Keberadaan Riven pertama kali diketahui melalui perubahan daftar pasangan wajib. Namanya muncul bersama Sonata Acerbi, tetapi tidak seorang pun di sekitar Sonata mengenalinya. Karena Riven belum terlihat secara langsung, kemunculan namanya menimbulkan dugaan bahwa fasilitas Malver menyimpan kelompok subjek lain yang dapat dimasukkan ketika seseorang tersingkir. Sonata dan Riven belum pernah berbicara ataupun membangun kedekatan; hubungan mereka sampai saat ini hanya merupakan penetapan administratif dari sistem.
Riven kemudian dipindahkan ke sebuah ruangan putih bersama para subjek lain. Ia muncul dalam kilatan cahaya dan langsung bersandar malas pada dinding, seolah pemindahan antarruang bukan pengalaman yang cukup mengesankan baginya. Zion segera memanggil namanya dan mempertanyakan hubungannya dengan hilangnya Antares. Riven membalas dengan santai dan provokatif karena ia sendiri tidak mengetahui alasan namanya dipersoalkan. Ketika melihat daftar pasangan terbaru dan menemukan nama Leah, ketenangannya berubah menjadi kesal. Ia tidak mengenal Leah dan tidak menerima alasan mengapa dirinya harus diisolasi bersama seseorang yang sama sekali asing.
Hubungan Riven dengan Sonata dan Leah belum dapat disebut sebagai hubungan pribadi. Keduanya merupakan pasangan yang dipilihkan oleh sistem pada waktu berbeda. Sonata hanya mengetahui namanya, sedangkan Riven bahkan tidak mengenal Leah ketika membaca daftar terbaru. Pergantian tersebut memperlihatkan bahwa Malver dapat mengubah susunan tanpa mempertimbangkan apakah para subjek pernah bertemu, mempunyai kepercayaan, atau menyetujui hubungan yang dipaksakan. Karena itu, belum ada dasar untuk menyimpulkan adanya ketertarikan Riven kepada Sonata maupun Leah.
Ikatan yang paling mendekati ketertarikan pribadi justru terbentuk dengan gadis berambut merah dari kelompok sebelumnya. Senyum provokatif gadis itu berhasil menarik perhatian Riven, dan suatu resonansi mulai terbentuk di antara mereka sebelum pemindahan paksa memisahkan keduanya. Identitas gadis tersebut belum diketahui, begitu pula sifat hubungan mereka. Namun, cara Riven mengingatnya segera setelah tiba di tempat baru menunjukkan bahwa ia meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada pasangan-pasangan yang sekadar tercantum dalam sistem.
Pertemuan Riven dengan Zion berlangsung dalam suasana saling memancing. Zion mencurigai kemunculannya sebagai bagian dari pergantian subjek dan terus menggali informasi mengenai kelompok sebelumnya. Riven tidak memberi jawaban lengkap mengenai kekacauan yang dibuatnya, tetapi mengakui bahwa Malver memindahkannya secara paksa. Keduanya sama-sama menggunakan ejekan untuk mempertahankan kendali percakapan. Zion melihat Riven sebagai petunjuk atas cara kerja sistem, sedangkan Riven melihat Zion dan yang lainnya sebagai kumpulan orang bermasalah yang mungkin menerima perlakuan serupa dengannya. Belum terdapat kepercayaan di antara mereka, tetapi percakapan itu membuat masing-masing memahami bahwa pemindahan dan penggantian tidak hanya terjadi pada satu kelompok.
Mikado memperlakukan Riven dengan keakraban sepihak. Ia segera menilainya sebagai orang kaya, menyuruh Zhigalkovich menggeledahnya, lalu dengan santai menggunakan tubuh Riven sebagai tempat bersandar. Menariknya, Riven tidak memberikan reaksi keras terhadap kelancangan Mikado. Hal ini belum cukup untuk disebut pertemanan, tetapi menunjukkan bahwa Riven dapat menoleransi sentuhan atau tingkah provokatif apabila ia tidak menganggap pelakunya sebagai ancaman serius. Sikap santai Mikado juga lebih dekat dengan suasana kelompok lama yang disukai Riven daripada kepanikan para subjek lain.
Hubungannya dengan Zhigalkovich langsung dimulai melalui pelanggaran batas. Zhigalkovich mendekat dari belakang dan menggeledah tubuhnya demi mencari barang berharga. Riven mengetahui posisinya melalui suara tanpa perlu menoleh, kemudian mengirimkan frekuensi tak terdengar ke telinga bagian dalamnya. Zhigalkovich kehilangan keseimbangan, mengalami mual dan vertigo, lalu tidak mampu berdiri dengan benar. Tindakan tersebut menjadi peringatan bahwa Riven tidak akan membiarkan tubuh atau kepemilikannya diperlakukan sesuka hati. Sampai saat ini, hubungan mereka bersifat bermusuhan dan dibangun dari penghinaan pertama yang langsung dibalas dengan pelumpuhan.
