, tangan Antonio bergerak dan mencengkeram leher Sang Pencipta.
"You could never kill me. You already know me too damn well."
Darah mengalir dari pelipis Antonio.
Kemarahan yang muncul bukan hanya tentang rumah sakit atau proyek yang gagal.
Itu adalah kemarahan seorang anak yang merasa doanya tidak pernah dijawab.
Semua yang muncul di kepala Antonio tidak berasal dari satu malam. Ia mengingat ayahnya—orang yang dipandang mulia sementara rumah mereka menjadi tempat yang tidak pernah memberinya rasa aman. Ia mengingat harus mengubur ibunya dengan tangan kecil yang gemetar. Ia mengingat gereja dan lagu-lagu pujian yang dipaksakan kepadanya, seolah mengulang nama Tuhan cukup untuk mengubah apa yang terjadi ketika pintu ditutup.
Ia mengingat pakaian yang dipilih ayahnya, sentuhan yang tidak pernah ia inginkan, dan keinginan mati yang berkali-kali digagalkan oleh sesuatu yang disebut takdir. Baginya, keabadian hidup yang dipaksakan bukan rahmat. Itu penjara.
Kemudian Bianca datang. Untuk pertama kalinya Antonio percaya bahwa mungkin Tuhan akhirnya melihatnya. Bianca membunuh sumber penderitaannya dan membuat dunia terasa dapat dikendalikan. Ia hampir menyebut semua itu jawaban doa. Lalu Bianca mati ketika melahirkan Pearl, dan keyakinan itu retak lagi. Pearl menjadi satu-satunya bagian dari Bianca yang masih hidup, satu-satunya hal yang membuat Antonio bersedia bertahan ketika dirinya sendiri tidak pernah meminta umur panjang.
Maka ketika Tedros berdiri di hadapannya, Antonio tidak melihat Pencipta. Ia melihat makhluk yang selama hidupnya selalu mengambil keputusan tentang kapan dirinya boleh mati, siapa yang boleh tetap berada di sisinya, dan berapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung sebelum disebut cukup.
Kini ia percaya Tedros hendak mengambil Pearl juga.
"Quit playing God when you were never in control to begin with."
Antonio menyerang.
Ia memukul, mencekik, dan menghancurkan wajah sosok yang ia yakini sebagai Tedros. Tulang pipi retak. Rahang bergeser. Darah menggenang di tangannya.
Sampai persepsi itu runtuh.
Yang berada di bawah tangannya bukan Tedros.
Kesadaran itu tidak datang sebagai perubahan bertahap. Satu detik Antonio masih merasakan tulang wajah Tedros retak di bawah pukulannya; detik berikutnya warna rambut, bentuk tubuh, dan wajah yang hancur di tangannya menyusun identitas yang ia kenali terlalu baik. Pearl.
Tidak ada kesempatan untuk menyalahkan refleks atau panasnya pertarungan. Darah putrinya berada di jemari yang selama ini ia gunakan untuk melindungi. Tedros tidak perlu membunuh Pearl dengan tangannya sendiri. Ia hanya perlu membuat Antonio percaya bahwa musuh berada di tempat anaknya berdiri, lalu menunggu cinta dan amarah berubah menjadi senjata yang sama.
Pertanyaan itu jauh lebih kejam daripada ratusan peluru. Tedros tidak menuntut jawaban; ia hanya ingin Antonio hidup cukup lama untuk terus mendengarnya di dalam kepala.
"You're right. I cannot kill you. But when the time comes, I will ensure your death is nothing short of agonizing."
Tedros menghela napas.
Ia menggenggam rahang Antonio dan memaksa mata mereka bertemu.
"Tell me, Antonio - whose hands truly took Pearl's life?"
Ia menepuk pipi Antonio pelan, sebuah gestur yang lebih menghina daripada pukulan.
Lalu berdiri.
Tubuh Tedros mengurai menjadi kupu-kupu biru.
"You are still allowed to pray that our paths do not cross too soon."
Ia hilang.
Bukan pergi ke tempat lain.
Hanya tidak lagi memilih terlihat di sana.
***
Di jalan yang menghadap reruntuhan rumah sakit, Yinxia menghentikan supercar-nya.
Sebelum ledakan, suasana hatinya sudah buruk. Pajak lima puluh delapan persen menggerus keuangan sampai memaksanya menjual sebagian aset. Program pembelian kembali Terra pemerintah terasa seperti monopoli yang tidak elegan.
Yinxia tidak sedang memburu Helvetica ketika berada di jalan. Chip yang ditanam di dalam berlian masih memberinya keyakinan bahwa Terra itu bisa ditemukan kapan saja. Dalam penilaiannya, memburu sekarang hanya akan memberi terlalu banyak nilai pada sebuah barang yang sedang mencoba membuat dirinya tampak langka. Ia belum tahu bahwa di terowongan lain malam itu, Lyod telah menghancurkan berlian tersebut sampai menjadi debu.
Yang lebih mengganggunya adalah pajak, penjualan aset, dan kebijakan pemerintah yang mengambil kembali Terra setelah warga dipaksa membayar begitu mahal. Bagi Yinxia, itu bukan moralitas. Itu monopoli buruk yang dikemas sebagai stabilisasi. Dan jika ada satu hal yang tidak bisa ia maafkan, itu bukan kekejaman—melainkan sistem yang tidak elegan sekaligus tidak kompeten.
Ketika rumah sakit runtuh, Yinxia keluar dari mobil dan membuka payung.
"Open the seal, unleash the unbreakable diamonds of the Empress's reign."
Lapisan berlian membungkus payung. Puing-puing memantul darinya.
Tidak jauh, Xavi jatuh bersama Yua.
Yinxia menghampirinya dan menodongkan ujung payung.
"Aku mengenal salah satu atasanmu. Jadi jangan berpikir untuk memberikan jawaban asal-asalan. Jelaskan."
Xavi merapikan poni dan dasi meski sayap kirinya jelas terluka.
"Apa yang harus aku katakan? Eumm... pabrik popcorn baru saja meledak?"
THUK!
Ujung payung menghantam kepalanya.
"Kapasitas otakmu juga seukuran popcorn, kurasa."
Xavi meringis. "Aw... ugh. Pokoknya aku jelaskan nanti di perjalanan, Nona. Kita harus menjauh dari tempat ini terlebih dahulu."
Ia membuka pintu mobil Yinxia dan membujuk Yua dengan cokelat.
"Ayo masuk."
Yinxia hampir tidak percaya ada orang yang berani mengambil kemudinya, tetapi retakan aspal semakin melebar.
Ia akhirnya duduk di kursi penumpang, mengayunkan payung sampai ujung tajamnya menekan rahang Xavi.
"Ambil rute berbalik. Aku akan mengajukan pertanyaan sekali lagi. Dan kau akan menjawab dengan benar."
"Akh, t-tentu Nona."
Xavi membawa mobil menjauh.
"Biar saya luruskan sebentar," katanya sambil tetap mengemudi. "Secara teknis rumah sakit itu tidak disewakan. Rosenkrantz memiliki saham yang sah atas kepemilikannya. Tapi mengenai kejadian yang barusan terjadi di sana, sepertinya itu di luar kuasa kami. Dan mengenai Terra yang Anda beli, para mafia juga sedang mencari keberadaannya. Saya minta maaf atas tindakan pemerintahan yang memeras Anda."
Yinxia mendengus.
"Hari yang tidak elegan, bukan? Terra-ku hilang, pemerintah memerasku... dan sekarang aku malah 'disandera' mafia bersama Terra-nya yang seperti hamster ini. Tragis sekali, kan?"
Mobil mendekati distrik pemerintahan yang juga penuh kekacauan.
Di trotoar, Yinxia melihat seorang gadis pirang berjalan sendirian.
"Menepi. Sekarang."
Xavi mengerem.
Yinxia membuka pintu dan mengaitkan gagang payung ke kerah Sion.
"AAAAAA! PENCULIK!"
Sion terseret masuk dan jatuh ke pangkuan Yinxia.
Ia membuka mata.
"Lady Yinxia!? Kenapa Anda di sini?"
Yinxia tersenyum. "Lama tak jumpa, Adik terkecil. Kamu tidak datang ke pertemuan rutin Armonia di Venere, tahu? Aku sangat terpukul akan itu, sampai tidak sadar tiba-tiba aku diculik mafia."