Belze mendekati Riven setelah mendengar bahwa ia berasal dari kelompok lain. Desakan Belze segera mengaktifkan kewaspadaan Riven karena postur dan tekanannya terasa jauh lebih berbahaya daripada gangguan Zhigalkovich. Riven menolak diperintah, mendorong Belze untuk menciptakan jarak, dan memperingatkannya agar tidak mencari masalah. Meskipun demikian, ia tetap memberikan satu informasi yang dapat dipastikan: kelompok sebelumnya tidak berada di ruangan tersebut. Belze akhirnya menyadari bahwa Riven memang tidak mengetahui lokasi mereka dan menghentikan konfrontasi. Pertemuan itu tidak menghasilkan kedekatan, tetapi memperlihatkan bahwa Riven masih dapat memberikan jawaban jujur setelah batas pribadinya dihormati.
Kehadiran Riven membuka bukti bahwa eksperimen Malver tidak terbatas pada kelompok yang selama ini terlihat. Ia datang membawa ingatan mengenai subjek lain, kehidupan kelompok yang berbeda, dan hubungan yang telah mulai berkembang sebelum diputus secara sepihak. Namun, ia belum menunjukkan niat untuk segera menjadi penyelamat, pemimpin, ataupun anggota kelompok yang patuh. Sampai akhir Adegan 10, Riven masih berdiri sebagai pendatang yang dipaksa masuk, melindungi otonominya sendiri, dan menilai apakah orang-orang di sekelilingnya layak dianggap sekutu, hiburan, atau ancaman.
Dorongan Riven yang paling jelas adalah merebut kembali kendali atas hidup dan penempatannya. Ia ingin mengetahui alasan Malver memindahkannya, mengapa susunan pasangannya berubah, dan mengapa ia harus menerima isolasi bersama orang yang tidak dikenalnya. Penolakannya bukan hanya disebabkan oleh ketidaknyamanan, melainkan oleh kebencian terhadap keadaan ketika pihak lain dapat mengatur keberadaan, hubungan, dan tubuhnya tanpa persetujuan.
Riven juga terdorong untuk menjaga harga diri serta memastikan tidak ada orang yang menganggapnya mudah ditekan. Ia merespons penghinaan, sentuhan tanpa izin, dan ancaman fisik dengan cara yang menegaskan kemampuannya. Baginya, mempertahankan jarak dan menunjukkan kekuatan merupakan sarana untuk menjaga otonomi di lingkungan yang sejak awal dirancang untuk merampas pilihan pribadi.
Kebosanan menjadi dorongan lain yang cukup kuat. Riven mencari warna, rangsangan, permainan, dan orang-orang yang mampu membalas provokasinya. Ia bahkan dapat melihat kemungkinan perkelahian sebagai hiburan apabila tidak ada hal lain yang menarik. Kecenderungan ini membuatnya rawan menciptakan masalah, tetapi juga dapat mendorongnya menyelidiki sistem atau ikut dalam tindakan berisiko apabila keadaan tersebut menawarkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar menunggu.
Di balik semua itu, masih ada keinginan yang belum ia ucapkan secara langsung untuk memahami nasib kelompok sebelumnya dan hubungan yang terputus dengan gadis berambut merah. Belum dapat dipastikan apakah ia akan berusaha kembali kepada mereka, tetapi kejengkelannya ketika resonansi tersebut diputus menunjukkan bahwa pemindahan itu menyisakan urusan yang belum selesai. Perkembangan Riven selanjutnya dapat bergerak dari sekadar mencari kesenangan menuju upaya mempertahankan hubungan yang benar-benar dipilihnya sendiri.
Riven Kael merupakan pemuda necis berambut hijau yang pernah mengenal lingkungan laboratorium di Staircase. Ruang-ruang steril bukan sesuatu yang asing baginya, meskipun tempat pengurungan Malver tetap terasa lebih kosong dan membosankan dibandingkan laboratorium yang pernah ia lihat. Sebelum ditempatkan bersama kelompok yang dikenal saat ini, Riven berada dalam kelompok lain yang menurutnya jauh lebih berwarna dan menyenangkan. Ia mengaku mereka dapat bersenang-senang tanpa terlalu memikirkan keadaan, sampai suatu kekacauan kecil yang dibuatnya menyebabkan Malver memindahkannya secara paksa.
Pemindahan tersebut terjadi tanpa penjelasan dan memutus kedekatannya dengan seorang gadis berambut merah yang memiliki senyum provokatif. Riven mulai tertarik kepadanya ketika suatu getaran resonansi terbentuk di antara mereka, tetapi hubungan itu belum sempat berkembang sebelum ia dipindahkan. Belum diketahui apakah resonansi tersebut merupakan kecocokan emosional, respons dari kemampuan mereka, atau bagian lain dari manipulasi Malver.