"Maaf."
Xavi melirik dari kursi pengemudi.
"Anda pasti Nona Sion. Saya Xavi Elinas. Nama Anda ada di database kami. Biar kutebak... pasti Anda baru saja menyerahkan Terra milik Nona ke pemerintahan, bukan?"
Sion terdiam.
Pikirannya kembali kepada Leila.
Masalah itu ternyata belum selesai di dalam kepalanya.
***
"Kita? Kita masuk lewat tembok," jawab Felicia, sedikit tidak jelas. Rindou mengambil langkah lebih dulu menuju pintu yang tadi mereka bicarakan. Felicia mengikutinya.
Suhu di ruangan mendadak meningkat drastis. Fred tersentak dan segera menghentikan langkah Felicia. Getaran merambat di pijakan mereka, sementara gemuruh dari balik pintu misterius semakin kuat.
"MUNDUR!"
Rindou bergerak lebih cepat daripada keduanya. Sepasang sayap putihnya terbentang dan ia menerjang Fred serta Felicia, menarik mereka menjauh tepat ketika cahaya kilat memenuhi pandangan.
Tubuh mereka terhempas. Asap membumbung, menusuk paru-paru dan membuat pandangan kabur. Ketika Fred kembali mampu melihat, rumah sakit yang sebelumnya berdiri kokoh telah berubah menjadi reruntuhan yang terbakar. Tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak di antara puing, sementara suara sirine polisi menggema dari kejauhan.
Baru pertama kalinya Frederic melihat Rindou membentangkan sayapnya setelah lelaki itu pernah mengaku lupa caranya terbang—dan kali ini ia melakukannya untuk melindungi Fred dan Felicia. Tanpa sadar, Fred mencengkeram erat jaketnya.
Ingatan lain ikut menyerbu. Fred pernah menyaksikan eksekusi di tempat lelang sebagai peringatan bagi Terra yang memberontak. Ia masih mengingat seorang gadis yang berteriak memohon agar seseorang yang berharga baginya tidak direnggut, dan yang paling mengusiknya adalah Rindou yang saat itu berdiri menikmati pertunjukan tersebut dengan tatapan dingin.
Hari-hari setelahnya berjalan lambat. Mimpi buruk datang. Pada suatu malam, Fred bahkan mendapati dirinya mencekik Rindou yang tengah tertidur. Emosinya lepas kendali; ia yakin hidupnya akan berakhir begitu tertangkap. Namun Rindou justru mengangkat tangan, menyeka air mata Fred dengan tatapan penuh simpati, lalu mereka sepakat menganggap kejadian itu tidak pernah terjadi.
"Rindou!"
Reaksi lelaki itu menyadarkan Fred dari lamunannya. Di kejauhan, ia melihat seseorang bersayap satu berusaha meninggalkan lokasi bersama seorang Terra kecil. Yua. Felicia pasti juga menyadarinya, tetapi mereka tidak punya waktu untuk mengejar. Polisi akan segera memenuhi area dan para Terra yang masih berada di sana bisa dengan mudah dituduh sebagai penyebab kekacauan.
Fred menarik napas dalam. Matanya jatuh pada satu-satunya ambulans yang masih utuh.
Ia membopong Rindou. Berat tubuh Gale itu membuat langkahnya goyah, tetapi Fred memaksa dirinya terus bergerak. Setelah mencapai kendaraan, ia menatap Felicia dengan kepercayaan diri yang jarang terlihat darinya.
"Sudah siap untuk melawan last boss di domain kali ini?"
Felicia mengerjap, lalu seringai kembali muncul.
"Tentu saja! Pro-player Feliz_proxy siap beraksi!"
Felicia memanjat ke kursi pengemudi. Tanpa mereka sadari, ambulans itu sudah membawa penumpang lain—Tae Kiyose, yang tertidur setelah diselamatkan Yuuya.
Mesin menyala. Felicia menginjak pedal gas dan membawa mereka menjauh dari reruntuhan, harus menghindari polisi dan pemerintah yang mulai bergerak menutup kawasan. Alih-alih membuatnya gentar, situasi itu justru terasa seperti satu tahap permainan lain yang harus mereka lewati.