Nama Riven pertama kali muncul pada daftar pasangan wajib bersama Sonata Acerbi, bahkan sebelum sebagian besar subjek pernah melihatnya. Sonata sendiri tidak mengenal Riven, sedangkan Axel menilai kemunculan nama baru tersebut sebagai pertanda bahwa subjek yang tersingkir dapat digantikan. Ketika Riven kemudian muncul secara langsung, susunan pasangan telah berubah dan namanya dikaitkan dengan Leah Pereshati, seseorang yang juga sama sekali tidak dikenalnya. Waktu kemunculannya yang berdekatan dengan hilangnya Antares membuat Zion mencurigai Riven sebagai pengganti yang sengaja dimasukkan ke dalam sistem, meskipun Riven tidak menunjukkan bahwa ia mengetahui apa pun mengenai Antares maupun alasan di balik pergantian tersebut.
Riven mempunyai kemampuan yang berkaitan dengan suara, frekuensi, dan resonansi. Ia mampu memahami posisi seseorang melalui pendengaran sehingga tidak harus menoleh untuk mengetahui gerakan yang terjadi di belakangnya. Ia juga dapat menghasilkan gelombang berfrekuensi tak terdengar dan mengarahkannya secara presisi ke organ keseimbangan di telinga bagian dalam. Serangan tersebut dapat menyebabkan vertigo berat, mual, kehilangan orientasi, dan ketidakmampuan untuk berdiri tanpa harus menimbulkan benturan fisik yang terlihat. Ketepatan sasarannya menunjukkan bahwa kemampuannya bukan sekadar menghasilkan suara keras, melainkan mengendalikan karakteristik dan tujuan frekuensi secara sadar.
Riven bersikap santai, malas, percaya diri, dan mudah dilanda kebosanan. Ia terbiasa menyandarkan tubuh, berbicara dengan suara datar, serta menanggapi tekanan dengan alis terangkat atau senyum miring yang provokatif. Sikap tenangnya bukan tanda kepasifan. Ketika keadaan tidak lagi menghibur atau kebebasannya diganggu, rasa santai itu dapat berubah dengan cepat menjadi kejengkelan, ketidaksabaran, dan penolakan terbuka.
Ia memiliki kebanggaan diri yang tinggi dan tidak ingin terlihat dapat diperintah, ditekan, atau diperlakukan sebagai sasaran mudah. Bahkan ketika berhadapan dengan seseorang yang secara fisik lebih besar dan tampak berbahaya, Riven sengaja mempertahankan tatapan menantang agar lawannya tidak merasa memiliki kuasa atas dirinya. Ia tidak selalu mencari pertarungan, tetapi tidak keberatan memulai atau melanjutkannya apabila konflik tersebut dapat mengusir kebosanan. Ancaman yang dianggap sungguh-sungguh akan ditanggapinya dengan cepat, terukur, dan tanpa banyak peringatan.
Ucapan Riven mengenai “orang-orang miskin” memperlihatkan sisi arogan dan kesadarannya terhadap status sosial. Penampilannya yang rapi serta cara Mikado langsung mengenalinya sebagai orang kaya memperkuat kesan bahwa ia terbiasa dengan kenyamanan tertentu dan memandang rendah keadaan yang tidak sesuai dengan standarnya. Namun, keangkuhannya tidak membuatnya sepenuhnya kehilangan kemampuan membaca situasi. Setelah mendengar Zion dan memperhatikan keadaan kelompok, Riven segera menyimpulkan bahwa mereka bukan sekadar orang asing yang kacau, melainkan kelompok bermasalah yang kemungkinan mengalami pemindahan paksa serupa dengannya.
Riven juga cukup terkendali dalam menggunakan kekuatan. Ketika Zhigalkovich menggeledah dan menyentuhnya tanpa izin, ia tidak membalas dengan serangan yang mematikan. Ia memilih melumpuhkan keseimbangan tubuhnya dan menghentikan gangguan tersebut secara efisien. Sikap ini menunjukkan bahwa Riven dapat kejam dan mempermalukan lawannya, tetapi tidak serta-merta membunuh orang hanya karena merasa terganggu. Ia lebih suka membuktikan bahwa dirinya bukan sasaran yang aman daripada menghabiskan tenaga untuk kekerasan yang tidak diperlukan.
Di balik keangkuhan dan sikap tidak pedulinya, Riven menunjukkan bahwa ia masih mampu tertarik kepada orang lain. Ingatannya terhadap gadis berambut merah tidak hanya berpusat pada penampilan, tetapi juga pada resonansi yang mulai terbentuk di antara mereka. Kejengkelannya setelah dipindahkan memperlihatkan bahwa hubungan yang terputus itu mempunyai arti, meskipun Riven belum memperlihatkan kerentanan tersebut secara terbuka. Ia cenderung menyamarkan ketertarikan, kebingungan, dan rasa kehilangan melalui keluhan, provokasi, serta sikap seolah-olah semua hal hanya persoalan hiburan.